Yamaha

Mengenang Aristides Katoppo, Bapak Jurnalis Dan Pendaki Gunung Indonesia

  Senin, 30 September 2019   Aldi Gultom
Penulis bersama almarhum Aristides Katoppo

Apakah ini hanya kebetulan atau kebetulan yang memang harus terjadi. Sebagai anak yang pernah tergabung dalam group pencinta alam di SMA, saya tidak banyak mendengar apalagi mengenal para senior legendaris yang punya perjalanan cerita luar biasa. Sepertinya saya hidup di dunia lain saja. Tidak tahu apa-apa.

Semua kebetulan ini berawal dari janjian ketemuan dengan Bang Syamsirwan Ichien di Jakarta awal September yang lalu, saya mendapatkan buku Norman Edwin edisi Catatan Sahabat Sang Alam editor Rudy Badil yang sudah sulit ditemukan di pasaran. Terimakasih atas bukunya ya Bang.

Rasanya perjumpaan ini terlalu singkat, maka ngopi-ngobrol bareng ingin kami lanjutkan dalam acara memperingati 50 tahun kepergian Soe Hok Gie yang menginspirasi banyak pendaki dari tulisan-tulisan yang dibuat semasa hidupnya. Yang kebetulan acara ini diadakan di Kota Malang, dan Desa Ranupane sebagai tempat malam renungan.

Tanggal 20 September 2019, pagi hari saya mengendarai motor menuju Malang, dengan sabar saya menunggu di halaman homestay. Ternyata Bang Syamsirwan Ichien datang bersama Bapak Herman O Lantang dan ibu Joice. Tidak lama datang lagi yang lain, setelah berkenalan ternyata beliau adalah Bapak Aristides Katoppo. 

Langsung dalam hati saya berkata, salut pada semangat beliau-beliau ini, dalam usia seputaran 80 tahun masih berkomitmen untuk hadir dari Kota Jakarta dan bersedia menjadi pembicara dalam acara ini. Tanpa terasa mata saya pun berkaca-kaca. Kelu rasa lidah ini melihat semangat dan bahagia yang terpancar dari wajah-wajah beliau.

Malam itu, 20 September 2019, dari Malang kami menuju desa Ranupane di kaki Gunung Semeru. Saya ikut hadir dalam acara malam renungan kepergian Soe Hok Gie. Sementara Bapak Aristides Katoppo tetap berada di Homestay untuk istirahat. Bapak Herman O Lantang yang ikut menyertai kami. 

Dalam sesi baca puisi dinyanyikan juga lagu legendaris para pendaki berjudul Mahameru, yang diciptakan oleh Djody Wuryantoro ML 080 UI di sekretariat TMS 7 (Top Mountain Stranger) dengan selembar kertas bekas. Info itu saya dapatkan dari Bang Ichien. 

Dalam gelap dingin yang diterangi api unggun diiringi sebuah gitar, semangat itu terasa sangat menggelegar, di mana hati saya bergetar kencang menahan bahagia dan haru, seakan terbawa dalam 50 tahun yang lalu. Tidak terasa saya menitikkan air mata, untung gelap sekali, sehingga tidak ada yang tahu. 

Menjelang tengah malam, kami kembali ke Homestay di Malang. Saya pribadi belum tahu akan menginap di mana, karena dari awal tidak tahu jadwal kegiatannya. Entahlah..., akhirnya saya dapatkan tawaran dari Ibu Bina untuk ikut menginap di kamarnya bersama para sesepuh legendaris. Bersyukur deh, saya bisa istirahat segera.

Pagi 21 September 2019, bangun tidur saya menuju lobby yang masih sepi. Tidak lama berselang semua berkumpul ngobrol dan sarapan. Pagi inilah saya baru berkesempatan untuk bertemu dan menyapa Pak Aristides, suaranya lembut, senyumnya selalu hadir menenangkan. Saya perhatikan kakinya, agak bengkak. Dan ada air di tulang keringnya, saya tidak berani bertanya. Lalu teman-teman Pak Aristides juga memperhatikannya dan langsung menyarankan untuk kakinya di angkat ke kursi supaya tidak menggantung, Dan membersihkan cairan yang keluar dari kakinya.

Dalam suasana ini pak Aristides tetap tenang dan tersenyum. Hmmm...., luar biasa. Momen langka seperti ini harus diabadikan, walaupun semuanya belum mandi.

Setelah selesai ngobrol melepas rindu, nostalgia sesama yang sepuh-sepuh, di mana saya lebih banyak diam sebagai pendengar, kami semua bersiap untuk menuju tempat talkshow. 

Selain Bapak Herman O Lantang, Pak Aristides juga menjadi pembicara dalam acara ini. Saya merasa sangat beruntung, bisa mendengar langsung pengalaman kejadian dari orang yang terlibat dalam detik-detik meninggalnya Soe Hok Gie. Nampak masih segar dalam ingatan Beliau. Semua diceritakan dengan lancar dan lugas. Pengen rasanya saya peluk erat beliau-beliau ini. Entahlah..., rasa itu bercampur aduk di dalam hati ini. Yang jelas saya sangat terharu dan bahagia.

Tapi hari di Minggu tanggal 29 September 2019, saya sangat sedih mendengar berita kepergian Bapak Aristides Katoppo pada pukul 12.05 WIB. Beliau telah menghadap pada sang pencipta. 

Selamat jalan Senior, pulanglah dengan damai dan rasa bahagia. Doa terbaik kami selalu menyertaimu. Akan selalu ada dalam ingatanku walau perjumpaan itu hanya sepenggal waktu.

Yanni Krishnayanni
Pendaki Gunung, Komunitas Swara Ibu Asah Bangsa Indonesia (SIABI)

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar