
AYOJAKARTA.COM-- "A Fushion of Gothic Cathedral Architecture and Victorian Fashion" karya Saffana Fikria A, menjadi salah satu bagian karya yang ditampilkan pada ajang UIC Creative Showcase 2026 bertema “The Great Britain Festival in Indonesia” di USG Education BSD Campus pada Rabu, 3 Juni 2026.
Dimana kali ini ada sebanyak 250 siswa dari enam program studi UIC College menampilkan karya kreatif dan proyek multidisiplin dalam ajang akademik tahunan yang mempertemukan pembelajaran berbasis proyek dengan perspektif global dan standar internasional.
Dalam acara ini turut menghadirkan perwakilan British Council, Pearson UK, dan akademisi dari Manchester Metropolitan University, UWE Bristol, Northumbria University, serta Ravensbourne University London.
“Di UIC Creative Showcase, siswa mengalami proses pembelajaran yang sangat dekat dengan praktik profesional sesungguhnya," kata Director of Marketing & Student Experience USG Education, Ni Luh Komang Aimee Sukesna dalam konferensi persnya di Tangerang Selatan, Rabu 3 Juni 2026.

Acara dari kampus dibawah naungan USG Education Group ini turut dihadiri oleh Camelia Harahap, Head of Creative Economy Southeast Asia British Council, serta Janice Phung, Pearson APAC Regional Manager. Bersama para akademisi dari universitas Inggris, mereka memberi masukan langsung ke siswa, sesuatu yang jarang didapat di ruang kelas biasa.
Di hadapan para akademisi dan profesional internasional, para siswa mempresentasikan langsung karya mereka sebagai bagian dari pengalaman belajar yang dirancang untuk mencerminkan praktik dunia nyata.

Yang menarik, siswa tidak sekadar mempelajari budaya global. Justru sebaliknya. Mereka diajak untuk mempertanyakan, menginterpretasi lalu mengolahnya lewat kacamata Indonesia. Hasilnya? Karya yang terasa lokal tapi punya bahasa yang bisa dibaca secara global.
Berbagai karya yang ditampilkan sangat menarik perhatian, memperlihatkan bagaimana siswa membangun dialog antara Indonesia dan dunia.
Di bidang Arts and Design, salah satu instalasi karya Jessica Clare Hartono, Gabriela Ixchel Bain, dan Edghina Evania Clearesta mengeksplorasi pertemuan antara sastra Indonesia dan sastra Inggris sebagai refleksi hubungan antara identitas lokal dan perspektif global.
Dengan menghadirkan dua tradisi literatur dalam satu ruang kreatif, karya tersebut mengajak audiens melihat bagaimana budaya yang berbeda dapat saling berdialog, saling memengaruhi, dan memperkaya satu sama lain. Karya ini mencerminkan esensi dari showcase: menghadirkan pengalaman global tanpa melepaskan akar budaya Indonesia

Siswa Fashion Design menghadirkan koleksi yang memadukan inspirasi budaya Inggris dengan identitas visual generasi muda Indonesia.
Sementara itu, siswa Graphic Design mengembangkan berbagai karya visual dan kampanye kreatif yang merefleksikan hubungan antara budaya global dan perspektif lokal.
Di panggung pertunjukan, siswa Music menampilkan interpretasi personal terhadap pengaruh industri musik Inggris melalui berbagai komposisi dan pertunjukan yang kontekstual dengan pengalaman generasi muda masa kini.
Siswa Computing sendiri menggarap proyek digital, mulai dari web design, interactive media, hingga Internet of Things (IoT).
Sementara siswa Business ditantang merancang konsep bisnis yang berpotensi memasuki pasar Inggris, lengkap dengan analisis pasar, strategi pemasaran dan kampanye digitalnya.

Dari situ lahir beberapa ide yang cukup berani, antara lain Padang2Go, yang dikembangkan oleh Reagen Jevanno, Austin Millions Lee, dan Lucas Nathaniel Valiant Salomo, serta Tempehtation, yang dikembangkan oleh Aqeela Siregar, Kaeyla Purba, dan Keiko Adiwijaya. Keduanya mencoba membawa cita rasa kuliner Indonesia ke pasar internasional.
Janice Phung, Pearson APAC Regional Manager menilai bahwa showcase seperti ini jadi bukti nyata bagaimana pendidikan bisa melatih kompetensi tersebut.
“Di Pearson, kami percaya bahwa pembelajaran menjadi lebih kuat ketika siswa dapat menghubungkan pengetahuan dengan karya dan pengalaman nyata," katanya.
Kehadiran UIC Creative Showcase menunjukkan bagaimana pendekatan applied learning membantu siswa bekerja lintas disiplin. "Juga membangun portofolio profesional, dan mengembangkan pola pikir yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif global,” ujar Janice.

Sejak didirikan pada tahun 2006, UIC College menyediakan berbagai jalur pendidikan internasional menuju universitas luar negeri melalui program Diploma BTEC dari Pearson UK, Australian Pathway Program, dan American Degree Transfer Program (ADTP).
Berbeda dengan pendekatan yang berfokus pada ujian akhir semata, BTEC menekankan applied learning melalui proyek, studi kasus, presentasi, dan pengalaman yang mencerminkan praktek dunia kerja nyata.
Dia menjelaskan bahwa dalam konteks BTEC, pendekatan pembelajaran yang diterapkan berfokus pada pengembangan keterampilan masa depan (future skills). Keterampilan tersebut mencakup kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan kemampuan bekerja dalam konteks dunia profesional.
"Melalui BTEC, siswa mulai mengembangkan keterampilan tersebut sejak usia yang sangat dini," katanya. Siswa BTEC mulai mendapatkan pengalaman tersebut sejak usia 14 tahun.
"Bayangkan ketika mereka lulus, mereka telah memiliki tujuh hingga delapan tahun pengalaman melakukan presentasi, menyusun proposal bisnis, melakukan pitching, hingga bekerja dalam proyek-proyek nyata," jelasnya.
Misalnya, siswa program Fashion Design sudah terbiasa membuat desain dan mengerjakan proyek fesyen selama masa studinya. Karena itu, ketika mereka lulus, keterampilan yang mereka miliki sangat relevan dengan kebutuhan industri.
"Dari sisi akademik, kami juga sangat menekankan kualitas dan standar pendidikan. Quality assurance merupakan bagian yang sangat penting dalam sistem Pearson," paparnya.
Setiap tahun, Pearson melakukan proses quality assurance bersama setiap pusat pembelajaran (center). Sekolah atau institusi memang memiliki fleksibilitas untuk mengembangkan silabus dan metode pengajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa, tetapi standar penilaian tetap mengikuti ketentuan Pearson.