AYOJAKARTA.COM – Salah satu tersangka yang diduga ikut terlibat dalam tewasnya Brigadir J adalah Kuat Maruf.
Sehubungan dengan peristiwa 8 Juli 2022 di rumah Duren Tiga milik Ferdy Sambo, tersangka Kuat Maruf juga dipercaya memegang peranan.
Selain bekerja sebagai driver atau sopir Pribadi di rumah Ferdy Sambo, Kuat Maruf juga dikabarkan menerima sejumlah imbalan mencapai 500 juta rupiah.
Selama jalannya proses persidangan, sosok Kuat Maruf seringkali mendapat penilaian yang khusus, baik bagi peserta sidang serta di mata publik.
Seperti dalam sidang tanggal 5 Desember 2022, dimana Kuat bersedia mengakui awal kebohongannya soal peristiwa penembakan di Duren Tiga.
“Berbohong konsisten? Kalau ini saya baru percaya kau jujur, kali ini aku percaya kau jujur, serius,” terang hakim Wahyu yang disertai suara tawa peserta sidang.
Dalam persidangan tersebut, Kuat Maruf juga memberanikan diri melakukan sanggahan atas pertayaan dari kuasa hukum Richard Eliezer.
Baca Juga: Merasa Janggal, Cuma Chuck Putranto yang Berani 'Todong' Ferdy Sambo: Jenderal Tembak Yosua?
Pada kesempatan itu, Ronny mempertanyakan hasil tes poligraf yang menyatakan Kuat berbohong ketika menyaksikan Ferdy Sambo menembak Brigadir J.
“Ya bener saya lah, itu khan robot,” sanggahan Kuat mengenai metode pemeriksaan ilmiah kemudian membuahkan gelak tawa di persidangan.
Selain itu, Kuat Maruf juga sempat kembali menjadi bahan tertawaan ketika dirinya diminta melakukan pembelaan atas keterangan yang diberikan saksi ahli.
“Kalau ibu menyimpulkan saya dibawah rata-rata, saya ikhlas, Bu, yang saya tanyakan saya tipe orang pembohong apa gimana ya, Bu?” tanya Kuat.
Baca Juga: Ungkap Pemicu KDRT, Venna Melinda Ngaku Kerap Dipaksa Berhubungan Badan
Pada persidangan tanggal 21 Desember 2022 itu, Kuat Maruf juga mengungkapkan sakit hatinya yang sering disebut sebagai pembohong.
Sikap keras kepala Kuat Maruf dalam mempertahankan pendirian, kemudian semakin terungkap dalam persidangan 9 Januari 2023 lalu.
Hal itu bermula ketika Jaksa mempertanyakan mengenai alasan Kuat Maruf selalu menutupi peristiwa yang sebenarnya.
“Sekuat itu, sesuai dengan nama saudara, janji saudara kepada Ferdy Sambo?” tanya Jaksa usai meminta Kuat Maruf mengatur aliran nafas dan bersikap lebih tenang.
Dengan lugas, tanpa ragu Kuat Maruf mengiyakan dan memberi keterangan bahwa dirinya takut dengan Ferdy Sambo.
“Apakah saudara tahu, saudara adalah orang terakhir yang tidak mengakui, yang lain sudah pada ngaku?” tanya Jaksa kemudian.
“Ya, saya tahu, ya intinya saya nggak mau jadi seorang penghianat aja, Pak,” jawab Kuat, sebagai orang terakhir yang setia menjalankan skenario rancangan Ferdy Sambo. ***