News

Waspada! Peneliti ITB Ungkap Indonesia Berada di Penghujung Siklus Gempa Megathrust, Terjadi 40 Tahun Lagi?

Oleh: Rosandra Gisca Andyna Jumat 16 Des 2022, 13:29 WIB
Waspada! Peneliti ITB Ungkap Indonesia Berada di Penghujung Siklus Gempa Megathrust, Terjadi 40 Tahun Lagi?

AYOJAKARTA.COM - Indonesia menjadi salah satu daerah rawan gempa dengan potensi megathrust beserta tsunami yang akan mengikutinya.

Seperti diungkapkan oleh Peneliti ITB dalam hal ini Peneliti Geodesi, Heri Andreas.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia berada di penghujung siklus gempa megathrust.

Ancaman gempa megathrust tersebut sudah diteliti oleh berbagai ahli, baik dari BMKG maupun berbagai universitas dan lembaga lain.

Baca Juga: Gempa Bumi Megathrust Mimpi Buruk Bagi Indonesia, Kenali Mitigasi Bencana Sejak Dini!

Dikutip Ayojakarta.com dari YouTube tvOneNews pada Jumat 16 Desember 2022, Heri Andreas menjelaskan terkait ancaman gempa megathrust.

Meski banyak penelitian yang menyebutkan bahwa wilayah Selat Sunda dapat berpotensi gempa megathrust hingga 9 magnitudo dan wilayah Sumur, Pandeglang, Banten berpotensi magnitudo 6.6, namun masih belum ada yang dapat memastikan kapan hal tersebut akan terjadi.

Heri Andreas mengungkapkan bahwa waktu terjadinya gempa belum dapat dipastikan namun fase siklus gempa metahrust dapat dijelaskan.

“Kalau kita bicara kapan pastinya, belum ada penelitian yang bisa menentukan sampai dengan hari apalagi jam, tetapi kita mengenal yang namanya siklus gempa bumi atau earthquake cycle,” ujar Heri Andreas.

Baca Juga: Dokter Tifa Ngetuit Bakal Ada Gempa dan Tsunami Besar antara 20 Desember – 23 Januari, Hoaks Bukan Nih BMKG?

Menurut Heri, 'earthquake cycle’ merupakan gempa berulang dan bahkan bisa diikuti tsunami jika gempa yang terjadi cenderung besar dan berada di laut.

Heri Andreas juga memperlihatkan sebuah hasil penelitian di mana sekitar tahun 1400an telah terjadi gempa bumi dan tsunami dan berulang di 200 tahun berikutnya.

“Di sekitar tahun 1400an itu ada rangkaian gempa bumi dan tsunami. Nah di 200 tahun berikutnya itu di 1600an itu juga ada catatan gempa bumi dan tsunami. 200 tahun berikutnya di 1800an ya di 1883 ada juga rangkaian gempa bumi dan tsunami,” jelas Heri Andreas.

“Jadi polanya itu per 200 tahunan itu jelas ya. Nah dari 1800 tambah 200 berarti di tahun 2000 artinya karena kita berada di tahun 2022, artinya kita berada di ujung siklus perulangan gempa bumi, gempa besar dan tsunami,” ungkap Heri Andreas menambahkan.

Baca Juga: BMKG Lapor Sumur Banten Diuncang Gempa Berkekuatan 4,1 Magnitude

Heri kemudian menjelaskan bahwa dalam kurun waktu 40 tahun ke depan, Indonesia bisa menjadi saksi adanya gempa dan tsnunami pada segmen daerah Pulau Jawa.

“Di range 40 tahun, secara teori harus terjadi,” ungkap Heri Andreas.

“Tentunya di daerah lain juga bisa terjadi tetapi kalau khusus di segmen megathrust Jawa Sumatera, sekarang yang sedang menunggu adalah selatan Jawa Barat Banten, selatan Padang, kemudian Parangtritis juga sama sedang menunggu, ini energinya juga bisa 9,” jelas Heri Andreas.

“Kemudian Bali sebenarnya besar tapi ya sensitif di sini. Jadi bisa di selatan Jawa Barat Banten dulu habis itu ke Parangtritis, atau ke Padang,” ujar Heri Andreas.

Baca Juga: Info Gempa Hari Ini 16 Desember: Terasa di Sumur Banten, Nias, dan Fak-fak dengan Skala Magnitudo 4

Gempa megathrust belum tentu didahului dengan munculnya gempa-gempa kecil.

Bisa saja menurut Heri, gempa megathrust sedang mengakumulasi energi sehingga terlihat diam saja, namun secara tiba-tiba muncul.

Hal itu salah satunya berdasarkan dengan reologi batuan.

“Kenapa bisa ada gempa-gempa kecil dahulu, itu tergantung pada reologi batuan namanya atau kekuatan batuan dan di sini kekuatan batuannya beda-beda,” terang Heri Andreas.

Menurut Heri Andreas karakteriktik gempa akan bergantung juga salah satunya dengan jenis batuan yang ada.***

Reporter Rosandra Gisca Andyna
Editor Fathul Amanah