Kenaikan Tarif Cukai Bukti Perokok Hanya Jadi Sapi Perah

  Rabu, 09 Oktober 2019   Dhika Alam Noor
Ilustrasi cukai rokok/CNNIndonesia

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Keputusan pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen dinilai justru menyengsarakan rakyat. 

Bukannya tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi melainkan kondisi daya beli masyarakat yang sedang lesu.

''Harusnya negara memperhatikan daya beli masyarakat juga ketika mau buat kebijakan,'' ujar Ketua Komunitas Kretek Aditia Purnomo saat dihubungi Ayojakarta, Rabu (9/10/2019).

Aditia menjelaskan, selama ini pungutan cukai dibebankan kepada konsumen yang menanggung semua kenaikan harga. Belum lagi adanya pungutan pajak rokok dan pajak pertambahan nilai (PPN) yang juga harus ditanggung oleh konsumen.

''Bayangkan, dari 100 persen harga rokok sekitar 70 persen dibayarkan untuk pemasukan negara dan daerah. Lalu konsumen disebut hanya membuat pengusaha kaya, padahal yang paling banyak menikmati uang perokok adalah negara,'' jelasnya.

Menurut Aditia, kondisi dan daya beli konsumen sama sekali tidak dipertimbangkan oleh pemerintah. Dengan begitu, sudah jelas jika pemerintah memang hanya memandang perokok sebagai sapi perah penghasil uang. Keputusan tersebut pun dikhawatirkan berdampak pada dunia industri. 

''Yang pasti karena kebijakan kenaikan tarif cukai ini efeknya bakal simultan. Konsumen tidak mampu beli, pilih tingwe atau rokok murah, rokok reguler tidak laku, produksi menurun, pabrik kurangi tenaga kerja, pabrik kurangi kuota pembelian tembakau, panen tembakau petani tidak terserap,'' paparnya. 

Adapun sebelumnya, pemerintah sepakat menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen mulai tahun 2020. Dengan begitu, rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari saat ini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar