AYOJAKARTA.COM - Salah satu hari besar bagi penganut Buddha adalah hari Waisak, yang juga sering disebut hari raya Trisuci Waisak.
Penggunaan istilah Trisuci Waisak karena di dalamnya tersimpan serangkaian peristiwa penting yang dialami tokoh sentral dalam ajaran Buddha.
Tiga peristiwa penting yang terjadi ketika bulan purnama Waisak tersebut adalah kelahiran, tercapainya penerangan sempurna dan wafatnya sang Buddha Gautama.
Baca Juga: Peringatan Waisak 2567 Buddhis Era di Indonesia dari 6 Mei Diubah Jadi 4 Juni 2023?
Kata Waisak berasal dari bahasa Pali Vesakha serta Sansekerta Vaisakha, yang merupakan salah satu bulan dalam kalender Buddhis dan biasanya jatuh di bulan Mei.
Dalam perayaan Trisuci Waisak, yang biasanya jatuh pada bulan Mei di kalender Masehi; kerap berbarengan dengan datangnya bulan Purnama.
Pangeran Sidharta adalah putra dari pasangan Raja Suddhodana, dan Ratu Mahamaya dari kerajaan Sakya.
Baca Juga: Besok 6 Mei 2023 Apakah Libur Hari Raya Waisak? Simak Penjelasan Lengkap Kemenag di Sini!
Pangeran Sidharta lahir pada tahun 623 Sebelum Masehi di sebuah taman yang dikenal dengan nama Taman Lumbini.
Ketika Pangeran Siddharta baru saja lahir, ia sudah mampu berdiri tegak dan bisa langsung melangkah sebanyak 7 langkah ke arah utara.
Dari bekas pijakan kaki Pangeran Sidharta, kemudian ditumbuhi dengan bunga Teratai yang menjadi simbol dari kesucian.
Menginjak usia 29 tahun, Pangeran Sidharta meninggalkan anak serta istrinya untuk menemukan kebebasan dari peristiwa yang melekat dalam diri manusia.
Peristiwa-peristiwa kemelekatan tersebut adalah kelahiran, tua, sakit, dan peristiwa yang dianggap paling menakutkan; yakni kematian.
Di bawah sebuah Salla, Pangeran Sidharta kemudian memulai meditasi atau pertapaan menghadap tempat matahari terbit.
Sebelum melakukan pertapaan, Pangeran Gautama bersumpah tidak akan beranjak selama tujuannya belum terpenuhi.
Saat berusia 35 tahun, pada tahun 588 SM di bulan Waisak; pertapa Gautama akhirnya hingga mencapai pencerahan dan menjadi Sammasam-Buddha di Bodhgaya.
Setelah mencapai kesempurnaan, dari tubuh pertapa Gautama memancarkan enam jenis warna sinar Buddha, atau Buddha Rasti yang berbeda.
Warna Biru yang berarti Bhakti, Kuning bermakna Pengetahuan dan Kebijaksanaan, Merah berarti Kasih Sayang dan Belas Kasih, Putih berarti Suci.
Selain itu ada juga Buddha Rasti berwarna Jingga yang bermakna Giat, serta kelima campuran dari warna sinar Buddha.
Setelah mencapai pencerahan, Pertama Gautama kemudian melanjutkannya dengan menjalankan Dhamma selama sekitar 45 tahun.
Baca Juga: Cek Jadwal Hari Libur Nasional 2023, Apakah 6 Mei Libur Hari Raya Waisak 2567 BE? Ini SKB 3 Menteri
Pada tahun 543 SM di bulan Waisak, Buddha Gautama mengalami Parinibbana atau berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir di Kusinara.
“Hidup ini menderita, maka berusahalah dengan sungguh-sungguh,” pesan Buddha Gautama sebelum akhirnya wafat di usia 80 tahun.
Demikian sejarah dan pesan terakhir Buddha Gautama yang dirangkum AyoJakarta.com pada Minggu, 7 Mei 2023 dari kanal YouTube Sendi Kehidupan.***