Yamaha

Generasi Milenial Pengangguran Rentan Menjadi Terorisme dan Kaum Radikalis

  Jumat, 13 Desember 2019   Widya Victoria
Akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Dianta Sebayang

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Hati-hati, ternyata tidak selamanya yang dinamakan generasi millenial itu cuek dan masa bodo. Malah, berdasarkan sejumlah data, pelaku terorisme dan radikalisme dari kalangan muda.

Akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Dianta Sebayang menjelaskan, kaum milenial pengangguran atau yang sudah bekerja tetapi dengan upah yang rendah, terbukti menjadi pelaku terorisme dan radikalisme.

Hal itu disampaikan ekonom UNJ itu ketika bicara dalam Dialog Kebangsaan bertema Generasi Milenial Menangkal Radikalisasi dan Terorisme dalam Pendidikan. Dialog Kebangsaan ini diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Adat Buru Jakarta (Format Buru Jakarta), di Hotel Puri Mega, Jalan Rawamangun No 15, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2019).

“Dari yang sudah-sudah ternyata ditemukan para pelaku bom bunuh diri, terorisme dan radikalisme itu kebanyakan adalah anak-anak muda, generasi milenial yang pengangguran. Atau mereka yang bekerja dengan upah yang kecil,” beber Dianta.

Dari sisi statistik ekonomi, jumlah generasi milenial Indonesia mencapai 55 persen lebih. Jumlah itu sangat besar dari 270 juta jiwa penduduk Indonesia.

“Dengan jumlah itu, mari kita lihat, ngapain saja generasi milenial kita selama ini? Sebanyak 53 persen ternyata bekerja. Sebanyak 14 persen masih dalam proses pendidikan atau sekolah. Dan sebanyak 18 persen mengurus Rumah Tangga. Ini kebanyak kaum milenial perempuan,” jelasnya.

Nah, ternyata dari 53 persen kaum milenial yang bekerja itu, tidak mendapatkan penghasilan yang memadai. Bahkan ketersediaan lapangan kerja yang tidak memadai juga mendorong mereka bekerja apa adanya.

“Kebanyakan generasi milenial bekerja di sektor jasa. Sebagai pelayan toko, pemasaran dan jual jasa lainnya. Dan kebanyakan mereka rentan menjadi teroris dan radikalis, karena tingkat penghasilan atau kesejahteraannya rendah,” tutur Dianta.

Kenyataannya juga, sekitar 7,7 persen generasi milenial kini mengecap pendidikan di Perguruan Tinggi. Jumlah ini, termasuk mengalami peningkatan, meski belum signifikan. Jika generasi milenial mengecap pendidikan yang berkualitas di Perguruan Tinggi, lanjut Sebayang, akan mampu menekan angka radikalisme dan terorisme.

Dia menekankan, dalam sejarah tindakan terorisme dan radikalisme yang pernah diamatinya, kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah serta tidak memiliki kesejahteraan hidup yang memadai.

“Belum pernah saya lihat orang kaya, orang yang memiliki kesejahteraan baik, yang memiliki harta benda atau aset yang banyak, melakukan bom bunuh diri atau menjadi terorisme,” ucap Dianta.

Dianta menegaskan, persoalan radikalisme dan terorisme bukanlah persoalan agama. “Tetapi lebih kepada karena persoalan pemahaman mengenai ajaran, juga dikarenakan ketidaksiapan menghadapi tantangan kehidupan,” katanya.

Terorisme dan radikalisme yang pasti merusak tatana perekonomian masyarakat dan bangsa. Menurut dia, sudah banyak contoh di negara-negara luar.

"Seperti di Timur Tengah yang banyak kelompok terorismenya, perekonomian negeri-negeri itu amburadul, hancur. Masyarakatnya jatuh dalam kemelaratan dan kemiskinan. Indeks harapan hidup sangat rendah," terangnya.

 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar