AYOJAKARTA.COM - Anies Baswedan kembali bicara mengenai calon wakil presiden (cawapres) apabila terpilih di Pilpres 2024.
Saat ini, memang banyak yang beranggapan bahwa posisi wakil presiden seperti “ban serep”.
Anies Baswedan mengatakan bahwa dalam struktur kenegaraan, wakil memang memiliki tugas untuk mewakili.
Baca Juga: Anies Baswedan Sudah Kantongi Nama Cawapres, PKS: Paling Penting Punya Elektabilitas
“Memang kalau dalam struktur kenegaraan itu seperti juga di kepala daerah, wakil itu memang memiliki peran untuk mewakili. Jadi kebijakan dan lain-lain ada pada tangan gubernur. Tidak ada surat keputusan wakil gubernur, itu nggak ada,” kata Anies dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Anies Baswedan, Minggu (13/8/2023).
Anies menjelaskan pembagian tugas negara sebaiknya dilakukan dengan melihat pengalaman dan koneksi yang dimiliki oleh wakil.
Sehingga apabila ia berpasangan dengan wakil, maka tugas yang akan dijalankan oleh wakilnya sesuai dengan pengalaman, pengetahuan, dan jaringan yang dimiliki.
Sebab, apabila wakil diberi tugas yang tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, tentu ini akan menjadi beban.
“Jadi kalau misalnya saya berpasangan dengan wakil, maka tugas yang diberikan kepada wakil adalah tugas yang selama ini wakil miliki pengalaman, jaringan, pengetahuan sehingga bekal beban yang dimiliki oleh saya bisa sebagian dialihkan ke wakil. Tapi kalau yang dialihkan itu tidak cocok dengan yang dimiliki pengalaman wakil, malah jadi beban baru untuk wakil,” jelasnya.
Anies menegaskan berdasarkan pengalamannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, tugas-tugas yang diberikan ketika menjabat tentu diberikan kepada orang yang sudah matang.
Baca Juga: Kiai NU Turut Mengusulkan 5 Daftar Nama Cawapres Untuk Anies Baswedan, Siapakah Mereka?
Sebab, orang dewasa yang sudah bekerja demi negara tentu akan memprioritaskan urusan publik.
“Tapi saya perlu sampaikan dari pengalaman kami bertugas sebelumnya, ini adalah tugas yang diembankan pada orang dewasa yang matang. Jadi ini bukan seperti mencari pasangan antar anak-anak muda yang kemudian banyak memasukan faktor perasaan,” tegasnya.
“Kalau sudah orang dewasa dan terkait dengan pekerjaan, apalagi terkait dengan unsur kepentingan negara, maka yang diletakkan di dalam pondasi kerjasamanya itu adalah urusan publik, urusan negara. Jadi saya cukup yakin bahwa dengan siapapun insyaallah bisa kerja sama dengan siapapun insya allah apabila kita lempengkan garis nilainya maka itu kita bisa akan bekerja baik bareng-bareng,” tutupnya.***