Kapitalisme Penyebab Rakyat Dianaktirikan

  Rabu, 12 Juni 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi

Lebih menyayangi anak orang, anak kandung ditelantarkan. Nampaknya itulah kiasan yang tepat disematkan pada pemerintah saat ini. Rakyat sendiri yang semestinya mendapat kasih sayang, perhatian dan pengurusan yang cukup dari pemimpinnya, justru kini harus rela dianaktirikan mendapati kenyataan pemerintah lebih memberi dukungan kepada para pengusaha asing ketika terjadi pertarungan di arena bisnis dan pencarian penghidupan di negeri sendiri.

Kasus yang terjadi di Wilayah Majalaya Kabupaten Bandung menjadi salah satu contoh getir dari maraknya fakta baik skala lokal maupun nasional yang disebabkan ketidakberpihakan para pemangku jabatan di negeri Zamrud Khatulistiwa ini pada rakyat yang semestinya menjadi asuhannya. Sebagai bagian dari anak negeri ketika membaca salah satu berita di laman daring www.ayobandung.com tertanggal 26 Mei 2019 miris rasanya hati ini. Tajuk berita berjudul Tergulung Impor Cina, Sarung Majalaya Tak lagi Marema Saat Lebaran memperjelas fakta betapa kini masyarakat merasakan beratnya persaingan yang tidak seimbang pada saat berlomba di tengah percaturan bisnisnya.

Jika tahun-tahun lalu Ramadan menjadi salah satu momen bagi para perajin lokal Majalaya mendapat omset pesanan sarung –sebagai ciri khasnya- melimpah, saat ini tak mereka rasakan lagi. Istilah marema yang dulu dikecap nikmat oleh para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) tak lagi terjadi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Agus Ruslan, salah seorang pengusaha tekstil Majalaya “Biasanya saat Ramadan seperti sekarang, kami sangat sibuk menerima pesanan,” Hal itu dikarenakan banyak produk impor sarung dari Cina yang dijual murah di pasaran, sehingga sarung khas made in Majalaya menjadi tergulung oleh produk impor. (Minggu, 26 Mei 2019, www.ayobandung.com)

Lebih jauh ada sebentuk kekhawatiran di masyarakat terkait dengan menderasnya produk impor Cina di pasar dalam negeri, bahwa para karyawan di beberapa perusahaan tekstil di Jawa Barat khususnya terancam mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena bisnis yang terus merosot. Dilansir oleh TribunPekanbaru.com bahwa kondisi perusahaan tekstil di Jabar saat ini tengah mengalami persoalan serius, seperti yang dituturkan oleh Wakil Ketua Bidang Organisasi SPSI Kabupaten Bandung yang juga Anggota Dewan Pengupahan Mulyana, “Setelah hari raya, kami semua khawatir dengan keberlangsungan usaha ini bagaimana. Nanti akan ada pengurangan produksi lagi sampai merumahkan nggak,” (TribunPekanbaru.com, Kamis, 30 Mei 2019).

Mulyana menambahkan saat ini yang paling berat harus dihadapi pengusaha tekstil adalah produk tekstil impor yang membanjiri Indonesia dan menjadikan para pengusaha tekstil mengurangi produksi, “Hampir semua perusahaan tekstil di Kabupaten Bandung mengalami penurunan. Beberapa malah sudah merumahkan karyawan seperti Naga Sakti, Alena Tex, Rama Tex, dan lainnya.” Ujarnya.

Sangat disayangkan pengurusan dan limpahan kasih sayang yang diharap oleh masyarakat dari pemimpinnya tak dirasa kini. Disebabkan liberalisasi ekonomi yang tengah dijalankan oleh pemerintah saat ini “mengharuskan” mereka untuk memberi keleluasaan bagi para pelaku bisnis asing masuk dan bermain di dunia bisnis dalam negeri. Kedok penjajahan ekonomi berupa investasi asing menjadi tak terelakkan. Ditambah dengan kenyataan bahwa dukungan berupa Undang-Undang bermuatan liberal yang sangat pro terhadap asing mengakibatkan produk lokal wajib bersiap untuk bersaing secara tak seimbang dengan para raksasa bisnis dari luar negeri. Hal ini akan berujung pada matinya usaha lokal dan PHK menjadi salah satu jalan keluar yang tak dapat terhindarkan. Lagi-lagi masyarakat sendirilah yang menjadi korban.

Hal di atas terjadi karena yang dianut oleh pemerintah saat ini adalah sistem kapitalisme yang mendewakan harta di atas segalanya. Ditambah dengan iklim sekuler sebagai nafas dari sistem kapitalisme yang menyebabkan para punggawa negeri dari level teratas hingga level bawah mengesampingkan aturan agama untuk mengurusi rakyat yang semestinya mereka jaga, sayangi, dan urusi segala hajatnya.

Tidak demikian dengan Islam. Sebagai agama yang paripurna Islam memiliki panduan betapa seorang pemimpin adalah rain (pengurus) bagi setiap diri rakyat yang ada di bawahnya. Ia bertanggung jawab secara penuh terhadap setiap urusan masyarakat dan akan merasa takut jika tak mampu secara adil dan amanah dalam memberi pengurusan tersebut.

Terkait dengan sistem perekonomian, Islam memiliki panduan yang luar biasa lengkap ketika dikaji dan diadopsi dari aturan Alkhaliq yakni Alquran dan Assunnah. Nidzamul Iqtishadi (sistem perekonomian) dalam Islam mengharuskan seorang kepala pemerintahan yakni khalifah memberi dukungan penuh terhadap setiap pelaku usaha dalam negeri (khilafah Islamiyah) khususnya dari sisi kebijakan dan Undang-Undang. Negara akan mensuport penuh para pengusaha untuk memajukan industri sehingga dapat menghasilkan barang berkualitas yang mampu bersaing di pasar insternasional. Negara juga tidak akan sembarangan melakukan impor barang-barang khususnya yang masih mampu diproduksi di dalam negeri atau jika pun dibutuhkan akan membatasinya sehingga tidak akan sampai mematikan usaha masyarakat.

Jika telah jelas bahwa carut marut kondisi ekonomi di negeri ini dan fakta dianaktirikannya rakyat adalah diakibatkan oleh dipeluknya ideologi kapitalisme oleh pemerintah. Tentu kita semua tak ingin kondisi buruk ini terus berlangsung. Kita membutuhkan ideologi lain yang jelas-jelas telah terbukti berhasil mensejahterakan dan memberi ruang keadilan di masyarakat dalam hamparan sejarah di masa lalu. Bukan juga ideologi sosialis komunis yang nyata telah gagal dan ditegakkan dengan kondisi yang demikian berdarah-darah. Maka hanya Islamlah satu-satunya solusi kehidupan, yang jika diterapkan secara sempurna (kaffah) mengikuti apa yang diwasiatkan oleh Baginda Junjungan umat Rasulullah Muhammad Saw, dicontohkan secara gemilang oleh khulafaur rasyidin dan diteruskan oleh para khalifah yang menjalankan roda pemerintahan dalam naungan institusi Daulah Khilafah Rasyidah kebahagiaan dan keberkahan hidup niscaya akan dapat diraih.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Yuliyati Sambas, S.Pt.
Member Akademi Menulis Kreatif Regional Bandung

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar