Prabowo Masuk Kabinet Jokowi Riuh Medsos Mereda

  Selasa, 22 Oktober 2019   Widya Victoria
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto/Republika

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM  -- Keriuhan yang terjadi di media sosial antar pendukung Prabowo Subianto dengan Joko Widodo semakin berkurang. 

Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, pemberitaan tentang calon menteri berpengaruh. Kata “keringat” digunakan pendukung Jokowi, supaya Jokowi mengutamakan mitra koalisi. Sementara kata “konsisten” digunakan pendukung Prabowo, agar Prabowo jadi oposisi. 

“Tren penurunan sebenarnya dimulai sejak pertemuan Prabowo dan Jokowi di MRT pada 13 Juli 2019," kata Hariqo di Jakarta, Selasa (22/101/2019).

Semakin menurun, lanjut dia, ketika gerakan mahasiswa dan pelajar turun ke jalan pada 23 - 30 September 2019. 

"Dari banyak isu, penolakan terhadap revisi UU KPK dan bahaya oligarki telah mempersatukan pendukung Jokowi dan Prabowo," jelas Hariqo yang juga penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial atau #SMTmedsos.

Menurun lagi, kata Hariqo, ketika Prabowo kembali bertemu Jokowi pada 11 Oktober 2019. Kemudian ada pertemuan Prabowo dengan apra pimpina partai politik pendukung Jokowi saat Pemilu 2019.

"Situasi semakin kondusif dengan kehadiran Prabowo dan Sandiaga Uno saat pelantikan Jokowi-Maruf pada 20 Oktober 2019," jelas dia. 

Menariknya, menurut Hariqo adalah munculnya tagar #MatikanTVSeharian tidak hanya berisi konten ketidaksukaan terhadap seseorang, melainkan juga terhadap ketidakkonsistenan perkataan Jokowi maupun Prabowo selama masa kampanye. Selain itu mencuat penyesalan terhadap pengamanan yang berlebihan.

Ia mencermati penurunan signifikan terjadi pada 14-21 Oktober dipicu kabar Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo akan jadi menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf.

Menurut Harigo, terbaca kecurigaan warga di medsos bahwa isu radikalisme, komunisme, pancasila, anti korupsi, keyakinan, suku, agama, pentingnya oposisi, sumber daya alam, dan lain-lain digunakan untuk memperkuat militansi para pendukung agar terus loyal hingga hari H pencoblosan. 

"Sehingga ada ungkapan, jika ujungnya hanya bagi-bagi kekuasaan, kenapa harus perang-perangan saat Pilpres," lanjut Hariqo.

Sebab, menurut Hariqo, tidak terbayangkan sebelumnya Jokowi dan Prabowo akan berkoalisi. Selama ini keduanya dianggap seperti minyak dan air. Meski juga ada harapan bahwa pemerintahan akan semakin kuat dengan dua kekuatan dan pengaruh besar berkoalisi yang memang sebelum Pilpres pernah diwacanakan bersatu.

Di sisi lain ada kekhawatiran munculnya matahari kembar serta potensi otoriter karena oposisi di parlemen hanya sedikit.

“Satu hal yang cukup memberikan harapan adalah bangkitnya gerakan mahasiswa, pelajar dan pengguna media sosial. Kehadiran mereka bisa menutupi kekhawatiran terhadap kualitas pengawasan anggota DPR/DPRD/DPD hasil pemilu 2019," pungkas Hariqo.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar