News

Benarkah Gempa Megathrust Akan Terjadi Dalam 40 Tahun Mendatang? Ini Kata Pakar Geodesi ITB Terkait Siklusnya!

Oleh: Rosandra Gisca Andyna Sabtu 17 Des 2022, 13:55 WIB
Benarkah Gempa Megathrust Akan Terjadi Dalam Waktu 40 Tahun Mendatang?

AYOJAKARTA.COM---Negara Indonesia merupakan negara yang berada pada ring of fire, dimana akhirnya menjadikan Indonesia salah satu daerah rawan gempa dengan potensi gempa Megathrust beserta tsunami.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Peneliti Geodesi ITB, Heri Andreas yang mengungkapkan jika saat ini Indonesia berada di penghujung siklus gempa megathrust.

Siklus gempa megathrust menjadi ancaman bencana besar di Indonesia yang ternyata sudah diteliti oleh berbagai ahli baik dari BMKG maupun pihak lain.

Baca Juga: Tigor Otadan Beri Ramalan 2023, Indonesia Diserang Penyakit Misterius Mematikan, Lebih Ganas dari Covid?

Indonesia menyimpan banyak sekali potensi potensi gempa baik karena sesar aktif, pergeseran lempeng tektonik, ataupun sebab lain.

Seperti dikutip Ayojakarta.com pada kanal YouTube TV One News Sabtu 17 Desember 2022, yang menampilkan penjelasan dari Heri Andreas perihal ancaman gempa megathrust.

Sudah banyak penelitian menyebutkan jika wilayah Selat Sunda dapat berpotensi gempa megathrust hingga 9 magnitudo, dan wilayah Sumur, Pandeglang, Banten berpotensi magnitudo 6.6.

Baca Juga: Terpopuler! Hasil Poligraf Bharada E Positif, Ronny Talapessy: yang Bohong Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi

Namun dari seluruh penelitian tersebut masih belum ada yang dapat memastikan kapan hal tersebut akan terjadi terkait hari, jam, dan tanggal.

Namun menurut Heri bahwa waktu terjadinya gempa megathrust memang belum dapat dipastikan tetapi fase siklus gempa megathrust dapat dijelaskan dari penelitiannya.

“Kalau kita bicara kapan pastinya, belum ada penelitian yang bisa menentukan sampai dengan hari apalagi jam, tetapi kita mengenal yang namanya siklus gempa bumi atau earthquake cycle,” ujar Heri.

Menurut Heri Andreas, ‘Earthquake cycle’ merupakan gempa berulang dan bahkan bisa diikuti tsunami jika gempa yang terjadi cenderung besar dan berada di laut.

Baca Juga: 7 Kota di Indonesia yang Relatif Aman Secara Geografis dari Ancaman Gempa Megathrust Serta Tsunami Besar

Heri pun memperlihatkan sebuah hasil penelitian dimana pada sekitar tahun 1400an telah terjadi gempa bumi dan tsunami dan berulang di 200 tahun berikutnya.

“Di sekitar tahun 1400an itu ada rangkaian gempa bumi dan tsunami , nah di 200 tahun berikutnya itu di 1600an itu juga ada catatan gempa bumi dan tsunami. Pada 200 tahun berikutnya di 1800an ya di 1883 ada juga rangkaian gempa bumi dan tsunami,” jelas Heri.

“Jadi polanya itu per 200 tahunan itu jelas ya, nah dari 1800 tambah 200 berarti di tahun 2000 artinya karena kita berada di tahun 2022, artinya kita berada di ujung siklus perulangan gempa bumi, gempa besar dan tsunami,” ungkap Heri menambahkan.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 5.1 Guncang Sumur Banten, Getaran Terasa hingga Lampung dan Palembang

Heri kemudian menjelaskan jika dalam kurun waktu 40 tahun kedepan, Indonesia bisa menjadi saksi adanya gempa dan tsunami pada segmen daerah Pulau Jawa.

“Di range 40 tahun, secara teori harus terjadi,” ungkap Heri Andreas.

“Tentunya di daerah lain juga bisa terjadi tetapi kalau khusus di segmen megathrust Jawa Sumatera, sekarang yang sedang menunggu adalah selatan Jawa Barat Banten, Selatan Padang, kemudian Parangtritis juga sama sedang menunggu, ini energinya juga bisa 9,” jelas Heri.

Baca Juga: Waspada! Peneliti Geodesi Ungkap 5 Wilayah Ini Dalam Fase 'Menunggu' Siklus Puncak dari Gempa Megathrust

“Kemudian Bali sebenarnya besar tapi ya sensitif di sini. Jadi bisa di selatan Jawa Barat Banten dulu habis itu ke Parangtritis, atau ke Padang,” ujar Heri.

Gempa megathrust belum tentu didahului dengan munculnya gempa-gempa kecil, namun bisa saja menurut Heri, bahwa sedang mengakumulasi energi sehingga terlihat diam saja, namun secara tiba-tiba muncul gempa Megatrust tersebut.

Hal itu dalah satunya berdasarkan dengan reologi batuan.

Baca Juga: Sesar Cugenang Jadikan 9 Desa di Cianjur Zona Bahaya, BMKG Ungkap Tak Boleh Jadi Hunian: Terlarang!

“Kenapa bisa ada gempa-gempa kecil dahulu, itu tergantung pada reologi batuan namanya atau kekuatan batuan. Dan di sini kekuatan batuannya beda-beda,” terang Heri.

Menurut Heri bahwa karakteriktik gempa akan bergantung juga salah satunya dengan jenis batuan yang ada.***

 

Reporter Rosandra Gisca Andyna
Editor Kiki Dian Sunarwati