Yamaha

Duh, Berbulan-Bulan Disidik Baru Satu Berkas Penipuan Pialang GCG Asia yang P21

  Jumat, 06 Desember 2019   Widya Victoria
Repro

JAKARTA BARAT, AYOJAKARTA.COM -- Setelah dilaporkan dan menjalani proses penyelidikan hingga penyidikan yang menyita waktu hampir tiga bulan, penyidik Polda Metro Jaya akhirnya menyatakan berkas kasus penipuan berkedok investasi bodong dari pialang Guardian Capital Group (GCG) Asia dinyatakan lengkap atau P21.

Pelaku penipuan bernama Gunawan Wijaya telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (Kejari Jakbar) pada Kamis (5/12/2019).

Hal itu diiyakan penyidik Unit 2 Reskrimsus Polda Metrojaya, Iptu Jhonry Aritonang ketika dikonfirmasi wartawan.

“Iya, sudah P21. Ke Kejari Jakarta Barat,” ujar Iptu Jhonry Aritonang, Jumat (6/12/2019).

Namun, dia enggan menjelaskan detail proses serah terima tersangka. Ketika ditanya terkait dugaan keterlibatan pihak-pihak lain yang diduga menipu hingga puluhan miliar rupiah dengan modus pialang GCG Asia, penyidik menyebut sejauh ini baru satu orang tersangka yaitu Gunawan Wijaya.

“Pelan-pelan, penyidik masih terus mengembangkan kasus ini,” tutupnya.

Untuk wilayah Jakarta saja, dilaporkan tidak kurang dari 4.000-an orang diduga menjadi korban penipuan GCG Asia. Rata-rata korban adalah nasabah asuransi yang diperdaya untuk masuk GCG Asia dengan menggunakan mata uang dolar AS.

Salah seorang korban penipuan pialang GCG Asia yang juga melaporkan kasus ini, Bede menuding pasangan suami isteri Gunawan Wijaya dan Lenny Husein sebagai otak penipuan di Jakarta.

Gunawan diketahui adalah agen asuransi Allianz di Jakarta. Diduga, Gunawan memanfaatkan nasabah Allianz untuk digeser menjadi nasabah GCG Asia.

“Sekitar 4000-an orang di Jakarta. Beda lagi dengan yang di Surabaya,” ujarnya.

Gunawan Wijaya sudah ditetapkan sebagai salah seorang tersangka. Demikian pula dengan istrinya, Lenny Husein. Namun Lenny tidak ditahan oleh penyidik.

Bede pun mempertanyakan alasan Lenny tidak ditahan penyidik. Demikian pula, sejumlah agen asuransi yang diduga terlibat sudah diperiksa, namun dilepas lagi oleh penyidik.

Bede mencatat ada empat orang dari Money Changer Tanjung Pinang yang sempat seminggu lebih ditahan di Polda Metrojaya. Namun sudah dilepas.

Dalam kasus yang sejak awal ditangani Kanit 2 Dirkrimsus Polda Metrojaya, Kompol Ali Yusron ini, tersangka Gunawan Wijaya sudah hampir habis masa penahanannya. “Untung saja sekarang P21. Sehari lagi tak P21, kelar, bebas dia,” ujar Bede.

Bede menambahkan, selain di Jakarta, ia bersama para korban lainnya juga melaporkan pelaku di Polda Jawa Timur.

“Yang di Jawa Timur juga belum ada perkembangan penanganannya. Padahal, yang di sana lebih kakap,” ujar Bede.

Dia berharap penyidik Polda Metrojaya dan Polda Jawa Timur betul-betul serius mengusut penipuan ala pialang GCG Asia yang mengorbankan ribuan warga Indonesia itu.

“Kami menunggu dan mengikuti kinerja penyidik dalam pengusutan kasus ini terkesan lamban sekali. Semoga dengan sudah P21-nya pelaku yang di Jakarta, maka pelaku lainnya, termasuk yang di Jawa Timur segera juga ditangkap dan disidangkan,” pinta Bede.

Ia memprediksi dari kerugian yang dialami pelapor saja sudah mencapai Rp 10 miliar.

“Kami mendesak mereka semua itu ditangkap dan segera diproses hukum. Kembalikan uang kerugian para korban segera,” ujarnya.

Hal senada disampaikan, Wir, salah seorang nasabah Asuransi Prudential, yang menjadi korban GCG Asia di Jawa Timur.

Wir menjelaskan, GCG Asia ini memiliki basis terbesar di Surabaya. Untuk wilayah Indonesia, Surabaya leading dengan nasabah terbanyak. Totalnya bisa mencapai 34 ribu nasabah atau member. Bisnis bodong ini dimotori pasangan suami isteri selaku leader yakni David Hendrawan dan Rinawati.

“Saya kenal David Hendrawan dan Rinawati sebagai agent Prudential. Saya memang nasabah Prudential. Namun, Rina dan David memanfaatkan nasabah Prudential di sejumlah wilayah dan diiming-imingi dapat duit dengan ikut GCG Asia,” beber Wir.

David Hendrawan diperkirakan juga merupakan leader dari pelaku lainnya, yakni Gunawan Wijaya yang sudah ditahan di Polda Metro Jaya.

Wilayah jaringannya termasuk Jakarta, Pontianak, Tanjung Pinang, Medan, Bali, Bandung dan wilayah lainnya.

Menurut dia, Rinawati kemungkinan berkolaborasi dengan rekan-rekannya lewat money chager bodong yang berada di Tanjung Pinang.

“Rinawati adalah isteri pelaku yang juga berasal dari Tanjung Pinang. Bisa jadi, ditengarai, semua ini akal-akalan mereka saja. Akal-akalan leader, yang juga bersengaja membuat money chager bodong, agar nampak bisnis penipuan investasi ini sempurna. Ya kami hanya bisa berharap, aparat tetap setia dengan sumpah jabatannya, mengusut ini semua,” terang Wir.

Hingga kini, lanjut Wir, ribuan korban penipuan GCG Asia di Surabaya dan wilayah lain masih berupaya mencari keadilan.

Dia mengatakan, pasangan suami isteri David Hendrawan dan Rinawati ternyata juga merupakan agen perusahaan asuransi ternama, Prudential.

Sehingga dengan  memanfaatkan jaringan nasabah Prudential yang sudah ada, dengan mudah merekrut member-member baru dalam permainan ponzi sistem piramida berkedok trading forex tersebut.

Sebagaimana yang dialaminya, Wir mengatakan, dengan membonceng nama besar asuransi Prudential, yang mempunyai jaringan nasabah yang besar di Indonesia, David Hendrawan dan Rinawati sebagai Top Diamond Leader GCG Asia mampu merekrut puluhan ribu nasabah atau member hanya dalam waktu tiga bulan. Dengan total penjualan diperkirakan 126 juta dolar AS atau setara dengan Rp 1,8 triliun.

Sudah lima orang korban melaporkan ke Polda Jatim dengan kerugiannya berkisar sebesar Rp 12 miliar.

“Bagaimana kalau  sampai puluhan ribu yang melaporkan? Besar sekali angka yang diraup mereka bukan?” tantangnya.

Mereka berharaap emerintah membentuk Tim Satgas yang dapat dengan cepat dan sigap mengambil tindakan untuk menyelamatkan dana masyarakat sebesar belasan triliun rupiah itu. Sebelum dana tersebut disembunyikan atau dikirimkan para Top Leader tersebut keluar negeri melalui black market money changer (MC).

“Sampai kini praktik penipuan mereka masih beroperasi, dikarenakan lambatnya pihak aparat menjerat para pelakunya,” ujar Wir.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar