Yamaha

Buat Konten yang Manfaatnya Banyak, Siapa Tahu Viral

  Rabu, 23 Oktober 2019   Editor
Repro

KARYAWAN pabrik sabun setiap harinya memproduksi barang (sabun) yang sama. Minggu pertama, minggu kedua, dan seterusnya, mereka memproduksi sabun yang sama. Berbeda dengan tim media sosial (medsos). Personil tim medsos memproduksi konten yang setiap hari berbeda.
 
Selain itu, konten yang diproduksi wajib benar. Jika konten itu berupa tulisan, Anda baca harus benar, gaya bahasa harus sesuai dengan target pesan, dan lain-lain (Hlm. 175). Bisa dibully terus-menerus jika konten yang dibuat salah-salah.

Apakah benar saja cukup? Ternyata belum. Konten yang diproduksi tim medsos juga harus menarik dan sesuai selera publik. Tak heran, dibutuhkan personil tim medsos yang jago, baik di bidang produksi hingga distribusi konten.   

Konten yang dibuat juga diharapkan agar bisa viral. Secara umum, viral itu jika konten dan produk yang kita buat dibicarakan banyak akun medsos, diberitakan media dan menjadi obrolan di darat (Hlm. 153). Skala viral pun berbeda, bisa viral di internal organisasi, daerah, nasional dan global.

Semakin besar manfaat produk dan konten yang Anda buat, semakin viral produk tersebut (Hlm. 154). Penulis buku ini mencontohkan Gojek, Grab dan www.change.org, yang menjadi viral karena manfaatnya banyak. Gojek dan Grab, misalnya, bisa mengurangi pengangguran. Hadirnya start-up itu menambah lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

Start-up tersebut juga membuat makin efisien hidup masyarakat. Pelanggan yang memakai jasa ojol itu merasa nyaman karena tarifnya yang pasti dan bisa sampai di tempat tujuan tak terlambat. Pengemudi ojol yang menyetir dengan ugal-ugalan juga bisa dilaporkan dengan mudah.

Hariqo, penulis buku ini memberikan tips lain agar konten yang dibuat tim medsos bisa viral. Jika organisasi Anda belum bisa membuat konten dan produk yang viral di segala lapisan masyarakat, maka buatlah konten yang bisa viral di kalangan masyarakat tertentu (Hlm. 151).

Jonah Berger dalam bukunya berjudul “Contagious, Why Things Catch On” mengungkapkan rahasia sebuah produk atau konten menjadi viral. Sebuah produk atau konten, menurutnya, harus memenuhi STEPPS, akronim dari Social Currency, Triggers, Emotion, Public, Practical Value dan Stories. Buku “Seni Mengelola Tim Media Sosial” ini juga mengajak pembaca untuk mempraktekkan enam hal tersebut, dan bisa diisi di dalamnya.

Memang banyak buku yang menjelaskan tentang media sosial. Namun, hanya buku ini yang menjelaskan mengenai tim media sosial.  Tim media sosial mewadahi organisasi yang punya minat, bakat di bidang produksi dan distribusi konten (Hlm. 22). Hakikat tim medsos bukanlah mengelola medsos secara teknis, tapi mengelola pikiran orang, mengelola titik temu antara kepentingan organisasi Anda dan harapan masyarakat.

Berapa jumlah personil tim medsos?. Minimal tiga orang dan maksimal bisa berapa saja tergantung kebutuhan dan kemampuan organisasi Anda (Hlm. 47).

Mulai dari tahapan pembentukan tim medsos, rekrutmen, pembagian tugas dan berbagai model tim medsos, kepemimpinan tim medsos, hingga anggaran tim medsos dijelaskan dalam buku ini. Buku ini juga mengupas 126 Konten dan aktivitas pelibatan publik, pengelolaan medsos tokoh, penyelesaian krisis komunikasi, pengelolaan grup percakapan online, penyusunan strategi komunikasi, kalender medsos, 60 catatan terkait literasi, dan banyak tips lainnya.

Akhirnya, sebagai satu-satunya buku yang membahas tim media sosial, buku ini cukup komplit. Isi buku ini bisa langsung dipraktekkan dalam tim media sosial berbagai organisasi. Buku ini juga didukung dengan studi kasus berdasarkan pengalaman penulis selama bertahun-tahun. Tidak akan rugi jika Anda memiliki buku “Seni Mengelola Tim Media Sosial” ini.

 
Diresensi M. Samsul Arifin, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UMJ


Buku berjudul "Seni Mengelola Tim Media Sosial" diterbitkan Yayasan Komunikonten pada September 2019. Penulisnya adalah Hariqo Wibawa Satria, M.HI. 

 


 


 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar