AYOJAKARTA.COM - Sampai dengan Oktober 2023, jumlah penemuan kasus Monkeypox atau Cacar Monyet di Indonesia tercatat mengalami peningkatan.
Selain karena kurangnya kepedulian masyarakat, peningkatan kasus Monkeypox atau Cacar Monyet juga terjadi karena masih minimnya pemahaman.
Guna menekan dan meminimalisir peningkatan kasus, Kementerian Kesehatan terus melakukan upaya edukasi terkait pencegahan Monkey Pox atau Cacar Monyet.
Cacar monyet merupakan salah satu jenis virus yang ditularkan dari hewan kepada manusia serta dapat menular ke sesama manusia.
Selain kontak langsung dengan penderita Mpox, salah satu penyebab yang mempercepat penyebaran kepada manusia adalah melalui hubungan seksual.
Hal tersebut diketahui dari hasil pengamatan yang dilakukan Kementerian Kesehatan kepada para pasien yang telah terkonfirmasi Mpox.
Dari seluruh pasien, diketahui sebanyak 64 persen pasien berada pada rating usia antara 25 hingga 29 dan 36 persen di kisaran usia 30 hingga 39 tahun.
Karenanya, upaya pencegahan dan penyebaran kasus Mpox dapat dilakukan dengan bersikap setia atau tidak bergonta-ganti pasangan.
Kontak langsung dengan penderita Mpox serta perilaku seksual yang tidak sejalan aturan, menjadi penyebab dominan cepatnya penyebaran.
Baca Juga: Status Gibran di PDIP Masih Tak Jelas, Pengamat Politik Sebut Strategi Politik, Apa?
Masyarakat juga perlu memahami bahwa cacar monyet berbeda dengan cacar air, sehingga perlu penanganan secara medis saat mengalami gejala.
Sebab orang yang terkena Mpox akan muncul ruam seperti halnya yang terjadi pada pasien dengan cacar air.
Selain itu, seseorang yang mulai terjangkit Mpox juga akan mengalami demam tinggi hingga melebihi 38°C yang disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening.
Nyeri otot, sulit menelan, diare serta peradangan pada bagian genital juga dialami oleh penderita Mpox.
Sehubungan dengan meningkatnya penyebaran kasus Mpox, Epidemiolog asal Griffith University memberikan tanggapan.
Menurut Dicky Budiman, situasi yang saat ini sedang dihadapi Indonesia terkait Mpox sedang dalam fase Emergency Outbreak atau Kejadian Luar Biasa.
Karenanya, setiap penemuan kasus baru perlu dilakukan upaya yang lebih ketat agar bisa memperkecil peningkatan kasus.
Menyikapi peningkatan yang cepat, lebih lanjut Dicky menilai perlu dilakukan upaya tracing atau penelusuran dan karantina.
Penelusuran yang dilakukan, menurut Dicky bukan saja berfokus pada area DKI Jakarta melainkan juga ke wilayah lain di Indonesia.
Terutama di daerah-daerah yang menurut Dicky menjadi tempat atau kelompok paling berisiko tinggi seperti LGBT, Transgender dan Biseksual.
“Jadi jangan sampai menunggu ledakan kasus,” ungkap Dicky seperti dikutip Ayojakarta pada Minggu, 5 November 2023 dari kanal YouTube Metro TV. ***