AYOJAKARTA.COM – Usai penetapan nomor urut peserta pemilu diumumkan, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD menyampaikan pidato.
Dalam pidato tersebut, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD mengulas sejumlah polemik publik terkait dengan situasi politik.
Ganjar Pranowo-Mahfud MD bahkan sempat meminjam istilah yang sebelumnya digunakan Presiden Joko Widodo saat HUT Partai Golkar, yakni Drama Korea atau Drakor.
“Beberapa hari ini kita sedang disuguhkan acara drakor yang sangat menarik, drama-drama itulah yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” ungkap Ganjar saat berpidato.
Dalam pidatonya Ganjar menambahkan, segala dinamika yang terjadi telah mendatangkan banyak keresahan di multi kalangan.
Tokoh agama, budayawan, intelektual, dan praktisi di beragam bidang menangkap fenomena politik yang berkembang sebagai suatu keresahan.
Sejak adanya anggapan hubungan yang renggang antara Jokowi dengan PDIP, aksi berbalas pernyataan mulai kian banyak bermunculan.
Menyikapi pidato yang disampaikan Ganjar-Mahfud terkait drakor, cawapres dari Prabowo Subianto memberikan tanggapan.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Bentuk Satgas Laporan Aduan Kecurangan Pemilu, Ternyata untuk Tujuan Ini
Gibran sependapat jika situasi yang akhir-akhir ini banyak mencuat ke tengah masyarakat dipenuhi dengan drama-drama.
Meski tidak secara jelas dan lugas menyampaikan alasan dibalik pernyataannya, Gibran hanya berkomentar wis setuju.
Sehubungan dengan penggunaan istilah drakor yang berarti drama Korea, Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yuda memberi tanggapan.
Menurut Hanta, drakor yang lebih spesifik untuk momen menjelang Pemilu bukan saja bisa dimaknai drama Korea tetapi juga Drama Elektoral.
Aksi saling sindir yang ditunjukkan Ganjar Pranowo, menurut Hanta bisa dimaknai sebagai salah satu bentuk ungkapan isi hati koalisi.
Adanya kegundahan yang dirasakan oleh para pengusung koalisi, menurut Hanta menjadi pencetus lahirnya aksi saling sindir.
“Yang kedua adalah menegaskan posisi, dan yang ketiga adalah membangun persepsi,” ungkap Hanta.
Sebagai bentuk penegasan posisi, Hanta menilai pernyataan Ganjar tersebut merupakan bentuk kesiapan dalam mengikuti proses kontestasi.
“Mas Ganjar sudah siap bertarung tanpa Jokowi, kalau dulu mempersepsikan bersama Pak Jokowi, sekarang berhadap-hadapan,” imbuhnya.
Sedangkan analisa terkait dengan membangun persepsi, Hanta menilai aksi saling sindir dimaksudkan sebagai bagian dari mencari dukungan publik.
Selain karena pemenang dalam politik ditentukan oleh persepsi, aksi saling sindir juga dimaksudkan sebagai penentu kemenangan.
“Siapapun yang memenangkan persepsi bisa memenangkan persepsi publik, dialah pemenang dalam pertarungan politik,” tambah Hanta.
Sebagaimana unsur dalam drama, Hanta menilai ada tiga jenis watak yang biasanya selalu terlibat, antagonis, protagonis, dan tritagonis.
“Tritagonis itu penengah, katakanlah itu kubunya Anies,” pungkas Hanta dikutip Ayojakarta pada Kamis, 16 November 2023 dari kanal Youtube Kompas TV.