Muslim Rohingya Ditemukan di Pantai Utara Malaysia

  Senin, 08 April 2019   Rizma Riyandi
Dua orang imigran Rohingya asal Myanmar berdiri di pintu barak tempat penampungan sementara area SKB Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Aceh, Sabtu (30/3/2019). Dari 79 imigran etnis muslim Rohingya yang ditampung di SKB Cot Gapu pascaterdampar di perairan Bireuen Aceh pada 20 April 2018 itu kini hanya tersisa dua orang atas nama Mohamed Islam dan Mohamed Yusuf, sementara 77 orang lainnya dilaporkan telah melarikan diri dari tempat penampungan. ANTARA FOTO/Rahmad/wsj.

KUALA LUMPUR, AYOJAKARTA.COM--Sebanyak 37 orang yang diyakini merupakan umat Muslim dari etnis Rohingya ditemukan di pantai utara Malaysia, Senin (8/4/2019). Kedatangan mereka dikhawatirkan dapat menjadi gelombang baru penyelundupan manusia melalui laut.

Puluhan warga Rohingya di Myanmar dan Bangladesh dalam beberapa bulan terakhir melewati jalur laut untuk berupaya menjangkau Malaysia, yang mengalami jumlah penurunan pascapenumpasan perdagangan manusia pada 2015.

Bulan lalu, 35 migran juga ditemukan di pantai Sungai Belati di utara negara bagian Perlis, Malaysia.

Pada Senin, 37 pria ditangkap di sekitar Kota Simpang Empat setelah mereka mendarat di pantai yang sama di pagi hari, kata kepala kepolisian negara bagian, Noor Mushar Mohamad kepada Reuters.

"Kami yakin, mereka bepergian dengan menaiki kapal yang lebih besar, sebelum dipindahkan ke kapal yang lebih kecil di laut dan diantarkan ke sejumlah tempat berbeda," katanya. Ia juga menuturkan bahwa seluruh pria tersebut dalam kondisi sehat dan telah diserahkan kepada petugas migrasi.

Menurut badan PBB, lebih dari 700.000 warga Rohingya menyeberang ke Bangladesh pada 2017. Mereka melarikan diri dari tindakan keras militer di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Myanmar menganggap warga Rohingya sebagai migran ilegal dari anak benua India dan mengurung puluhan ribu orang di kamp-kamp di Rakhine sejak kekerasan menyelimuti daerah tersebut pada 2012.

Pejabat yakin migran yang dijumpai pada Senin berasal dari Myanmar ataupun Bangladesh.

"Kami masih menyelidiki dari mana kapal-kapal itu berasal, namun kami menduga ada keterlibatan sindikat perdagangan manusia," ungkap Noor Mushar.

Mewabahnya kekerasan sektarian di Rakhine pada 2012 memicu puluhan ribu warga Rohingya meninggalkan Myanmar melalui laut. Eksodus memuncak pada 2015, saat sekitar 25.000 warga melarikan diri melintasi Laut Andaman menuju Thailland, Malaysia dan Indonesia. Banyak dari mereka yang tenggelam dalam perjalanan akibat kondisi kapal yang tidak aman dan kelebihan muatan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar