Buta Huruf di Medan Nasionalisme dan Otsus

  Kamis, 07 November 2019   Editor
Ilustrasi

Sejarah nasional dengan bangga menuturkan dari generasi ke generasi mahalnya harga diri bangsa Indonesia yang merdeka dari penjajahan dengan jalan perang. Bahwa dengan sangat hormat dan harga diri yang mahal bangsa ini bebas dari musuh lewat jalan paling mulia yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban yakni pertumpahan darah, mayat-mayat bergelimpangan, dan kehilangan. 

Sejarah lalu menuturkan dengan pilu bahwa kemenangan yang diperoleh dalam perang harus dirayakan dengan lagu-lagu kematian mengantar tubuh-tubuh kaku, yang kemudian dihormati sebagai pahlawan, ke liang kubur sunyi. Itulah mengapa kehormatan dan harga diri adalah hakikat yang diperjuangkan dalam perang. 

Masa berganti, kehormatan dan harga diri tak pernah mati. Tak pernah digiring ke liang kubur sunyi dengan lagu-lagu paling pilu. Ia kini memiliki nama baru: nasionalisme. Dari orde lama, orde baru, reformasi hingga revolusi mental ia disebut nasionalisme. Seperti kehormatan dan harga diri, nasionalisme adalah anak dari pertumpahan darah, mayat-mayat bergelimpangan dan kehilangan. Setelah melewati masa-masa yang tak pernah lepas dari masalah nasionalisme kini tumbuh besar dan kokoh. Apa artinya nasionalisme? Anda mungkin bertanya-tanya demikian. Nasionalisme adalah kehormatan dan harga diri bangsa.  

Semua orang percaya pada satu kehidupan baru yang diberikan nasionalisme: merdeka. Kita terus percaya hingga kini bahwa kita sudah merdeka. Atas nama nasionalisme kita akan terus mempertahankan kehidupan yang merdeka ini. 

Mappi. Sebuah medan perang lain di pedalaman Papua. Ia memang sebuah kabupaten yang berdiri sekitar tahun 2002 dari Merauke. Bagi anda Mappi adalah sebuah pemerintahan kecil dalam negara bersama segala macam perangkatnya. Namun, bagi si Buta Huruf, Mappi adalah sebuah medan perang lain di pedalaman Papua yang harus ditaklukan dengan kebodohan. 

Orang-orang Mappi harus tetap bodoh. Begitulah prinsip yang berlaku di medan perang Buta Huruf. Ketika berdiri sebagai sebuah kabupaten, bidang yang paling tidak siap adalah kependidikan, kata Bupati Mappi saat ini pada suatu pertemuan. Inilah penyebab utama Buta Huruf tetap menang di medan Mappi yang orang-orangnya merasa sudah merdeka bersama nasionalisme dan otonomi khususnya. Bidang kependidikan yang meliputi sekolah, tenaga pendidik, dinas pendidikan, dan sistem pendidikan belum dianggap penting dalam perang melawan Buta Huruf.

Dari berdirinya hingga sekarang, Mappi masih dikuasai Buta Huruf. Ironisnya, dalam semangat nasionalisme dan otonomi khususnya, Mappi tetap merasa baik-baik saja ditindas Buta Huruf. Membantu mengingatkan, Mappi sebaiknya menyadari bahwa sekolah adalah satu-satunya solusi tepat yang bisa menaklukan Buta Huruf. 

Sekolah dan sistem pendidikan yang bagus sangat diperlukan untuk Mappi saat ini. Dalam perjuangan ini guru adalah pemimpin pasukan perang. Sedangkan Baca, Tulis, Hitung adalah senjatanya. Gedung sekolah yang layak pakai serta kedisiplinan administrasi adalah markas besar tempat para pejuang; kepala sekolah, guru, pengawas dan peserta didik mengatur siasat dan strategi serta mengevaluasi dengan serius proses kerja di medan tempur melawan Buta Huruf.

Benarkah nasionalisme mutlak membawa kehidupan baru yang merdeka? Benarkah setelah nasionalisme tak ada lagi perang? Buku-buku sejarah mungkin belum mencatatnya namun realitas menuturkan bahwa saat ini masih ada yang belum merdeka; masih ada perang dan korban berguguran. Realitas menuturkan dengan rasa sakit hati yang paling dalam bahwa pasca 1945 di pedalaman Papua perang melawan Buta Huruf belum berakhir. 

Buta Huruf tidak mati di masa orde lama, orde baru, revormasi bahkan di revolusi mental. Sebaliknya, sudah banyak masyarakat pedalaman Papua yang kalah berperang melawan Buta Huruf. Saat ini, ketika Anda sedang membaca tulisan ini, perang antara orang-orang pedalaman Papua dan Buta Huruf sedang berlangsung. 

Buta Huruf berjuang atasnama pembodohan sedangkan orang-orang pedalaman Papua berjuang atasnama nasionalisme dan otonomi khusus. Atasnama nasionalisme dan otonomi khusus, orang-orang pedalaman Papua berjuang melawan Buta Huruf untuk menumpas pembodohan. Perjuangan itu untuk satu tujuan: hidup baru yang lebih baik. Malangnya, mereka masih kalah tidak hanya dalam jumlah pasukan perang namun juga dalam urusan yang paling krusial yakni sistem perang. Sistem yang di dalamnya mengandung strategi untuk menaklukan lawan dan aturan yang mengikat pasukan untuk patuh dan tetap gigih berjuang. 


Katage, sebuah kampung dari medan Mappi, pernah memanfaatkan sekolah sebagai model serangannya. Pasukannya terdiri dari peserta didik, remaja, dewasa dan orang tua. Di Katage sekolah didirikan pada 1992. Pada 1997-2003 Ayub Sabami ditugaskan sebagai guru SD Inpres Katage sekaligus menjadi kepala sekolah. Ia dibantu rekannya Kaitanus Mari dan Ari Bohoji. 

Merasa masih kurang tenaga, pak guru Ayub meminta bantuan Martinus Peragi dan Gerardus Kesong warga setempat untuk menjadi guru honor. Bermodalkan ijazah paket SMA dan pengalaman berasrama semasa sekolah mereka mengajar semampunya. Kedua guru honor ini mengajar selama kurang lebih tujuh tahun. Ada banyak perjuangan yang dilakukan selama kurang lebih tujuh tahun bersama pak guru Ayub. 

Peserta didik belajar membaca, menulis dan berhitung juga bercocok tanam. Mereka membuat kebun di belakang sekolah kemudian ditanami jagung, singkong, kacang panjang, cabai, sawi, nanas. “kalau mau hidup baik itu musti belajar tanam. Kalau nanti beras sudah masuk kamu sudah tau tanam padi, jangan hanya tau makan saja”, kata pak Martinus, mengenang nasihat pak Ayub kala mereka membuka kebun sekolah. 

Tahun-tahun bersama pak guru Ayub memiliki kisah kemenangan yang menyenangkan. Mereka berhasil mengalahkan Buta Huruf. Generasi-generasi pak guru Ayub yang kini telah berkeluarga terus berceritra dengan bangga bahwa mereka bisa membaca, menulis dan berhitung. Ada yang tamatan SD, ada yang SMA, beberapa gagal di perkuliahan, satu orang berhasil jadi sarjana, lulusan Universitas Cendrawasih. Pengalaman berkebun di sekolah membuka wawasan mereka. Mereka tidak hanya mengharapkan uang dari penjualan kayu gaharu namun dari sayur-sayur yang ditanam. "Anak guru, ini sudah mereka yang didikan Pak Guru Ayub waktu itu. Sekarang ini mereka berhasil. Tanam sayur lalu jual di pasar dan warung-warung makan. Kalau setelah Pak Ayub semua anak-anak hancur. Otak mati, kerja tidak tau. Hanya bikin gaya saja nomor satu,” tutur Pak Gerardus yang jadi guru honor pada masa Pak Guru Ayub.   

Tahun 2004 SDI Katage mendapat kepala sekolah baru, Pak guru Beni Obikoma. Ia menggantikan Pak Guru Ayub. Tak lama setelah Pak Ayub mutasi, Pak guru Kaitanus Mari dan Ari Bohoji tidak lagi bertugas di SDI tersebut. Pak Kaitanus pindah ke SD Inpres Sogope dan Ari ke SD Inpres Sorokia. Pak Martinus Peragi dan Gerardus Kesong pun tidak lagi diminta bantuan untuk mengajar sebagai guru honor. Pak Guru Beni Obikoma berjuang bersama peserta didik untuk melawan Buta Huruf. Hanya ia seorang sebagai guru. 

Dalam perjuangan itu ia kerap menghabiskan waktu yang cukup lama ke kota. Berbulan-bulan Pak Puru Beni meninggalkan peserta didik sendiri di medan perang, sekolah. Ia ke kota tanpa waktu yang pasti untuk kembali, pun tak pernah memberitahu urusan apa yang membuatnya lama di kota. Dalam waktu yang lama itu peserta didik akhirnya menyerah kalah dan pergi ke hutan mencari gaharu atau ke dusun sagu meramu makanan bersama orangtua mereka. 

Berbulan-bulan sekolah tiada dikunjung peserta didik. Berbulan-bulan tiada penambahan guru di SD Inpres Katage membantu Pak Beni Obikoma yang betah di kota.

Sejak 2004 hingga awal 2018 cara kerja guru di sini tidak seperti zaman Pak Guru Ayub. Sekolah mulai tidak berjalan baik. Peserta didik lebih banyak tinggal di hutan. Guru lebih banyak menghabiskan waktu di kota. Tidak ada alasan jelas yang disampaikan kepada warga kampung atau kepala kampung saat mereka ke kota. Mungkin urusan dana BOS. 

Begitulah cerita Pak Martinus Peragi sebagai kepala kampung Katage saat ini. Ia melanjutkan, kurangnya tenaga guru sejak sekolah berdiri hingga sekarang membuat banyak warga kampung yang buta huruf. Tenaga guru tidak lebih dari dua atau tiga orang untuk SDI Katage. Guru yang ditugaskan lebih banyak di kota dengan alasan yang tidak diketahui masyarakat secara pasti. 

Hubungan sekolah dengan pemerintah kampung tidak bagus. Tidak pernah ada pertemuan antara guru, pemerintah kampung dengan masyarakat untuk membahas masalah pendidikan. Ketika guru tidak berada di kampung orangtua membawa anaknya ke hutan mencari gaharu dan ke dusun sagu mencari makan.  

“Zaman kepala sekolah Pak Titus, sekitar 2016, anak-anak baru dipanggil ke sekolah menjelang ujian Nasional. Ai, anak-anak bisa kerja soal kah tidak ini.  Selama ini tidak pernah ada pelajaran, pembagian rapor juga tidak ada,” kenang Pak Martinus. 

Sebagai kepala kampung yang pernah bekerja sebagai guru honor zaman Pak Guru Ayub, Martinus Peragi menekankan bahwa harus ada kerjasama antara pemerintah kampung dengan sekolah. Misalkan ada pertemuan, aparat kampung diundang. Maksudnya, kalau sekolah membutuhkan sesuatu atau ada kekurangan di sekolah masyarakat bisa membantu perihal kekurangan. Sekolah dan pemerintah kampung bisa bekerja bersama untuk kemajuan peserta didik.

“Kami kecewa bila ada rapat di sekolah kami tidak diundang. Maksudnya agar kita bisa bahas tentang masalah-masalah di sekolah bersama. Kalau sekolah jalan sendiri, kampung jalan sendiri kita tidak maju. Selama ini juga sekolah tidak aktif baik, tidak ada rapor. Saat ujian baru guru ke kampung panggil anak-anak ke sekolah. Ini yang bikin rusak.”  

Kini Mappi sedang dalam perjuangan memberantas Buta Huruf. Rito Agawemu, bupati terpilih, menciptakan model serangan anyar lewat programnya Guru Penggerak Daerah Terpencin (GPDT). Ia bekerja sama dengan Gugus Tugas Papua UGM untuk merekrut para sarjana muda baik pendidikan maupun non pendidikan yang merasa terpanggil menjadi guru di pedalaman Mappi selama dua tahun. Para GPDT dihadirkan untuk menjalin kembali mata rantai perjuangan melawan Buta Huruf yang terputus bertahun-tahun. 

Lebih dari 300 GPDT sudah ditugaskan di kampung-kampung kabupaten Mappi berperang bersama peserta didiknya melawan Buta Huruf. Walaupun masih tetap mengalami kekurangan guru, para GPDT yang terdiri dari dua sampai tiga orang di beberapa sekolah wilayah Mappi berjuang dengan gigih bersama peserta didik didiknya melawan Buta Huruf selama dua tahun. 

Di Katage, atas nama nasionalisme, rasa merdeka otonomi khusus, dan dengan segala kekurangan; gedung sekolah; buku-buku pelajaran; tenaga pendidik berjumlah tiga orang; penggunaan standar kurikulum pendidikan yang tak jelas; nihilnya eveluasi belajar mengajar, perang melawan Buta Huruf terus berlanjut. Setiap hari guru-guru mengajak peserta didik ke sekolah, bermain, belajar dan berkebun bersama. 

Kadang-kadang guru ikut ke hutan dan kali untuk berburu, mengumpulkan kayu bakar atau memancing ikan. Segala upaya terus dilakukan agar peserta didik merasa perang melawan Buta Huruf itu mengasyikan, seasyik bermain di dusun sagu, hutan, kali dan rawa. 

“Sejak kehadiran GPDT kami merasa baik, terimakasih kepada bupati yang sudah datangkan GPDT, khususnya dua guru di sini.  Ini sekolah sudah jalan baik. Sudah mantap. Kampung sudah rame dengan anak sekolah, kemarin-kemarin itu di hutan semua. Anak-anak sudah bisa baca, kenal huruf dan tau lagu-lagu nasional,” kata kepala kampung Katage dalam sambutannya pada upacara Api Unggun 17 Agustus lalu.  


Dedi Lolansolot
Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) Kabupaten Mappi, Provinsi Papua

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar