Jaksa 37, Perjuangan Nyata Tante Bule Membantu Pedagang Kaki Lima

  Kamis, 19 September 2019   Aprilia Rahapit
Marliana atau yang biasa disapa Tante Bule, di depan Jaksa 37 yang berlokasi di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat/Ayojakarta.com

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Sudah tiga tahun belakangan, perempuan lulusan Australia National University ini menjajaki bisnis kuliner tradisional Indonesia di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat. 

Namanya Marliana. Akrab disapa, Tante Bule. Bukan sekadar berbisnis kuliner, wanita kelahiran Jakarta 13 Maret 1968 ini menunjukkan kepedulian nyata terhadap kaum pedagang kaki lima (PKL). Baginya, para PKL punya peran besar dalam melanjutkan warisan kuliner tradisional Indonesia. 

Konkretnya, Marliana membuka pusat kuliner tradisional yang ia namakan Jaksa 37. Ia merekrut para PKL yang ahli memasak ragam jenis makanan khas nusantara, mulai dari gado-gado, sate ayam, bakso, sampai sayur capcay dan lain-lain. Semua masakan PKL itu lebih dahulu ia cicipi untuk memastikan kualitas dan kesedapan rasanya.

Kini pusat kuliner Jaksa 37 dikenal masyarakat Jakarta sebagai rumah makan favorit bagi para karyawan kantoran di sekitar Menteng, khususnya wilayah Jalan Jaksa dan sekitarnya. Ada juga kalangan ekspatriat yang menjadi langganan. 

Tidak cuma pusat kuliner Jaksa 37, Tante Bule juga berekspansi membuka Warung Babe di kawasan Atrium Senen, Jakarta Pusat, yang juga menjadi pusat kuliner untuk mewadahi kaum PKL.

"Saya cuma bilang mereka itu pintar," katanya optimis. 

Awalnya, ia punya pengalaman pahit melihat PKL yang ditangkapi petugas Satpol PP saat berjualan. Muncullah rasa iba dalam hatinya. 

"Saya lagi asyik-asyiknya makan, ada Satpol PP yang angkut barang mereka. Buat saya, kenapa sih dia enggak punya suatu tempat yang nyaman untuk berjualan, yang buat dia enggak terlalu gotong-gotong," ujarnya. 

"Waktu saya dulu kerja di kedutaan Amerika, saya cari tukang mie ayam langganan saya. Itu sudah enggak ada, padahal mie ayamnya enak banget. Kenapa ya dia enggak dibuatkan suatu wadah," ucap Marliana mengenang ide briliannya kala itu.

Kini Si Tante Bule punya rencana lebih besar. Yaitu membuatkan sebuah masjid di dekat Warung Babe, kemudian mengajak sekitar 200 PKL untuk berjualan kue subuh di sekitar masjid tersebut. Ia targetkan pembangunan masjid dimulai tahun 2020. 

"Targetku ketika masjid itu kebangun, untuk para jemaah salat shubuh nanti mereka bisa membeli kuliner para pedagang kue subuh, itu targetnya. Insya Allah tahun depan sudah mulai," paparnya.

Saking besar motivasinya mendukung para PKL untuk mandiri, Tante Bule hanya menetapkan iuran sewa lapak seharga Rp 10 ribu per hari. 

"Per harinya 10 ribu. Itulah cita-cita saya untuk membantu para PKL," ucap Marliana.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar