Yamaha

Ketua GAMKI DKI: Konsepsi Radikalisme dan Terorisme Jangan Dibaca Sekilas

  Jumat, 13 Desember 2019   Widya Victoria
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) Provinsi DKI Jakarta, Jhon Roy P Siregar (berbicara)

JAKARTA TIMUR, AYOJAKARTA.COM --Generasi milenial sebaiknya kembali ke pemahaman dasar jika tak mau terjebak dengan terorisme da radikalisme.

Sebab, per definisi saja, setiap konsepsi tentang radikalisme dan terorisme itu sudah tergambar maksud dan tujuannya, sekaligus bisa dipahami apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Demikian paparan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) Provinsi DKI Jakarta, Jhon Roy P Siregar ketika bicara dalam Dialog Kebangsaan bertema Generasi Milenial Menangkal Radikalisasi dan Terorisme dalam Pendidikan.

Dialog Kebangsaan ini diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Adat Buru Jakarta (Format Buru Jakarta), di Hotel Puri Mega, Jalan Rawamangun No 15, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2019).

“Saat ini, kebanyakan orang yang dinamai generasi milenial cenderung meninggalkan makna dasar dari konsepsi. Seperti konsepsi terorisme, radikalisme, pendidikan, doktrin dan lain sebagainya, hendaknya dibaca dan difahami benar, tidak hanya cukup membaca sekilas. Sebab jika difahami, maka di sana ditemukan petunjuk mengenai konsepsi-konsepsi itu sendiri,” tutur Jhon.

Dari sisi pendekatan komunikasi, lanjut pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini, kontak komunikasi dan informasi lewat media sosial cenderung memiliki kelemahan. Sebab, ada ruang-ruang kosong yang tidak bisa dipenuhi. Ada pemaknaan yang cenderung mudah diselewengkan menjadi makna lain.

Generasi milenial, hemat dia, hendaknya mengisi ruang-ruang kosong itu dengan pemahaman-pemahaman yang nyata.

"Maka pertemuan langsung, tatap muka, itu selalu lebih baik dalam membahas sebuah konsepsi, informasi atau situasi. Selain bisa dipastikan gestur dan juga makna yang genuine, juga terjadi ikatan bathin yang sehat dalam berkomunikasi,” jelasnya.

Jhon menambahkan, untuk menghindari adanya pemahaman dan pemikiran terorisme atau radikalisme lewat medsos, hendaknya generasi milenial rajin melakukan crosscheck terhadap informasi yang diperoleh.

“Jangan ditelan bulat-bulat begitu saja. Periksa dulu, kalau perlu langsung dikonfrontir atau diminta penjelasan kepada pihak yang wajib melakukan penjelasan,” tuturnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar