AYOJAKARTA.COM - - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sudah menetapkan diri menjadi bakal calon pemilihan presiden (Capres) 2024 mendatang.
Anies disebut bakal diusung oleh Partai gabungan dari PKS, Nasdem dan juga Demokrat dalam Koalisi Perubahan.
Kabar tersebut pun dibenarkan oleh Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, M Sohibul Iman dan Sekjen Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya, pada Senin 30 Januari 2023 kemarin.
Dimana setelah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut digabung, maka total dukungan suara Anies Baswedan telah mencapai 28,35 persen.
Sehingga total suara Koalisi Perubahan pun sudah melampaui Presidential Threshold 20 persen.
Atas pencapaian tersebut, pengamat komunikasi politik M Jamiluddin Ritonga menilai ada kelompok yang tidak menyukai apabila Anies Baswedan menjadi capres di masa mendatang.
Jamiluddin bahkan mengatakan bahwa kelompok ini akan terus berusaha menggagalkan Anies, hingga dirinya resmi didaftarkan sebagai capres di KPU.
"Bagi mereka, Anies itu ancaman," kata Jamiluddin yang dikutip dari laman republika.go.id, Selasa (31/1/2023).
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul itu justru melihat bahwa sosok Anies Baswedan ini dianggap anti-kemapanan.
Baca Juga: Terungkap! 3 Alasan Ini Buat Ridwan Kamil Mantap Pilih Partai Golkar, Kang Emil: Paling Nyambung..
Oleh karenanya, Jamaluddin menyebut bahwa kelompok ini merasa tidak nyaman dengan semboyan perubahan yang digaungkan oleh Anies Baswedan bersama Koalisi Perubahannya.
Menurut Jamiluddin, mereka (anti-Anies) akan diperkirakan terus mengintensifkan pandangan terhadap Anies Baswedan pada setiap sosialisasinya ke daerah.
Dengan cara itulah kelompok anti-Anies ini mau menciptakan opini, jika Anies datang ke setiap daerah ditolak oleh warga setempat..
Nah penggiringan opini semacam ini akan terus dilakukan untuk menghambat laju elektoral daripada Anies Baswedan.
Sehingga, Jamiludin pun menyarankan untuk Koalisi Perubahan mencermati gerakan pada pihak-pihak yang selama ini anti-Anies. Sebab kelompok ini akan melakukan apa saja dengan menghalalkan segala cara.
"Termasuk, jalur hukum untuk menggagalkan Anies," kata Jamiluddin.***