AYOJAKARTA.COM – Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang , Jawa Timur ini telah menyandang status kewaspadaan tertinggi atau pada level awas.
Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada hari Jumat 2 Desember 2022.
Semeru kembali mengerang pada hari jumat lalu, saat itu pun erupsi kecil terjadi dengan kolom letusan kurang lebih 500 meter di atas puncak, saat itu erupsi terjadi menjelang pukul 06.00 WIB.
Erupsi berikutnya terjadi keesokan harinya yaitu pada tanggal 3 Desember 2022, erupsi kecil itu kembali terjadi saat itu menjelang pukul 05.30 WIB.
Selain itu, erupsi terbesar terjadi kemarin yang dimulai dini hari menjelang pukul 03.00 WIB.
Letusan dini hari itu disertai kolom asap setinggi 1.500 meter diatas puncak, sejak saat itu awan panas guguran atau APG nyaris tak berhenti.
Warga di lereng Semeru pun berangsur-angsur pergi ke pengungsian seiring situasi yang dinilai semakin membahayakan.
Baca Juga: Andika Perkasa Akan Menggantikan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan? Ini Kata Pengamat!
Erupsi Semeru bahkan menghancurkan salah satu CCTV pengamatan Gunung Semeru, CCTV tersebut sempat merekam kedahsyatan erupsi Semeru.
Tidak hanya itu, jembatan Gladak Perak yang hancur akibat erupsi besar yang lalu dan sedang dalam proses pembangunan pun kembali hancur.
Di beberapa tempat, akses jalan pun putus akibat endapan material Semeru yang bertumpuk, salah satunya adalah di kawasan Kajar kuning di mana suhu endapan terpantau mencapai lebih dari 400 derajat Celcius.
Terjadi setiap saat jarak luncuran awan panas guguran semakin hari semakin jauh.
Terakhir jarak luncuran sudah mencapai 13 km, jarak luncur tersebut membuat PVMBG menetapkan kenaikan status bahaya Semeru menjadi awas atau level tertinggi bahaya.
Kondisi ini pun membuat Bupati Lumajang Thoriqul Haq alias Cak Thoriq memutuskan tanggap darurat bencana hingga 14 hari kedepan.
Hal itu menyusul kenaikan status bahaya Semeru sekaligus aktivitas Gunung Semeru yang masih tinggi.
Sementara proses evakuasi penduduk terdampak erupsi Semeru terus dilakukan relawan dan berbagai pihak terkait.
Evakuasi dilakukan secepat mungkin meski daerah evakuasi termasuk jalur yang sulit ditembus.
Bahkan seluruh petugas evakuasi menghimbau masyarakat terdampak untuk tidak panik saat berada di pengungsian, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.***