AYOJAKARTA.COM- Menko Polhukam Mahfud MD mengungkapkan bahwa korupsi di Indonesia semakin menjadi-jadi.
Ia juga membeberkan tindakan korupsi ini sudah sampai di bawah meja DPR RI hingga Mahkamah Agung (MA).
Mulanya, Mahfud menjelaskan bahwa Indeks Persepsi Korupsi Indonesia di tahun 2022 mengalami anjlok.
Baca Juga: Tak Lapor LHPKN 5 Tahun, Gaya Hidup Hedon dan Rumah Bak Istana Camat Kemuning Palembang Disorot
"Di Tahun 2022 Indeks Persepsi Korupsi kita terjun dari 38 ke 34. Itu membuat kita kaget. Korupsinya makin menjadi-jadi berarti," katanya.
Sementara itu, Mahfud mengaku telah menyelidiki penyebab anjloknya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia. Dan ia menarik kesimpulan dari penyebab kasus ini terjadi karena konflik kepentingan di DPR, MA, hingga di birokrat. Konflik kepentingan itu disebutnya menyebabkan terjadinya transaksi di balik meja.
"Kesimpulannya memang terjadi conflict of interest di dalam jabatan-jabatan politik. Di DPR terjadi transaksi-transaksi di balik meja, Mahkamah Agung (MA), pengadilan bisa membeli perkara. Di pemerintah, di birokrasi sama itu temuannya," kata Mahfud dengan lantang.
"Di DPR ada conflict of interest. Pekerjaan anggota DPR, tapi punya konsultan hukum. Nanti kalau ada masalah, tolong dibantu ini, itu. Ini ngurus orang korupsi bantu ini. Dibawa ke pengadilan, pengadilannya korupsi lagi. Sampai hakimnya ditangkap, jaksa ditangkap, polisi ditangkap dan seterusnya," lanjutnya yang dikutip AyoJakarta.com pada Senin (12/6).
Baca Juga: PENGUMUMAN: Jadwal Lelang Barang Sitaan KPK, Ada Barang Merk Zara Dior hingga Hermes Simak Caranya!
Kemudian anggota komisi III DPR RI I Wayan Sudirta mengatakan bahwa korupsi bisa dilakukan oleh setiap lembaga karena anggaran yang bertambah.
"Anggaran bertambah dan penyebaran APBN meluas. Secara teoritis, secara logika bisa jadi, walaupun belum ada penelitian yang konkrit, data yang konkrit kan belum kita tahu. Tahun lalu beberapa besarnya korupsi, tahun ini beberapa besarnya korupsi itu kan angka-angka tidak nyata, tapi kalau berdasarkan dugaan bisa ada disini muncul korupsi bisa jadi korupsi yang bertambah bisa juga karena transparansi yang semakin Bagus, " kata I Wayan Sudirta. ***