DPRD: Revitalisasi Bantu Seniman Biayai Perawatan TIM

  Selasa, 26 November 2019   Editor
Anggota DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga (Ayojakarta.com/Aprilia Rahapit)

MENTENG, AYOJAKARTA.COM -- Anggota DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga menilai revitalisasi Kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan salah satu upaya pemprov membantu seniman agar mendapatkan biaya untuk merawat pusat seni itu.

Hal itu dikatakannya menanggapi keluhan para seniman yang menolak pembangunan hotel sebagai kawasan komersial.

''Bukan masalah komersial atau tidak komersial. Saya katakan nanti bagaimana dia (seniman) merawat fasilitas bangunannya ini kalau tidak ada sumbernya ini. Tidak selamanya biaya perawatan (TIM) Pemda DKI yang tanggung,'' jelas Pandapotan di Taman Ismail Marzuki, Selasa (26/11/2019).

Sekretaris Komisi B DPRD DKI itu menilai revitalisasi yang saat ini dikerjakan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) tidak menganggu para seniman dalam beraktivitas karena tidak mengunakan gedung-gedung yang biasa digunakan untuk berlatih maupun pentas.

''Setelah kita lihat turun ke lapangan, lokasi yang mau dibangun gedung itu semua yang dekat dulu tempat pedagang-pedagang dulu ada di sekitaran sini. Sementara gedung induk dan gedung teater tidak ada perubahan,'' kata Pandapotan.

AYO BACA : Pastikan Kegiatan Seniman Tak Terganggu, Komisi B DPRD Tinjau Revitalisasi TIM

Menurutnya, pada 2007, rancangan utama revitalisasi TIM tidak menyediakan fasilitas hotel namun disesuaikan dengan perkembangan ekonomi sehingga pembangunan hotel yang nantinya bernama wisma TIM dipertimbangkan.

Asisten Perekonomian dan Setda DKI Sri Haryati dalam kesempatan yang sama mengatakan, pembangunan Wisma TIM yang nantinya diperuntukkan untuk umum sudah melalui hasil koordinasi antara eksekutif Pemprov DKI, PT Jakpro sebagai pengelola serta para seniman.

''Ini sudah didiskusikan ya pemprov, Jakpro, seniman TIM,'' katanya.

Diketahui, para seniman TIM menolak adanya pembangunan hotel dalam revitalisasi Kawasan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang akan dikelola oleh PT Jakpro.

Para seniman menilai dengan adanya hotel yang direncanakan berbintang lima itu maka lambat laun orientasi kawasan budaya akan tergerus menjadi kawasan komersial. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar