Kegelisahan Tante Bule Soal KUR yang Dipersulit dan Makanan Tradisional yang Hampir Punah

  Kamis, 19 September 2019   Aprilia Rahapit
Marliana atau yang biasa disapa Tante Bule, di depan Jaksa 37 yang berlokasi di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat/Ayojakarta.com

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Marliana atau akrab disapa Tante Bule, pemilik pusat kuliner Jaksa 37 di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, punya maksud lain di balik perjuangannya menampung para pedagang kaki lima (PKL). 

Selain agar para PKL bisa tetap berusaha tanpa melanggar aturan, lulusan Australia National University ini punya misi mempertahankan eksistensi makanan tradisional khas Indonesia. Ia tidak ingin makanan tradisional Indonesia hilang di tengah persaingan bisnis kuliner kekinian. 

Dia menyebutkan satu faktor penting yang menyebabkan pamor makanan tradisional perlahan tenggalam. Yaitu, susahnya para pengusaha kecil menengah di bidang kuliner mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank. Itulah contoh bagaimana pemerintah sangat kurang mendukung kemajuan usaha para PKL. 

"Kadang-kadang bank suka meremehkan usaha kuliner. Kayaknya mereka itu anggap enteng dan mereka selalu merasa riskan untuk memberikan modal untuk pengusaha kecil," ungkap Marliana saat ditemui Ayojakarta, di Jaksa 37, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (19/9).

Ia sendiri punya pengalaman soal itu. Segala konsep usaha kuliner telah diajukannya untuk meyakinkan pihak bank, tetapi pengajuan kredit selalu ditolak.  

"Saya sudah kasih konsep, saya sudah kasih semuanya, proposal usaha untuk begini begitu. Padahal nantinya juga menjadi kontribusi ke negara baik melalui pajak dan lainnya," ucap Marliana. 

AYO BACA : Jaksa 37, Perjuangan Nyata Tante Bule Membantu Pedagang Kaki Lima

Karena kesulitan mendapat KUR, Tante Bule berjuang dengan cara lain. Ia menggandeng temannya mengagunkan sebuah ruko demi mendapatkan kredit. Akhirnya, usaha kulinernya berkembang. Salah satu buktinya adalah berhasil mewadahi para PKL di pusat kuliner Warung Babe yang berlokasi di Atrium Senen, Jakarta Pusat, yang kini menampung 80 stan PKL. 

"Kami bersama-sama bagaimana caranya supaya enak dan nyaman usaha di sana. Dibangun dari kecil dan lama-lama besar, itu awalnya. Dananya dari bank, kami agunkan ruko dan dananya untuk usaha di Warung Babe. Alhamdulillah, setiap bulan kami lancar membayarnya," ujar ibu satu anak ini. 

Usahanya menampung para PKL didasari kegelisahan sulit menemukan jajanan atau makanan tradisional seperti asinan dan ketoprak, di pinggir-pinggir jalan.

"Kayak ketoprak saja itu sudah jarang. Sorry, saya memang American Style, tapi hati saya tetap Indonesia. Makanan tradisionalnya susah, termasuk asinan, ada juga cuma di Rawamangun dan itu hanya dua tempat. Saya cari dodol betawi itu sudah susah, terus tape uli juga susah. Yang kayak gitu-gitu yang saya concern," urainya. 

Karena itulah Marliana menganggap kemudahan mendapatkan KUR sangat penting bagi para PKL. Selain untuk berdagang dan mencari nafkah, juga mempertahankan warisan makanan tradisional.

"Mesti ada satu tempat yang benar-benar, kalau bisa, lahan yang tidak disewakan. Jadi, ada satu wadah untuk mereka, bagaimana mereka berjualan dan bagaimana mereka cari duitnya tenang," tegas Tante Bule. 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar