Yamaha

Daftar RS di Jakarta yang Memiliki Penawar Bisa Ular

  Kamis, 19 Desember 2019   Aldi Gultom
Petugas dinas pemadam kebakaran mengevakuasi ular kobra dari kawasan permukiman warga Jakasampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/12/2019). (Antara Foto/Risky Andrianto)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Baru tiga rumah sakit di Jakarta Timur yang menyediakan serum anti bisa ular.

"Hingga 18 Desember 2019, ada tiga rumah sakit penyedia serum anti bisa ular di Jakarta Timur," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Indra Setiawan, Kamis (19/12/2019), menyusul fenomena maraknya penemuan ular kobra di sejumlah wilayah permukiman warga Jakarta dan sekitarnya.

Rumah sakit yang dimaksud adalah RS Persahabatan, RS Haji Jakarta dan RS Adhyaksa. 

Namun, Indra pastikan masyarakat juga bisa mendapatkan serum anti bisa ular di rumah sakit lainnya di sejumlah wilayah Jakarta.

Di wilayah Jakarta Pusat, yang menyediakan serum antibisa ular adalah RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSPAD Gatot Subroto, RSUD Tarakan, RS Islam Cempaka Putih.

AYO BACA : Ini Tips Sederhana Cegah Ular Kobra Masuk Rumah dari Pakar Reptil

Rumah sakit lain yang juga mempunyai serum anti bisa ular adalah RSPI Sulianti Saroso, RS Pantai Indah Kapuk, RSUD Cengkareng, RS Mitra Keluarga Kalideres, RSUP Fatmawati, RSUD Pasar Minggu, RSUD Jati Padang, RS Suyoto dan RSUD Kepulauan Seribu.

Sebelumnya, pakar reptil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidiy, menegaskan selama ini ada kesalahan yang umum terjadi saat penanganan pertama korban gigitan ular kobra. Padahal pertolongan pertama di 30 menit critical point amat penting bagi keselamatan korban. 

"Kesalahan pemikiran bahwa digigit ular harus ditoreh, dikeluarkan darahnya, diikat dan dihisap. Itu sudah tidak direkomendasikan oleh WHO," ujar peneliti herpetologi itu, Selasa (17/12/2019).

Berdasarkan petunjuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) soal pertolongan pertama pada korban gigitan ular, yang benar adalah melakukan imobilisasi atau mencegah bagian tubuh korban yang terkena gigitan bergerak. Selanjutnya, korban dibawa ke rumah sakit yang memiliki anti bisa. 

Penanganan di RS pun harus hati-hati. Jika korban menunjukkan gejala fase yang lebih berat atau fase sistemik, harus dilakukan penanganan yang sesuai jenis ular penggigit. Untuk bisa kobra, bereaksi di sel saraf. 

Fenomena kemunculan kobra di sekitar permukiman warga diduga terjadi karena ular kehilangan habitat aslinya. Sehingga kobra beradaptasi dengan membuat sarang di sekitar permukiman manusia. Selain itu, ketiadaan predator alami seperti biawak dan elang juga berkontribusi atas lonjakan populasi ular berbisa tersebut.

AYO BACA : Satu Lagi Korban Dipatok Ular Kobra di Depok, Damkar Minta Warga Tenang

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar