AYOJAKARTA.COM -- Banjir yang menerjang wilayah Jabodetabek, khususnya Kota Bekasi, Jawa Barat, hingga saat ini masih terpantau belum surut.
Beberapa permukiman padat penduduk terendam sejak Selasa pagi (4/3), sehingga warga terdampak mulai dievakuasi guna mengantisipasi potensi kerugian yang lebih besar.
Banjir yang melanda Bekasi diakibatkan oleh luapan Sungai Kali Bekasi yang mengalir deras karena tidak mampu menampung intensitas hujan yang tinggi.
Baca Juga: Status Banjir Jakarta Siaga 2, Gubernur Pramono Anung Instruksikan Aktivasi 500 Pompa Air
Menurut informasi, akibat hujan deras di wilayah Bogor yang mengirimkan air ke arah Bekasi, serta tambahan kiriman dari Kali Cikeas dan Cilengsi sejak dini hari mengakibatkan debit air Kali Bekasi melonjak.
Kondisi ini membuat air dengan cepat merendam permukiman dan infrastruktur di sekitar sungai.
Di beberapa lokasi, ketinggian air sangat bervariasi, di wilayah Perumahan Pondok Gede Permai, misalnya, ketinggian air dilaporkan mencapai 8 meter.
Sementara itu, di bawah flyover Sumarecon, ketinggian banjir tercatat sekitar 40 hingga 60 cm, mengakibatkan gangguan parah pada arus lalu lintas.
Baca Juga: Pramono Anung Tanggapi Situasi Banjir Melanda Jakarta: Ini Banjir Kiriman, Curah Hujan Lokal Rendah
Banyak kendaraan, terutama roda dua, bahkan terpaksa didorong karena mesin mati akibat banjir.
Dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV pada Rabu (5/3), terlihat antrian panjang truk dan kendaraan lain yang terjebak di jalan utama seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Ir. H. Juanda, dan Jalan Jenderal Sudirman.
Beberapa akses jalan menuju area permukiman juga terendam banjir, sehingga warga mengalami kesulitan untuk kembali ke rumah.
Bahkan, sebagian jalan utama di kawasan perumahan seperti Perumahan 1, Kayu Ringin, dan area di belakang Stadion Patriot juga terdampak.
Baca Juga: Banjir Bekasi: Lumpuhkan Jalan Ahmad Yani, 'Jalus Arteri' Utama Berubah Menjadi Sungai
Menurut keterangan dari petugas lapangan, BPBD mencatat banjir tersebar di 20 titik di seluruh Bekasi.
Di beberapa titik, drainase jalan belum tertata dengan baik dan petugas belum terlihat mengatur arus lalu lintas atau mengoperasikan pompa air guna mengurangi debit air.
Di beberapa lokasi terdengar keluhan warga yang masih bertahan di rumah dan bahkan ada yang terpaksa menerjang banjir dengan sepeda motor.
Satu laporan menyebutkan bahwa kendaraan pribadi, terutama kendaraan roda dua, kesulitan melintasi area banjir sehingga menimbulkan kerugian dan keterlambatan perjalanan pulang.
Sementara itu, kendaraan besar seperti truk logistik masih relatif dapat melintas meskipun dengan kesulitan.
Upaya penyedotan air dan pengaturan lalu lintas sudah dilakukan, namun situasi dinilai masih kritis.
Pemerintah daerah dan BPBD terus memantau perkembangan banjir dan berkoordinasi untuk mempercepat evakuasi serta mengembalikan kondisi normal di wilayah terdampak.
Pihak berwenang menghimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengutamakan keselamatan, dan mengikuti arahan petugas lapangan.
Sementara itu, upaya pengendalian banjir melalui penyedotan air dan perbaikan sistem drainase menjadi prioritas utama guna mengurangi dampak banjir yang semakin meluas.***