Menolak Sampah Impor, Indonesia Bukan Tempat Sampah Dunia

  Selasa, 10 September 2019   Aldi Gultom
Azas Tigor Nainggolan bersama pemulung Bantar Gebang, Mbak Sri/Dok. pribadi

Kemarin, Senin 9 September 2019 saya dan teman-teman Fakta ke Tempat Pembuangan Akhir  (TPA) sampah Jakarta di Bantar Gebang, Bekasi. 

Hari itu memang kami rencanakan khusus ke Bantar Gebang bertemu teman-teman pemulung di TPA Bantar Gebang. Secara khusus saya dan teman-teman menemui dan mengunjungi Mbak Sri (55 tahun), pemulung yang berasal dari Demak, Jawa Tengah. 

Oleh Soeharto mereka para pemulung disebut Laskar Mandiri. Ya laskar mandiri, pejuang yang mandiri. Sebagai pemulung mereka berjuang sendiri tanpa ada perlindungan dari negara atau pemerintah. Sekarang ada sekitar 100 ribu orang yang bergantung hidupnya dari sampah di TPA Bantar Gebang. Mereka harus berjuang agar pulungannya bisa memberikan hidup lebih baik. 

Saat ini para pemulung sedang diguncang dengan masuknya sampah plastik dan sampah kertas impor dari luar negeri. Masuknya sampah impor membuat barang pulungan atau sampah lokal menjadi tidak berharga dan jarang dibeli oleh pabrik daur ulang. Pabrik daur ulang lebih memilih sampah impor karena murah bahkan gratis. Jelas sampah impor akan membunuh para pemulung juga membunuh lingkungan hidup kita. Kami berharap pemerintah tegas melarang dan menolak sampah impor. Indonesia bukan tempat sampah dunia.

Saya mengenal Mbak Sri sejak dia memulung di TPS Cakung Cilincing Jakarta Utara pada tahun 1989 lalu. Mbak Sri adalah rombongan pertama pemulung dari Cakung Cilincing yang pindah ke TPA Bantar Gebang. Saat itu tahun 1990 Pemda Jakarta menutup TOS Cakung Cilincing karena sudah tidak mampu lagi menampung sampah warga Jakarta. 

Pemda Jakarta membeli tanah ketika itu sekitar 85 Ha untuk menjadi penampungan sampah warga Jakarta. Saat ini luas kawasan TOA Bantar Gebang sudah lebih dari 130 Ha dan sampah warga Jakarta sudah sekitar 7500 ton per hari.  Tetap saja TPA Bantar Gebang kewalahan dengan masalah sampah Jakarta karena belum dikelola secara baik.

Tetapi bagi Mbak Sri dan kawan-kawan pemulung, TPA Bantar Gebang adalah tempat yang memberi hidup mereka dan keluarganya. Sampah dan barang bekas di Bantar Gebang yang memberi mereka pekerjaaan serta penghidupan. Mereka hidup dari sampah atau sisa warga Jakarta. 

Sudah 30 tahun saya mengenal mbak Sri dan kawan-kawan pemulung. Selama 30 tahun itulah juga saya banyak belajar dari kawan-kawan pemulung serta warga miskin lainnya bahwa hidup ini sangat berharga.  

Hidup kita jadi sangat berharga karena berjuang bukan hanya untuk mulut atau perut kita sendiri. Hidup kita jadi berarti jika kita juga berguna untuk hidup orang lain, sesama kita dan sekitar kita. 

Senang bisa reuni bersama Mbak Sri dan kawan-kawan pemulung. Ada semangat yang besar untuk hidup lebih baik dan berguna untuk sesama.

Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar