Yamaha

Anak Marjinal Ini Dididik Ciptakan Solusi Secara Digital

  Minggu, 22 Desember 2019   Aprilia Rahapit
Sejumlah narasumber memberikan pengarahan kepada para peserta "Markoding Innovation Challenge" (Ayojakarta.com-Aprilia Rahapit)

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Sebanyak 81 peserta yang tergabung dalam 27 tim komunitas marginal berasal dari 20 sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Jakarta mengikuti ajang "Markoding Innovation Challenge".

Para peserta diminta melahirkan inovasi yang akan menjadi problem solving terkait isu di sekitar melalui aplikasi digital. "Markoding Innovation Challenge" merupakan program dari UNICEF yang berkolaborasi dengan Markoding, yang hadir untuk mengajarkan Design Thinking untuk menciptakan solusi digital yang berdampak positif bagi lingkungan.

Co-Founder Markoding, Amanda Simandjuntak mengatakan sebelum mengajarkan para siswa, pihaknya melakukan training terlebih dahulu 46 orang guru dari 20 sekolah di tingkat SMP, SMA, SMK, dan PKBM, melalui seminar inovasi.

"Kita kasih pelatihan design thinking, itu metode untuk berpikir untuk menciptakan inovasi untuk mengatasi permasalahan di sekitar mereka, mereka training dulu sehari habis itu mereka kembali ke sekolah untuk memberitakan tentang innovation challenge ini ke anak-anak," ujarnya kepada Ayojakarta, Minggu (22/12/2019).

81 peserta tersebut merupakan hasil seleksi ketat dari total 400 anak. Peserta tersebut adalah sekelompok anak yang kritis dalam menyampaikan sebuah permasalahan yang dinilai mereka pantas untuk diselesaikan dengan dukungan digital.  

"Sekitar 400 atau hampir 500 anak kita dapat itu 150 tim, dari situ kita seleksi lagi yang sekarang ini, dari 150 seleksi jadi 27 tim. Mereka ini kita seleksi berdasarkan pemahaman mereka tentang permasalahan mereka disekitarnya," kata dia.

Permasalahan paling banyak yang dikritisi para peserta adalah masalah yang mereka alami sendiri. Mulai dari permasalahan mental health, waste management, entrepreneurship, pelatihan kerja, hubungan keluarga, ketidakadilan hukum, hingga terkait rasisme.

"Mereka mendeteksi apa yang mereka alami, masalah yang benar-benar mereka alami, jadi itu di situ kita nilai apa pemahaman mereka tentang masalahnya mereka dan kreatifitasnya mereka, dan team work-nya mereka," tuturnya.

Dari sejumlah permasalahan yang mereka dapatkan, para peserta ditekankan kembali ide dan design thinking oleh para sejumlah narasumber dari berbagai kalangan.

Narasumber sekaligus sebagai volunteer yakni Putri Ayudya, podcaster Mental Health Laura Marrylin, dan narasumber lainnya yang berlatar belakang dengan mental health, waste management, filmmaker/komunitas kreatif, dan lainnya.

Rencananya, Senin (23/12/2019) akan dipilih empat tim terbaik dan akan diberikan scholarship pelatihan secara prototype mulai dari menciptakan website, aplikasi, games hingga animasi. Mereka diberi kesempatan untuk merealisasikan solusi melalui scholarship tersebut selama dua bulan dari permasalahan yang mereka dapatkan.

"Jadi dalam dua bulan kita akan kasih pelatihan itu, tiap Sabtu-Minggu. Kriteria empat tim yang lolos adalah terlihat apakah menguasai masalahnya, kreatifitas mereka membuat solusi, dan kita lihat personal anaknya juga, apakah dia bisa komitmen atau tidak, dan teamwork," ungkapnya.

Amanda berharap kegiatan ini bisa dilakukan juga di daerah lain, khususnya daerah yang terbatas aksesnya. Kegiatan ini terus digencarkan lantaran dalam waktu 10 tahun ke depan Indonesia membutuhkan 17 juta orang talent digital.

"Jadi arah kita ke sana, pemenuhan employement. Jadi sebenarnya polite edication sama design work yang mau kita tuju. Karena dengan adanya pelatihan ini kita kasih mereka bekal dan skill," tandasnya.

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar