Yamaha

Jurnalis Korea Rasakan Sensasi Ritual Bersih Diri di Bali

  Senin, 04 November 2019   Wahyu Sabda Kuncahyo
Delegasi Journalist Association of Korea Korea bersiap mengikuti ritual melukat di sumber air suci Taman Pancamuhan/PWI

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Melukat adalah salah satu tradisi ritual untuk membersihkan diri dari 10 sifat buruk manusia yang ada di Desa Adat Pakraman Sala, Abuan, Kabupaten Bangli, Bali. 

Melalui ritual melukat di sumber air suci Taman Pancamuhan diyakini juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Termasuk sakit akibat black magic seperti pelet dan lainnya.

''Dengan melukat di sumber air Taman Pancamuhan diharapkan Ida Sang Hyang Widi Wasa menganugerahkan kemampuan spiritual serta pengetahuan agar mampu dimanfaatkan dalam kehidupan,'' jelas Bendesa Adat Desa Sala I Ketut Kayana kepada rombongan Journalist Association of Korea Korea (JAK) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat pada Minggu (3/11/2019).

Dijelaskan Kayana, makna dari tradisi melukat yaitu untuk menyucikan diri melalui air utama (Toya Daha). Artinya, air yang belum digunakan siapapun untuk mandi. Secara garis besar, masyarakat sekitar percaya mandi dengan Toya Daha dapat membersihkan diri dari 10 energi negatif atau Dasamala yang ada dalam diri seperti Kama yaitu nafsu atau keinginan yang tidak terkendalikan, Loba yaitu ketamakan yang selalu ingin mendapatkan lebih, Krodha yaitu amarah yang tidak terlampau batas, Mada yaitu rasa maduk yang menggelapkan pikiran, Moha yaitu kebingungan yang menyebabkan seseorang sulit berkonsentrasi sehingga tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, dan Matsarya yaitu iri hati yang menyebabkan permusuhan.

''Ritual melukat dimulai dari matur piuning yaitu memohon restu pada Tuhan agar prosesi pengelukatan berjalan lancar, serta diberikan restu oleh Tuhan. Selanjutnya prosesi mesiram di pecampuhan yang mirip dengan pertigaan jalan,'' terang Ketut Kayana.

Pecampuhan diyakini sebagai sebuah tempat yang sangat suci karena pertemuan dari dua buah sungai. Diyakini pula pada pecampuhan tersebut sebagai tempat berkumpulnya para dewa atau yang biasa disebut Dewa Prayag.

Di sekitar sumber air suci Taman Pancamuhan terdapat beberapa air terjun dan juga kolam air tempat masyarakat melakukan ritual suci. Setiap orang yang ingin melaksanakan ritual melukat wajib menggunakan kain merah sebagai perlindungan dari sang pencipta yakni Dewa Brahmana. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar