AYOJAKARTA.COM– Anies Baswedan beberapa waktu lalu membagikan hal menarik seputar kisah rumah tinggalnya.
Sebagaimana diketahui, Anies Baswedan memiliki hunian di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Dibalik rumah tinggal milik Anies Baswedan, ternyata ada kisah menarik saat pembangunan hunian tersebut.
Baca Juga: Ditanya Soal Alasan Masuk Politik, Anies Baswedan: Kalau Ada Kesempatan, Maka...
Dalam video yang tayang dalam kanal YouTube Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengungkapkan bahwa masyarakat sekitar rumahnya tidak memiliki fasilitas umum.
Anies menyampaikan bahwa tanah yang ia bangun rumah tersebut tadinya digunakan oleh warga setempat sebagai fasilitas umum mereka.
Saat membangun rumah yang ia huni sekarang ini, Anies pun sempat memikirkan untuk membuat hunian yang juga bermanfaat bagi orang sekitarnya.
“Kalau ada kawinan mereka pasang tenda di sini. Kalau ada acara-acara mereka gunakan lahan ini. Nah, jadi ketika kita bangun rumah saya berpikir untuk bagaimana membuat rumah yang kita bangun itu bukan hanya untuk rumah kami, tapi juga tempat yang bisa dipakai oleh masyarakat sekitar,” kata Anies dikutip AyoJakarta.com pada Selasa (14/3/2023).
Akhirnya, Anies pun memutuskan untuk membangun rumah dengan menyediakan fasilitas umum untuk warga sekitar.
Agar orang sekitar leluasa untuk masuk ke fasilitas umum tersebut, Anies tak memasang pagar rumah.
Saat ini, ruangan yang disediakan Anies untuk fasilitas umum warga sekitar digunakan untuk berbagai kegiatan.
“Jadi tempat ini akhirnya kita rancang. Kalau masuk ke dalam kan nggak pakai pagar, sehingga orang bisa keluar masuk tanpa merasa memasuki rumah orang. Kemudian, nah tempat ini kalau sehari-hari ya, selain kita pakai untuk terima tamu, tapi juga hari Sabtu dipakai untuk bimbel,”
Baca Juga: Wah! Ayah Anies Baswedan Ternyata Pernah Minta Sang Anak Untuk Tiru Mahfud MD, Begini Ceritanya
Selain itu, Anies menyebut ruangan tersebut juga kerap digunakan untuk perkumpulan warga hingga acara pernikahan.
Lebih lanjut, Anies menuturkan bahwa ruangan yang ia sediakan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan komersil.
“Tapi idenya adalah bagaimana kita tinggal di dalam satu masyarakat fasilitas yang kita miliki itu bisa dipakai juga oleh masyarakat, ini sudah kita kerjakan sejak kami tinggal pertama di sini, 2013, jadi udah agak lama ini pendekatan seperti itu,” tutupnya.***