AYOJAKARTA.COM - Heboh soal film dokumenter Netflix yang mengangkat kembali kasus pembunuhan Kopi Sianida oleh Jessica Wongso di tahun 2016 lalu membuat kasus tersebut kembali terbuka.
Seperti pernah diingat, dengan cara pembunuhan yang terbilang keji yakni meracuni sahabatnya sendiri Mirna Salihin melalui racun sianida, membuat Jessica Wongso dituduh sebagai psikopat saat itu.
Namun bukan bukti sebagai psikopat yang ternyata terungkap, melainkan ada dua gangguan kejiwaan yang rupanya dialami oleh Jessica Wongso.
Baca Juga: Hakim Sebut Kasus Kopi Sianida Jessica Wongso dan Ferdy Sambo Mirip: Banyak Bukti Dieliminasi!
Hal itu seperti disampaikan oleh Ronny Rasman Nitibaskara selaku kriminolog yang juga sebagai Penasehat Kapolri Bidang Kriminologi.
Di tahun 2016 lalu, Ronny pernah menyampaikan hasil literaturnya tentang kondisi kejiwaan Jessica Wongso di pengadilan saat dirinya menjadi saksi kasus tersebut.
Dijelaskan oleh Ronny, jika seorang psikopat itu harus memiliki 22 ciri yang ada di dalam diri orang tersebut.
Namun rupanya, untuk Jessica hanya memiliki 4 ciri sehingga tidak bisa disebut sebagai psikopat.
"Saya temukan dia cuma 4. Tapi kalau dengan scoring dilakukan bahkan terori Hart di Amerika dengan scanning dan segala macem itu, akan ketahuan seseorang psikopat atau tidak. Saya meralat kembali dia bukan psikopat," ungkap Ronny saat itu seperti dikutip Ayojakarta.com pada laman Suara.com, Rabu (4/10/2023).
Justru dari peninjauan yang dilakukan Ronny terhadap kejiwaan Jessica, dia menemukan bahwa sosok tersangka pembunuhan Mirna itu memiliki dua gangguan kejiwaan yang tergabung menjadi satu.
Baca Juga: Sinopsis Film Dokumenter Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso di Netflix
Dua gangguan kejiwaan yang bergabung tersebut adalah narsistik dengan emotionally unstable personality.
Menurut Ronny, bukti gangguan tersebut nampak pada sikap Jessica yang mudah berubah-ubah, dia memiliki kebutuhan yang besar untuk bisa dicintai, tetapi ia hanya memiliki sedikit kemampuan untuk bisa mempertahankan hubungan.
Selain itu ciri-ciri lainnya yang nampak dikenali adalah selalu melihat siapa orang yang menyakiti dirinya, selaku mengingat kesalahan orang lain, dan mengungkit luka.
Termasuk gangguan kejiwaan narsistik yang ditunjukkan dengan sikap merasa bahwa dirinya jauh lebih penting dari orang lain sehingga sangat haus akan pujian dan dibanggakan.
Orang narsistik juga memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, namun dibalik itu apabila ia mendapat kritikan akan mudah sekali hancur dan sedih berkepanjangan.***