Yamaha

Komunitas Tasawuf Underground, Merangkul Anak-anak Punk untuk Berbenah Diri

  Senin, 11 November 2019   Dhika Alam Noor
Komunitas Tasawuf Underground/Ayojakarta.com - Dhika Alam Noor

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pakaian serba hitam, bercelana jeans ketat, berbadan penuh tato dan tindikan anting di sana sini. Ciri-ciri tersebut lekat dengan sekumpulan anak muda pengemar musik punk, yang juga dijuluki sebagai komunitas underground. 

Harus diakui, stigma buruk terlanjur ditempelkan publik kepada komunitas semacam itu. Tak sedikit orang mengidentikkan komunitas underground dengan kriminalitas atau pembuat keresahan. 

Tapi, sebelum Anda terlalu jauh menilai orang lain hanya berdasar penampilan, ada baiknya menengok komunitas undergorund yang satu ini.

Namanya Komunitas Tasawuf Underground. Di sini terbukti, penampilan angker dan stigma yang dilekatkan publik pada mereka tidak dapat menghalangi niat tulus mendalami ilmu agama sembari menyebarkan nilai-nilai kebaikan. 

Komunitas Tasawuf Underground rutin menggelar pengajian di kolong jembatan layang (fly over) Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat sampai Minggu mulai pukul 14.00 WIB sampai selesai. Lokasinya persis di dekat Stasiun Tebet, Kelurahan Tebet Timur. 

Sesuai nama komunitasnya, jamaah pengajiannya merupakan anak-anak punk yang hidup di jalanan. Mereka datang dari berbagai wilayah di Jakarta untuk mengaji dan mempelajari ilmu agama.

Halim Ambiya, seorang dosen sekaligus pendiri Komunitas Tasawuf Underground menuturkan, pengajian di kolong jembatan Tebet sudah berjalan 1 tahun. Namun, pergerakan pengajian ini dimulai sejak 3 tahun lalu. Tersebar di beberapa titik seperti kawasan Gondangdia, Ciputat, dan Bintaro. 

"Sejak 3 tahun lalu, saya turun ke beberapa titik di Jakarta seperti stasiun, terminal, pasar, perempatan. Baru setahun lalu saya bikin di sini," ujarnya saat berbincang dengan Ayojakarta di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (10/11/2019).

Awalnya seperti perkumpulan biasa dengan jumlah belasan orang. Tapi lama-lama respons dari anak-anak underground cukup positif. Kini, jumlah jamaah pengajian di kolong jembatan Tebet sudah melebihi 50 orang. Mereka terdiri dari ragam usia.

"Dari situ memang kita perlu serius. Kita mesti masuk ke kolong-kolong jembatan, akhirnya reaksinya banyak," kata Halim Ambiya.

Pengajian yang dilakukan dari belajar huruf hijaiyah hingga kajian agama Islam dan akhlak. Semua dilakukan dengan cara yang menyenangkan, tidak terlalu formal sehingga lebih dimengerti oleh anak-anak yang terbiasa akan kerasnya hidup di jalanan. 

"Sebetulnya materi yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan yang diajarkan madrasah. Hanya teknik penyampaianya pasti berbeda. Kalau awal pasti saya suruh mengaji," jelasnya. 

Saat ini, mayoritas jamaah Komunitas Tasawuf Underground sudah lancar mengaji Al Quran. Mereka lebih mengetahui makna menjalani kehidupan sembari terus belajar tata cara salat dan dzikir. 

"Alhamdulilah. Semula hanya mengenal huruf hijaiyah sekarang sudah bisa baca Al Quran. Pada saat yang sama saya ajarkan hikmah tasawuf dan baca kitab tasawuf," terang Halim. 

"Ini memancing mereka untuk berbenah dan ada praktik dzikir. Praktik inilah yang melepaskan mereka dari kehidupan sebelumnya," tambahnya. 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar