Indonesia dan IAEA Perkuat Kerja Sama untuk Tingkatkan Kontribusi Teknologi Nuklir

  Selasa, 17 September 2019   Editor
Menristek Dikti Mohamad Nasir di Sidang IAEA di Wina, Austria/Antara

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Guna meningkatkan kontribusi teknologi nuklir, kerja sama teknis Indonesia dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) terus diperkuat. Hal itu untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), sebuah program pembangunan berkelanjutan. 

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Mohamad Nasir mengatakan untuk mendukung hal ini, Indonesia memperkuat kemampuan pengamanan nuklir yang dikembangkan IAEA di kawasan Asia-Pasifik, antara lain melalui keketuaan Indonesia pada Asia-Pacific Safeguards Network (APSN).

Mohamad Nasir menyebut, saat ini Indonesia memiliki pengaturan praktis (practical arrangement) dengan IAEA untuk memudahkan kerja sama teknis di antara negara berkembang, dalam berbagai kerangka termasuk Kerja Sama Selatan-Selatan.

Dikatakan Mohamad Nasir, dengan kemampuan teknis nuklir yang makin mumpuni, Indonesia memposisikan diri sebagai negara pemberi bantuan.

''Sebagai bukti, Indonesia ditunjuk IAEA sebagai Collaborating Centre for Plant Mutation Breeding, menjadi negara kontributor IAEA Peaceful Uses Initiatives, dan menjadi negara penyedia bantuan untuk meningkatkan kapasitas teknis nuklir sejumlah negara dalam kerangka Nuclear Capacity Project yang akan dimulai tahun depan,'' ujar Mohamad Nasir, dalam Sidang Umum IAEA ke-63 di Wina, Austria, Senin (16/9/2019) kemarin.

Dalam sidang tersebut, Nasir juga mempromosikan keunggulan Indonesia lainnya, yaitu di sektor pertanian. Dengan teknologi nuklir, Indonesia berinovasi mengembangkan varietas padi dan kedelai unggul berkontribusi terhadap pencapaian ketahanan pangan nasional.

Inovasi ini mendapat dukungan dari IAEA, dan organisasi internasional terkemuka lainnya yaitu Food and Agricultural Organization (FAO), dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Tidak kalah dengan sektor pertanian, kemajuan Indonesia di sektor kesehatan juga disampaikan Mohamad Nasir. 

"Saat ini, Indonesia dan IAEA bekerja sama mengembangkan kemampuan kedokteran nuklir nasional, khususnya untuk penanganan penyakit kanker,'' ujar Mohamad Nasir. 

Hal lain yang mendapat perhatian negara-negara adalah inovasi Indonesia dalam memajukan edukasi nuklir kepada generasi muda, melalui konsep ''Internet Reactor Laboratory''. Selama seminggu ke depan, Indonesia memamerkan metode belajar jarak jauh, di mana aktivitas reaktor riset Kartini di Yogyakarta dapat dipantau secara langsung melalui jaringan internet dari Markas PBB Wina.

Secara khusus, Mohamad Nasir menyampaikan belasungkawa atas nama Pemerintah Indonesia atas mangkatnya Direktur Jenderal IAEA Yukia Amano dua bulan lalu.

Sementara terkait isu nuklir Iran, Mohamad Nasir mengapresiasi performa IAEA yang profesional, imparsial, dan obyektif dalam melakukan verifikasi dan memonitor Iran mengimplementasikan Perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Dia juga mendesak pihak lainnya yang terlibat untuk menjaga komitmen keutuhan dan kelanjutan JCPOA.

Mengenai isu nuklir Korea Utara, Indonesia menyambut baik komunikasi yang telah dibangun Amerika Serikat dan Korea Utara, serta meminta IAEA untuk selalu siap memainkan peran penting verifikasi, sekiranya tercapai kesepakatan politik diantara negara-negara yang terkait.

Selain Mohamad Nasir dan jajaran, delegasi RI pada Sidang Umum IAEA juga diperkuat sejumlah instansi terkait seperi Kemenlu, Kemenkes, BATAN, BAPETEN, KBRI/PTRI Wina dan PT. INUKI.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar