'Demokrasi Dikorupsi' Jangan Bernasib Sama dengan Tragedi Semanggi

  Selasa, 12 November 2019   Dhika Alam Noor
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid/Ayojakarta.com -- Dhika Alam Noor

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Selain menampilkan foto, cerita dan memorabilia Tragedi Semanggi I, pameran bertajuk Antologi juga menampilkan dokumentasi rangkaian aksi unjuk rasa mahasiswa September 2019 lalu di depan gedung DPR/MPR RI. 

"Iya, dalam peringatan kali ini. Kami ingin mengaitkan dengan represi terhadap gerakan mahasiswa yang baru-baru ini terjadi pada bulan September," ujar Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid di M Bloc Space, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, Selasa (12/11/2019).

Demonstrasi mahasiswa bertajuk 'demokrasi dikorupsi' di depan gedung DPR itu banyak memakan korban. Aksi itu menyuarakan penolakan pengesahan RKUHP dan berbagai RUU yang dinilai kontroversial, melemahkan demokrasi dan pemberantasan korupsi. ⁣⁣

AYO BACA : Pameran Antologi, Kenangan dan Harapan untuk Generasi Kini

"Kita tahu ada sejumlah mahasiswa yang tewas dalam insiden demonstrasi. Namun negara tidak sungguh-sungguh untuk mempertanggungjawabkan hilangnya nyawa mahasiswa di September lalu," ucap Usman. 

Usman berharap, korban yang terluka maupun meninggal saat unjuk rasa mahasiswa menolak sejumlah RUU dan RKUHP itu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

"Jangan sampai peristiwa Kendari dan Jakarta, mengalami nasib yang sama seperti Tragedi Semanggi 1 dan 2 yang bertahun-tahun tanpa pertanggungjawaban negara," kata Usman. 

Pameran ini diinisiasi Koalisi Masyarakat Sipil yaitu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Amnesty International Indonesia, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

AYO BACA : Tahu Lebih Jauh Tragedi Semanggi I di Pameran Antologi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar