AYOJAKARTA.COM – Saat kontestasi Pemilihan Gubernur DKI Jakarta berlangsung, Anies Baswedan banyak mendapat sorotan.
Salah satu bentuk sangkaan yang mulai banyak merebak jelang Pilpres 2024 adalah perilaku Anies Baswedan sebagai Pemain Politik Identitas.
Sehubungan dengan adanya tudingan memainkan politik Identitas tersebut, Anies Baswedan memberikan tanggapan.
Baca Juga: Sambang ke Markas PKB, Anies Baswedan-Cak Imin Bahas Pemenangan Pilpres 2024?
Pernyataan tersebut disampaikan Anies ketika mengadakan pertemuan dengan sejumlah kader PKB di Sumatera Selatan beberapa waktu lalu.
Menurut Anies, politik identitas yang terjadi di Jakarta sudah berlangsung sejak tahun 2011 saat Anies masih menjabat sebagai Rektor.
“Yang mendukung Pak Basuki menggaungkan isu agama, yang menentang menggunakan isu agama, itu sudah terjadi sejak tahun 2011,” kata Anies, dikutip Ayojakarta pada Selasa, 12 September 2023 dari Kompas TV.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Dirujak Warganet Usai Muncul dalam Video Azan Magrib RCTI, Bukan Politik Identitas?
Selain dukungan dari masing-masing calon yang menambah hangat konstelasi politik, perbedaan juga kian menebal dengan adanya kutipan-kutipan dari kitab suci.
Anies menambahkan, polarisasi semacam itu terus berlangsung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2016.
“Ketika kemudian pendaftaran Pilkada 2016 kami masuk, itu sudah terlihat polarisasinya,” imbuh Anies.
Lebih lanjut, Anies menjelaskan salah satu bentuk polarisasi yang biasa ada pada setiap pemilihan adalah menggunakan perbedaan sebagai acuan untuk mencapai tujuan.
Isu-isu seperti Putra Daerah, Gender, atau Agama kemudian mencuat ke permukaan setiap kali terdapat perbedaan dari masing-masing kontestan.
“Dalam semua pemilihan ketika calon memiliki latar belakang yang berbeda, tema latar belakang itu akan muncul ke permukaan, itu yang terjadi di Jakarta,” terang Anies.
Menyikapi dinamika yang berkembang pada saat Pilkada Jakarta, Anies mengaku cukup kesulitan untuk meredam yang terjadi di akar rumput.
Namun demikian, Anies menegaskan bahwa salah satu bentuk kampanye yang ia pilih adalah dengan mengoptimalkan tema program.
Baca Juga: PKS Tak Kunjung Restui Duet Anies Baswedan dan Cak Imin, Pilih Hengkang dari Koalisi?
“Tetapi kami tidak berkampanye dengan itu, kami berkampanye dengan lapangan pekerjaan, kesehatan, pendidikan, dan boleh di check rekam jejaknya,” jelas Anies.
Usai Pemilihan Kepala Daerah selesai, salah satu upaya yang dilakukan Anies tanpa banyak bicara adalah meredam potensi lahirnya friksi.
Salah satu upaya riil yang dilakukan Anies untuk menyiasati potensi konflik antar umat beragama adalah dengan membuat Tim Mitigasi.
Dengan usaha tersebut, Anies berhasil membawa DKI Jakarta sebagai salah satu kota penerima Harmony Award dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Baca Juga: Masih dalam Koalisi Anies Baswedan? PKS Belum Resmi Putuskan Cak Imin Jadi Cawapres
“Pertama kalinya dalam sejarah Jakarta, umat agama apapun bisa merayakan hari kebesarannya di arena publik,” ungkap Anies.
Selain menyediakan fasilitas peribadatan dan rumah ibadah bagi pemeluk agama, Jakarta juga berhasil menyediakan Bantuan Operasional Tempat Ibadah atau BOTI.
“Masing-masing diberikan fasilitas sesuai kebutuhannya,” pungkas Anies seperti dikutip Ayojakarta pada Selasa, 12 September 2023 dari Kompas TV. ***