Jakarta Mau Dibawa ke Mana?

  Kamis, 07 November 2019   Editor

Bung Karno pernah menulis begini mengenai Jakarta. Katanya, “Jakarta harus memberi contoh gemilang bagi rakyat dan bangsa. Di samping Asian Games, Monumen Nasional, Masjid Istiqlal dan Jakarta Outer Ring Road, Jakarta harus ditambahi monumen-monumen dan gedung-gedung raksasa serta jalan lalu lintas yang lebar sebagaimana terdapat di semua ibu kota negara penting seperti Paris, Brazil, dan New York.”

Ya, Jakarta - walau sebentar lagi tidak menyandang sebagai Ibu Kota -  tetap harus menjadi contoh gemilang bagi rakyat dan bangsa ini. 

Tapi persoalannya mengapa belakangan ini Jakarta gaduh luar biasa. Mulai dari politik anggaran yang tidak memihak rakyat karena sekoyong-koyongnya muncul anggaran aneh bin ajaib seperti pengadaan lem aibon Rp 82 miliar, lalu anggaran pulpen Rp 635 miliar, kertas Rp 213 miliar, tinta printer Rp 407 miliar lalu anggaran penataan jalur sepeda yang melonjak menjadi Rp 62,5 miliar dengan alas an harga cat impor meroket.

Terakhir kegaduhan kembali menyeruak gegara pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Jenderal Sudirman yang dibangun tanpa atap.  

Jauh sebelumnya itu muncul persoalan pembabatan habis sejumlah pohon Angsana di sekitar Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Pohon-pohon besar itu harus dibabat habis karena proyek pelebaran trotoar di sana. Ujung-ujungnya, sebagian Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta lenyap tinggal kenangan. Dia hanya menjadi sejarah sebuah peradaban di kota sekelas Jakarta.

Energi Jakarta hanya habis terkuras karena urusan tetek-bengek yang sarat kepentingan publik tersebut. Warga memprotes terutama melalui media sosial. Bahkan, sejumlah persoalan itu viral dan menjadi trending topic. Ada yang pro. Ada pula yang kontra. Namun, sayangnya justru lebih banyak yang kontra. Sementara pimpinan kota ini hanya mampu merangkai kata demi kata lalu menjadi kalimat untuk meyakinkan warga. Istilahnya bersilat lidah untuk menjawab kegaduhan itu.   

Lantas muncul pertanyaan: mau dibawa ke mana Jakarta ini? Apalagi sebentar lagi predikat Ibu Kota akan hilang selamanya dari sosok kota ini.

Yang pasti Jakarta harus menjadi kota sehat yang dihuni warganya yang bahagia dan sejahtera. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merumuskan konsep kota sehat. Kota sehat diibaratkan organisme hidup yang kompleks, bernapas, bertumbuh, dan terus-menerus berubah. Kota yang terus mengembangkan sumber dayanya sehingga warganya dapat saling mendukung dalam memaksimalkan potensinya. 

Dengan sendirinya harus ada keseimbangan antara pengembangan ekonomi, industri dan jasa untuk kepentingan komersial dengan kepentingan sosial. Antara aspek privat dan aspek publik. 

Dalam konteks kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, hal di atas menuntut kemampuan pemerintah menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan kepentingan publik warganya. Bukan rahasia umum bahwa terkadang kepentingan publik sering dikalahkan. Terkadang pengelola seenaknya saja membangun kota tanpa menghiraukan aspirasi penghuni kota. 

Mengejar pendapatan asli daerah (PAD) silakan saja tetapi tetap jangan melupakan kepentingan publik yang paling hakiki. Pengelola kota yang baik akan menumbuhkan rasa percaya (trust) masyarakat. Jika ini yang terjadi maka akan memicu masyarakat berperilaku kontributif dan partisipatif bagi pengembangan sebuah kota. Pemerintahan yang bersih, kreatif dan berkomitmen akan memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk menyumbang bagi terwujudnya sebuah kota yang diidamkan warganya.

Dalam konteks ini maka tidak keliru jika warga juga harus mengetahui mau dibawa ke mana Jakarta nantinya ke depan. Mau jadi apa kota ini setelah predikat sebagai Ibu Kota Negara lenyap sebentar lagi lho!

Kota bisa menciptakan kebahagiaan, menginspirasi kemajuan, memberikan pencerahan pada warganya, menyinergikan segala ide, pengetahuan dan inovasi. Karena hanya kota-kota yang unggul saja yang dapat membangkitkan sebuah bangsa. Kota-kota yang unggul akan membangkitkan sebuah perabadan yang sesungguhnya. Tentunya Jakarta pasti menginginkan itu.

Ingat Jakarta pernah gagal ketika rencana umum tata ruang (RUTR) 20 tahunan tercabik-cabik akibat campur tangan pengembang sehingga banyak ruang publik yang digadaikan demi kepentingan pundi-pundi APBD. Ingat bagaimana terjadi perubahan peruntukan di sekitar Semanggi dari Ruang Terbuka Hijau menjadi kawasan bisnis dan perhotelan. Koefisien dasar bangunan (KDB) 20 persen di wilayah Jakarta Selatan pun terabaikan. Padahal KDB 20 persen itu dimaksudkan untuk menjaga cadangan air bagi warga Jakarta ke depan. Kawasan Kemang Jakarta Selatan yang dulu untuk permukiman kini telah berubah menjadi kawasan kuliner dan perkantoran yang kian padat saja. 

Jujur warga Jakarta juga membutuhkan sebuah kota yang meriah dan menyenangkan. Tengok saja bagaimana New York telah menjadi kota yang asik untuk itu. Setiap waktu selalu ada beragam festival dan parade. Central Park atau Bryant Park menjadi lokasi munculnya pemusik-pemusik jalanan yang sama bagusnya dengan pemusik klub atao hotel mewah sampai pagelaran orchestra musik klasik yang megah. Di dalam taman kota yang indah juga diadakan berbagai event yang menyenangkan bagi semua orang seperti festival kuliner, festival film di taman, lomba laying-layang hingga pertunjukan kembang api yang meriah pada pergantian tahun baru. 

Di sana juga sering diadakan pertunjukan-pertunjukan teater denga cerita-cerita yang seru, menyenangkan, menegangkan dan juga menginspirasi seperti pargelaran “Shakespeare in the Park” di Central Park Kota New York.

Di taman itu, warga juga bisa melakukan pelbagai macam aktivitas. Olahraga, jogging, bersepeda Bersama teman-teman atau piknik Bersama keluarga. Mereka bisa membaca novel, berleha-leha sambal menikmati keindahan pepohonan yang rindang. Indahnya!

Udara kota di sana juga terasa lebih segar dan menyenangkan. Pepohonan yang rimbun membuat panas matahari berkurang dan kelembaban udara terlindungi. Polisi udara yang minimal juga makin berkurang karena pepohonan menyerap elemen-elemen polutan seperti karbondioksida. Sangat meyenangkan berjalan-jalan di kota yang udaranya sejuk dan segar apalagi di pagi hari, terlebih kesegaran udara setelah habis turun hujan. Benar-benar sebuah kota impian.

Jakarta seharusnya diarahkan ke sana. Jakarta mesti memberi kenyamanan dan kebahagiaan bagi warganya. Ingat kemajuan sebuah kota tidak diukur dengan banyaknya mal, apartemen atau gedung janggung yang berebut ingin mencakar langit tetapi lebih kepada bagaimana warga merasa nyaman, betah dan merasa memiliki kota ini seperti memiliki dirinya sendiri. 

Jadi kembali ke pesan Bung Karno tadi:  apakah Jakarta sudah memberi contoh gemilang bagi rakyat dan bangsa? Atau sebaliknya Jakarta hanya menjadi pusat kegaduhan hanya gegara politik anggaran yang memunculkan mata anggaran yang aneh bin ajaib itu?

 

Norman Meoko
Wartawan senior

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar