News

Analisis Kasus Mario Dandy dari Segi Psikologi, Mahasiswa UGM Ini Bongkar Faktor Penyebabnya Tidak Lain Karena

Oleh: Sulistiyaningsih Sabtu 25 Feb 2023, 20:01 WIB
Kolase Kasus MArio Dandy

AYOJAKARTA.COM – Baru-baru ini media sosial digemparkan atas tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh anak pejabat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bernama Rafael Alun.

Yang mengakibatkan David anak dari pengurus pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jonathan Latumahina mengalami pembengkakan otak dan sempat dikabarkan koma.

Salah satu mahasiswa jurusan Psikologi UGM, Dewan L. Putra memberikan sedikit analisis terkait kasus dari Mario Dandy ini.

Baca Juga: Seram! Pakar Mikro Ekspresi Ungkap Ada Hal Mengerikan yang Ia Tangkap dari Mario Dandy, Apa Itu?

“Tau nggak sih, kenapa orang-orang kaya Mario Dandy ini yang habis melakukan penganiayaan kemarin itu, tumbuh menjadi orang kayak Mario Dandy ini,” kata Dewan dikutip AyoJakarta.com melalui TikTok @dewanptra, Sabtu (25/2/2023).

“Nah, ini gue mau coba analisis dari sudut pandang anak psikologi,” imbuhnya.

Anak jurusan Psikologi UGM ini membahas sedikit kenapa ada orang yang tega melakukan tindakan penganiayaan terhadap orang lain termasuk Mario Dandy.

Ia mencoba menganalisis faktor-faktor apa saja yang menyebabkan seseorang berani melakukan tindakan tersebut.

Dirinya menggunakan pendekatan yang murni asumsi sendiri dan beberapa mengambil dari data keilmuan atau data riset serta dari apa yang ia pelajari sebagai mahasiswa jurusan Psikologi.

Baca Juga: Pesan Mbah Moen tentang 7 Siklus Hidup yang Akan Dilalui oleh Setiap Manusia, Bersabar dan Bersyukur

Salah satunya dirinya mengacu dari tulisan Paul K. Piff yang merupakan Associate Professor University of California Berkeley yang berjudul “Wealth and the Inflated Self: Class, Entitlement, and Narcissism.”

“Jadi kekayaan dan nilai diri yang menggembung (membesar) berkaitan dengan sosial kelas, entitlement atau hak dan narsisme,” ujar Dewan.

Bukan itu saja, mahasiswa jurusan Psikologi UGM ini juga mengambil acuan dari jurnal dari tulisan Peggy Drexler yang merupakan seorang Associate Professor Cornell Univercity yang berjudul “Rich Kids: Serious challenges to bringing up kids who habe it all.”

“Masalah serius yang bisa diangkat dari anak yang punya segalanya,” tuturnya.

Menurutnya anak seseorang yang memiliki uang yang banyak dan selalu berkecukupan cenderung memiliki sifat narsisme yang tinggi dibandingkan seseorang dari kelas menengah atau bawah.

Hal ini berhubungan dengan kedua riset atau penelitian yang menjadi acuan yakni terkait dengan anak yang tumbuh terbiasa dengan uang merasa punya hak yang lebih.

“Anak yang tumbuh terbiasa dengan uang merasa punya hak yang lebih ketimbang orang-orang lain. Dia terbiasa tumbuh dengan uang,” ujar Dewan.

Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Jenguk David Korban Penganiayaan Anak Pejabat Pajak, Tegaskan Ini Kepada Orang Tuanya

“Karena dia terbiasa tumbuh dengan uang maka dia merasa haknya lebih tinggi daripada yang lain, dia bisa memakai rubicon lah, moge lah yang mahal yang miliaran gitu,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa anak seperti Mario Dandy ini bisa punya banyak hal sehingga dia merasa haknya lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain.

Karena merasa haknya lebih tinggi dibandingkan orang lain maka akan memandang orang lain jauh lebih rendah.

Terkait dengan narsisme, pada orang-orang yang memiliki uang yang banyak cenderung memiliki sifat narsisme dibandingkan dengan orang kelas menengah ke bawah.

Baca Juga: Ngeri! Update Kondisi David Korban Aniaya Anak Pejabat Pajak, Dokter Sampaikan Miliki Potensi Lumpuh

“Sederhananya, karena mereka tumbuh dengan uang, mereka merasa value mereka lebih tinggi dari yang lain di dunia ini,” tutur Mahasiswa Psikologi UGM.

“Karena mereka terbiasa tumbuh dengan uang mereka merasa semuanya bisa dibeli dengan uang,” imbuhnya.

Hal ini menurutnya sesuai dengan pendapat dari Harvard Profesor Dan Kindlon yang mengatakan bahwa orang atau anak dari generasi ‘Yes Parent’ yang punya uang lebih dan semuanya dituruti.

Akan membentuk ‘weak-minded kids’ atau yang menilai dirinya terikat sama kekayaannya sehingga kebanyakan semua diukur dengan uang.

Baca Juga: Diduga Ada Unsur Provokasi! Benar Sosok Ini Adalah si Penghasut Dandy Untuk Lakukan Penganiyaan Pada David?

Yang mana dimana ada uang maka harga dirinya tinggi, uang yang banyak maka terlihat keren. Sedangkan bagi yang tidak memiliki uang akan terlihat jelek.

“Dari asumsi dan pendekatan ilmiah ku, aku merasa bahwa si Dandy ini punya narsisme yang cukup tinggi dan merasa lebih tinggi dari orang lain,” ujar Dewan.

“Sehingga diam au melakukan tindakan mukulin anak orang ditambah lagi dia kan bareng sama mantan pacarnya ada self-esteem atau harga diri yang terlibat di sana, dia mau ngepush harga diri nya, mau terlihat wow di depan mantannya,” pungkasnya.***

Reporter Sulistiyaningsih
Editor Jinan Vania Barizky