AYOJAKARTA.COM -- Sejumlah proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, terancam gagal lantaran dipicu krisis yang dialami BUMN Waskita Karya.
Seperti diketahui, Waskita saat ini sedang dalam kondisi keuangan yang ringkih. Kerugian perusahaan pelat merah tersbut terus bertambah seiring catatan utang yang menggunung.
Bbeban utang yang berat membuat WSKT menghadapi tantangan keuangan yang signifikan, bahkan hingga mengalami kegagalan dalam membayar bunga obligasi.
Dalam situasi ini, Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan bahwa Waskita Karya kemungkinan tidak mampu menyelesaikan sejumlah proyek strategis nasional yang telah diamanatkan oleh pemerintah, termasuk proyek IKN.
"Waskita kan nggak kuat secara keuangan," kata Kartika, dikutip dari Suara.com.
Waskita Karya sendiri tercatat sebagai pemain utama dalam proyek IKN, dengan nilai proyek sebesar Rp4,33 triliun, lebih besar dibandingkan dengan perusahaan BUMN Karya lainnya.
Distat dari Kontan, hingga akhir Juni, WSKT telah berhasil memenangkan 6 proyek IKN senilai total Rp5,89 triliun. Beberapa proyek IKN yang dikerjakan oleh Waskita Karya mencakup Jalan Logistik Lingkar Sepaku Segmen 4, tol IKN Segmen 5A, Sekretariat Presiden dan Bangunan Pendukung, Kementerian Koordinator (Kemenko) 3, Kemenko 4, dan IPAL 123.
Baca Juga: Kerugian Waskita Karya Terbang 777%, Saham WSKT Ditendang dari IDX BUMN 20
Dikutip dari Republika, pada awal Juli lalu, Waskita melalui unit bisnisnya yaitu Infrastructure II Division baru saja memenangkan tender anyar untuk mengerjakan proyek Jalan Feeder Distrik Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dengan nilai paket pekerjaan Rp1,3 triliun.
Tidak hanya itu, Waskita Karya juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan proyek pembangunan Tol Trans Sumatera.
Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah memiliki rencana untuk merestrukturisasi Waskita Karya dan menjadikannya anak usaha dari Hutama Karya (HK), tetapi ini memerlukan proses restrukturisasi terlebih dahulu.
Sebelumnya, Menteri BUMN, Erick Thohir, telah mengungkapkan bahwa situasi keuangan Waskita Karya sedang berada dalam kondisi kritis. Fakta bahwa Waskita Karya tidak dapat membayar bunga untuk obligasi berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2020 yang jatuh tempo pada 6 Agustus 2023, menunjukkan kondisi yang serius. Pada Mei 2023, perusahaan ini juga tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran bunga untuk obligasi yang sama.
Baca Juga: Dirut Waskita Jadi Tersangka Korupsi, Erick Thohir Tegas: Saya Tak Kasih Hati Nurani
Detailnya, utang pokok dari Obligasi Berkelanjutan IV Waskita Karya Tahap I Tahun 2020 senilai Rp135,5 miliar harus dilunasi pada tanggal 6 Agustus 2023. Utang ini memiliki bunga 10,75% per tahun, sehingga jumlah bunga yang harus dibayarkan mencapai Rp14,56 miliar.
Tak hanya itu, WSKT juga memiliki obligasi lain yang akan jatuh tempo pada bulan depan, yaitu Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap III Tahun 2018 Seri B senilai Rp941,75 miliar dengan jatuh tempo pada 28 September 2023. Obligasi ini memiliki bunga 9,75% per tahun, sehingga total bunga yang harus dibayarkan mencapai Rp91,82 miliar.
Secara total, selama semester pertama tahun 2023, WSKT mencatatkan total utang senilai Rp84,31 triliun, mengalami kenaikan sebesar 9,20% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu Rp77,2 triliun.
Waskita Karya juga melaporkan kerugian bersih yang signifikan selama semester pertama tahun 2023, mencapai Rp2,072 triliun, naik 776,26% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp236,51 miliar.
Selama periode tersebut, pendapatan usaha WSKT juga mengalami penurunan yang cukup besar, yakni sebesar 13,4% menjadi Rp5,272 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya pendapatan dari jasa konstruksi sebesar 19,2% serta penurunan pendapatan dari usaha properti sebesar 19,4%. Meskipun begitu, terjadi peningkatan dalam penjualan beton pra cetak dan pendapatan dari sektor jalan tol.