AYOJAKARTA.COM - Mendekati Pemilu 2024, sejumlah partai yang termasuk sebagai partai besar mulai memberi sinyal dukungan kepada Prabowo Subianto.
Selain PKB, media gencar memberitakan sinyal dukungan terhadap Prabowo Subianto yang datang dari Partai Golkar dan PAN.
Adanya gejala dukungan dari Partai-partai besar terhadap Prabowo Subianto dinilai publik sebagai bentuk cawe-cawe Presiden Joko Widodo.
Menyikapi gencarnya opini yang berkembang di masyarakat, Prabowo Subianto menepis dengan memberi pernyataan berdasarkan kenyataan.
Baca Juga: Tuai Dukungan dari Golkar, Airlangga: Bapak Prabowo Subianto Tokoh yang Tepat
Menurut Prabowo Subianto dalam proses Pemilihan Umum Presiden Joko Widodo tidak melakukan campur tangan apapun menyangkut persoalan partai.
“Apapun keputusan partai, partai apapun, pengalaman saya dan keyakinan saya, beliau tidak akan melarang dan tidak akan mendikte,” jelas Prabowo Subianto.
Lebih lanjut, Prabowo Subianto memberi contoh dengan menyebut sejumlah partai yang sempat mendekati Gerindra.
“Satu saat Perindo datang ke kami menyatakan mendukung saya kemudian merubah haluan dan Presiden Jokowi tidak campur tangan sama sekali,” imbuhnya.
Baca Juga: Golkar Labuhkan Dukungan ke Prabowo Subianto di Pilpres 2024, Begini Tanggapan Ridwan Kamil
Sehubungan dengan adanya dukungan dari Golkar dan PAN kepada Prabowo Subianto, Pakar Politik Adi Prayitno memberi tanggapan.
Menurut Adi Prayitno, meski Prabowo Subianto mendapat dukungan dari partai besar, hal tersebut tidak secara signifikan mempengaruhi hasil pemilihan.
“Dalam pilpres itu bukan seberapa banyak dukungan parpol diberikan kepada seorang calon, tapi daya elektabilitas capres yang signifikan,” ujar Adi Prayitno.
Terkait fakta tersebut, Adi Prayitno menambahkan pernah terjadi ketika Pemilu 2004 satt SBY berhasil memenangkan pertarungan politik.
Baca Juga: TOK! PAN, Golkar dan PKB Resmi Dukung Prabowo Subianto di Pilpres 2024
Fenomena yang sama terkait dengan pentingnya elektabilitas capres juga sempat terjadi saat Pilpres di tahun 2014 lalu.
“Pada pemilu Pilpres 2014, saat itu juga Jokowi diusung oleh Parpol yang lebih sedikit dari pendukung Prabowo Subianto, tapi kemudian Jokowi menang,” imbuhnya.
Adi Prayitno menambahkan berdasarkan realitas politik tersebut maka hal penting dalam proses pertarungan pemilu adalah nilai elektabilitas capres.
“Pilpres itu adalah memilih figur, bukan memilih partai, bukan memilih seberapa banyak dukungan partai yang diberikan oleh seorang kandidat,” jelas Adi Prayitno.
Baca Juga: Elektabilitas Anies Baswedan di Wilayah Ini Lemah, Prabowo dan Ganjar Malah Bersaing Ketat
Adi Prayitno menilai hal terpenting yang perlu dilakukan oleh para kandidat capres adalah meyakinkan pemilih secara langsung.
Selain karena pemilih Indonesia yang melampaui batas-batas kepartaian, proses sosialisasi juga penting dilakukan untuk mendongkrak perolehan.
Fakta politik bahwa besaran dukungan partai tidak berkorelasi positif terhadap hasil pertarungan, menurut Adi Prayitno adalah hal yang perlu digarisbawahi.
“Meyakinkan pemilih adalah kunci kemenangan utama,” pungkas Adi Prayitno dikutip Ayojakarta pada Senin, 14 Agustus 2023 dari YouTube tvOneNews.***