Indonesia Ikuti Kongres Minyak Kelapa Sawit Internasional Pertama di Ekuador

  Rabu, 25 September 2019   Aldi Gultom
Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Togar Sitanggang, memberikan pemaparan dalam Kongres Minyak Kelapa Sawit Internasional pertama di Ekuador, pada 19-20 September 2019/Foto: KBRI Quito

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Indonesia telah berpartisipasi menjadi keynote speaker pada Kongres Minyak Kelapa Sawit Internasional pertama di Ekuador, pada 19-20 September 2019 di kota Quevedo, Ekuador. 

Konfrensi yang diadakan oleh ANCUPA (La Asociacion Nacional de Cultivadores de Palma Aceitera) atau asosiasi nasional kelapa sawit di Ekuador tersebut, dihadiri sekitar 300 peserta baik dari dalam dan luar negeri. Berita ini redaksi terima dari KBRI di Quito.

Kongres dibuka oleh beberapa pejabat penting, satu di antaranya adalah Dubes RI Quito, Diennaryati Tjokrosuprihatono. Dalam pidato singkatnya, Dubes menyampaikan keprihatinanya pada isu epidemi kelapa sawit, yaitu Rod But atau Pudricion del Cogolo yang kini telah menyerang dan mematikan hampir 40 persen ladang kelapa sawit di Ekuador. 

Ditekankannya, walau Indonesia tidak memiliki pengalaman yang sama dengan penyakit tersebut, namun tetap dapat dilakukan pertukaran pengalaman dan informasi terkait cara dan pendekatan yang dapat dilakukan dalam tangani wabah penyakit. 

Sebagai pembicara dari Indonesia pada Kongres tersebut, hadir Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Togar Sitanggang, yang membawakan materi perspektif Indonesia sebagai produsen terbesar kelapa sawit terhadap masa depan industri minyak kelapa sawit dunia. Togar sampaikan bahwa permintaan dunia terhadap minyak kelapa sawit terus meningkat meski Indonesia sedang dilanda permasalahan dengan Uni Eropa. 

Untuk konteks Ekuador yang kini berada di persimpangan jalan akibat wabah penyakit Rod But, Indonesia sampaikan harapannya agar Ekuador tetap bertahan, mengingat terus meningkatnya permintaan dunia. Togar menekankan bahwa minyak kelapa sawit tidak hanya dapat digunakan pada industri makanan maupun produk rumah tangga atau kecantikan, namun juga sebagai sumber energi. 

Togar menambahkan, salah satu kebijakan penting Indonesia terkait hal ini adalah peningkatan penggunaan bahan bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada tahun 2020. Bahkan, ke depannya diharapkan mencapai B50. Peningkatan penggunaan biodiesel ini diharap bisa meningkatkan demand domestik akan minyak kelapa sawit guna mengantisipasi turunya ekspor kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa. Hal ini, menurut Togar, dapat ditiru Ekuador untuk mulai meningkatkan penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar. 

Selain Togar Sitanggang, pada kesempatan tersebut hadir pula Kepala Divisi Peneltian dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di Indonesia, Suroso Rahutomo. Kehadiran Suroso sebagai narasumber dalam kunjungan lapangan yang telah dilakukan pada 17-18 September 2019 di daerah perkebunan kelapa sawit di Simon Bolivar.

Dari hasil kunjungan ini, KBRI harapkan dapat terjalin kerjasama konkret antara dua belah pihak, utamanya di bidang penelitian. KBRI juga sampaikan keterbukaanya untuk diskusi lebih lanjut mengenai area kerjasama lain yang mungkin dilakukan kedua negara dalam bidang kelapa sawit. 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar