AYOJAKARTA.COM - Peristiwa gugusan Gunung Semeru pada 4 Desember 2022, sejumlah warga dihimbau untuk tetap waspada jauhi sekitar 19 Km dari area terdampak.
Dinyatakan pada pukul 12.00 WIB siang Gunung Semeru naik level ke puncak tertinggi dari level 3 "Siaga" menjadi level 4 "Awas".
Kepala PVMBG menyatakan, tercatat dari tim lapangan awan panas Gunung Semeru sudah mencapai lebih dari 13 km walaupun saat ini sementara sudah mereda.
Dikutip Ayojakata.com melalui kanal YouTube tvOneNews bahwa karakter letusan gunung semeru berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava.
Kepala PVMBG Hendra Gunawan menyatakan, warga dilarang beraktifitas dalam radius 8 km secara sektoral 19 km dari jarak puncak gunung.
Kepanikan warga saat berusaha menyelamatkan diri dari gugusan awan panas,Polisi dari polsek Pasuruan membantu evakuasi warga ke tempat aman.
Namun saat diadakannya evakuasi, terdapat rekaman video masyarakat di area terdampak yang menolak untuk dibantu dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Baca Juga: 200 Hunian Tetap Disiapkan Untuk Relokasi Para Korban Gempa Cianjur
Peristiwa itu terjadi di Desa Sapiturang tepatnya di Ponpes Nurul Barokah, Minggu 4 Desember 2022.
Pada video singkat tersebut memperlihatkan, seorang Ustad mengenakan gamis dan peci serba putih yang menolak ajakan petugas untuk dievakuasi.
Tidak secara jelas disampaikan alasan Ustadz ponpes tersebut menolak ajakan petugas untuk dievakuasi.
Ia hanya memberikan pernyataan bahwa hal ini termasuk keselamatan 15 orang santri menjadi urusannya.
Baca Juga: Terdiam! Ricky Rizal Ditegur Hakim Saat Sidang Lanjutan Pembunuhan Brigadir J
Tegas Ustadz ini menolak ajakan tim untuk dievakuasi demi keselamatan dari kondisi bahaya Gunung Semeru.
"Bapak ini mengeluarkan pernyataan sikap bahwa ini urusannya beliau, masalah keselamatan santri-santrinya itu urusannya beliau, kita sudah melakukan hal semaksimal mungkin," ujar salah satu tim evakuasi warga bencana Gunung Semeru.
Melihat video yang beredar di publik itu mengundang beragam komentar dari warganet.
Diantaranya mereka menyayangkan keputusan yang diambil ustad tersebut, yang seharusnya menyerahkan keputusan dievakuasi.*