Menko Luhut: Sudah Saatnya Investasi First Class Korsel Masuk Indonesia

  Sabtu, 21 September 2019   Aldi Gultom
Menko Maritim, Luhut Binsar Padjaitan, dalam forum bisnis "Invest Indonesia" di Seoul, Korea Selatan/Dok. KBRI Seoul

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sudah saatnya investasi first class Korea Selatan masuk ke Indonesia. Bukan lagi investasi kelas dua yang hanya mengimpor bahan mentah dari Indonesia. 

Demikian ditegaskan Menko Maritim, Luhut B. Pandjaitan, saat menyampaikan pidato kunci pada forum bisnis "Invest Indonesia" di Seoul, Korea Selatan, yang diselenggarakan KBRI Seoul, Jumat (20/9/2019). 

Diuraikan Menko Luhut bahwa yang dimaksud dengan investasi 'first class' adalah yang mengandalkan teknologi maju, ada proses alih teknologi dan peningkatan nilai tambah atas produk yang dihasilkan. Investasi itu juga harus bisa meningkatkan kualitas SDM Indonesia, sebagaimana visi Presiden Joko Widodo di periode kedua pemerintahannya. 

Tujuan forum bisnis itu antara lain untuk meyakinkan investor Korsel agar bersedia meningkatkan investasinya di Indonesia. 

"Saya ingin meyakinkan anda bahwa kami akan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pemasok global dengan memberikan insentif pada produksi barang-barang yang memiliki nilai tambah," demikian Menko Luhut. 
 
Korea Selatan merupakan satu dari tujuh investor asing terbesar di Indonesia dengan total investasi kurun 2014-2019 mencapai 7,58 miliar dolar AS, 55 persennya terkonsentrasi di sektor sekunder, utamanya permesinan dan elektronik. Sektor lainnya termasuk pertambangan, listrik, gas, air, serta karet dan plastik. Dari sisi lokasi, investasi Korea ini sebagaian besar masih berada di Pulau Jawa belum meluas ke pulau lainnya.

Secara detail Menko Luhut mengemukakan peluang investasi di sektor hilir domestik yang  memiliki nilai tambah tinggi, seperti pengolahan mineral nikel, bauksit, dan mangan. 

Saat ini Pemerintah RI tengah membangun kawasan industri terpadu pengolahan nikel, di Morowali, yang mencakup smelter, stainless steel, dan carbon steel. Dengan volume ekspor nikel terkini sebesar 612 juta dolar AS per tahun (19,25 juta ton), nilainya bisa berlipat hingga 10,2 kali jika nikel sudah diolah menjadi stainless steel, mencapai 6,24 miliar dolar AS. 

Demikian pula untuk mineral bauksit, sebagai bahan baku utama aluminium yang sangat berlimpah di Indonesia. Jika diproses menjadi serbuk Alumina, nilai ekspornya bertambah hampir empat kali lipat, sementara jika diolah sampai menjadi blok Aluminium nilainya bisa naik 11,2 kali lipat.  

Cadangan bauksit Indonesia sendiri mencapai 1,2 miliar ton yang bisa diolah menjadi blok alumunium dan dijual dengan harga 1,700 dolar AS per ton. Peluang investasi di sektor hilir smelter bauksit dibuka Pemerintah Indonesia di wilayah Bulungan, Kalimantan Utara. 

Untuk itu, pemerintah Indonesia mengajak Korsel meningkatkan investasi di sektor yang melibatkan pengolahan ketiga mineral itu. Sejumlah insentif seperti tax holiday siap diganjar pemerintah sesuai besaran nilai investasi. Di samping itu, regulasi yang ramah investasi, kemudahan memperoleh lahan industri, dan birokrasi perizinan yang jauh lebih pendek diterapkan dengan Online Single Submission (OSS).

Menko Luhut mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia akan terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang setara dan berkeadilan. 

"Kami akan terus melakukan pembangunan yang merata di seluruh wilayah Indonesia," ucapnya. 

Dengan pemaparan yang begitu gamblang dari Menko Maritim, Dubes RI di Seoul, Umar Hadi, mengungkapkan bahwa investor Korsel bisa jadi nomor satu di Indonesia. 

"Saya yakin kita bisa tingkatkan arus investasi Korsel ke Indonesia dan Indonesia harus jadi destinasi utama penanaman modal bagi Korsel di kawasan," katanya. 

Di forum bisnis itu, Menko Luhut  didampingi oleh Dubes RI Umar Hadi dan  Ketua Komite Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Korsel KCCI, Yoon Chun-sung, juga berkesempatan menyaksikan penandatanganan  Nota Kesepahaman antara BKPM dengan Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) dalam bidang kerja sama infrastruktur dan pembangunan wilayah perkotaan.

Forum bisnis Invest Indonesia, yang dibuka oleh Dubes Umar Hadi, merupakan salah satu dari rangkaian acara peringatan Hari Kemerdekaan ke-74 RI dan Hubungan Diplomatik ke-46 Indonesia-Korsel di Seoul. Forum ini diadakan bekerja sama dengan BKPM, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, dan Asosiasi Kawasan Industri Indonesia. 

Selain menghadirkan Menko Maritim selaku pembicara kunci, forum juga menampilkan sejumlah pembicara antara lain co-founder unicorn BukaLapak, Muhammad Fajrin Rasyid, dan CEO aplikasi rumah makan Qraved, Steven Kim, dan Deputi BKPM, Ikmal Lukman. 

Klinik konsultasi bisnis yang melibatkan Kemenaker, Ditjen Imigrasi, dan Ditjen Pajak juga dibuka di sela-sela forum untuk memfasilitasi pertanyaan pelaku bisnis Korsel tentang aturan terkait ketenagakerjaan, keimigrasian, dan perpajakan.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar