AYOJAKARTA.COM – Tahun 2023 dapat disebut sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah. Cuaca ekstrim yang lebih panas dari biasanya pun dikeluhkan oleh masyarakat.
Karena adanya perubahan suhu panas ini, menimbulkan banyak sawah yang kekeringan di berbagai daerah, hingga mengakibatkan produksi pertanian menurun.
Copernicus Climate Change Service Uni Eropa telah mencatat bahwa tahun 2023 diprediksi akan menjadi tahun terpanas, setidaknya sejak tahun 1940.
Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrem, Ini 6 Potensi Penyakit yang Bisa Terjadi
Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa perubahan Iklim ini terjadi karena adanya kombinasi dengan pola cuaca El Nino tahun 2023.
Ilmuwan pun menyatakan pun menyatakan bahwa perubahan iklim dan pola cuaca El Nino dapat meningkatkan suhu di permukaan air di bagian Timur dan Tengah Samudera Pasifik.
Dikutip Ayojakarta.com dari Republika.com, berdasarkan catatan Copernicus yang dimulai pada tahun 1940 menunjukkan catatannya dari mulai bulan Januari sampai September adalah 0,52 derajat Celcius.
Baca Juga: Suhu di Jakarta sangat Panas, Kapan Hujan Turun? Ini Penjelasan BMKG
Suhu ini dinilai lebih tinggi dari pada rata-rata sejak 1990 sampai 2020. Suhu ini lebih tinggi derajat Celcius dari periode 1890 sampai 1990 pada pra industry.
Bugges menggambarkan tahun 2023 sebagai tahun yang “ekstrem” , ai pun menyebutkan bahwa akan menjadi tahun terpanas dengan suhu 1,4 derajat Celcius di atas suhu rata-rata.
Meski demikian, dengan meningkatnya perubahan iklim tersebut bukan berarti dunia ada di ambang batas.
Baca Juga: Fenomena El Nino Mempengaruhi Suhu Panas di DKI Jakarta dan Sekitarnya, Begini Penjelasan BMKG
Pemanasan jangka panjang yang diterapkan sebesar 1,5 derajat Celcius, yang diterapkan oleh para pemimpin dunia dalam perjanjian Paris 2015.
Copernicus sebelumnya telah mencatat bahwa tahun terpanas ada pada 2020 dan tahun 2016. Dengan suhu global yang mencapai 1,25 derajat Celcius pada masa pra industry.
Analisis yang dilakukan oleh Copernicus berdasarkan dari pengukuran satelit, kapal, pesawat, serta stasiun cuaca.
Baca Juga: 5 Cara Tidur Nyenyak Saat Cuaca Panas, Pulas sampai Puas
Meski alat pengukuran ini sudah ada sejak abad ke-19, namun Copernicus mengaku bahwa analisis ini menggunakan catatannya sendiri dalam dalam data basis gobalnya.***