Yamaha

Sewu Kutho

  Selasa, 14 Januari 2020   Editor
Didi Kempot

Freddie Mercury punya Bohemian Rhapsody, Rod Stewart punya I Don’t Want To Talk About It, Louis Armstrong punya What A Wonderful World, Bob Dylan punya Blowing In The Wind, Bing Crosby punya White Chistmas, Luciano Pavarotti punya Nesun Dorma maka Didi Kempot punya Sewu Kutho.

Pesona

Setiap kali  merasakan pesona keindahan terkandung pada lagu Sewu Kutho didendangkan Didi Kempot, lubuk sanubari saya niscaya tergetar sampai ambyar.

Kekaguman saya paripurna meliputi kerangka bentuk mau pun alur melodi serta struktur harmoni sekaligus syair lagu Sewu Kutho. Terus terang, rasa kagum tercampur sedih. Saya sedih sebab kenapa bukan saya yang dianugerahi Yang Maha Kasih  kemampuan menciptakan sebuah mahakarya seperti Sewu Kutho.

Ekspresi Emosi

Syair lagu Sewu Kutho merupakan bukti bahwa bahasa Jawa memiliki daya ekspresi emosi luar biasa sederhana, namun atau justru luar biasa dahsyat menggetar sukma mereka yang mengerti bahasa Jawa.

Judul Sewu Kutho atau Seribu Kota itu saja sudah gamblang melukiskan kuantitas suatu upaya jerih-payah berkelanjutan seolah tak kenal batas. Saya pribadi menganggap kemampuan lirik lagu Sewu Kutho meremas-remas perasaan hanya bisa ditandingi oleh lirik lagu Yen Ing Tawang Ono Lintang atau Jenang Gulo. Apalagi jika didendangkan oleh Didi Kempot maka saya tidak malu mengakui bahwa diri saya memang cengeng!

Faktanya memang saya tidak pernah berhasil mencegah tenggorokan tersumbat serta air mata berlinang kemudian menetes melewati pipi saya yang kebetulan kini masih belum kempot.

Bentuk dan Harmoni

Secara musikologis kerangka bentuk lagu Sewu Kutho bukan sekedar A-B-A tetapi A-x-B-A. Makna selipan x di antara A dan B masih akan saya tanyakan ke mas Didi apabila beliau sudi bertemu saya. Namun mengenai struktur harmoni Sewu Kutho saya hanya bisa geleng-geleng kepala akibat terlalu takjub.

Harmoni Sewu Kutho memang diawali Tonika namun langsung disusul Dominan-Paralel justru yang minor baru disusul Sub-Dominan lalu kembali ke Tonika sebelum sejenak berhenti sebagai koma kalimat di Dominan. Bagian B bergerak memuncak diawali landasan harmoni Sub-Dominan yang menggelincirkan diri ke Tonika-Paralel.

Melodi

Empat nada berulang pada awal Sewu Kutho merupakan ekspresi bertutur khas seni musik Jawa sama halnya dengan awal lagu Gethuk mahakarya almarhum Manthous. Alur melodi pada bagian A bergerak pada titi nada pentatonik 1-2-3-5-6. Namun untaian melodi Sewu Kutho pada awal bagian B langsung melepaskan diri dari titik nada pentatonik masuk ke ranah titi nada diatonik di mana kemudian interval nada terendah ke tertinggi melebar sampai sembilan.

Pada awal bagian B pula muncul repetisi empat nada  bertutur didukung harmoni Sub-Dominan sambil meregang interval nada terendah ke tertinggi menjadi sembilan. Suasana memuncak mengiringi lirik kalimat “Sak tenane aku ora ngapusi” secara memelas kemudian mereda pada “Isih tresno sliramu”. Lalu Sewu Kutho mengulang melodi bagian A syahdu mengiringi rintihan syair pasrah menjelang akhir “Umpamane kuwe wes mulyo. Lilo aku lilo“ dan seterusnya.

Kerinduan

Tak terbantahkan lagi bahwa Sewu Kutho merupakan mahakarya perpaduan seni-musik dan seni-sastra kebudayaan Jawa sebagai persembahan kerinduan atas kasih-sayang. Maka bangsa Indonesia yang sedang patah hati akibat angkara murka kebencian terhadap bangsa asing gegara Natuna bahkan juga terhadap sesama warga bangsa sendiri gegara Pilkada dan Pilpres mau pun korupsi yang makin merajalela melahap puluhan triliun uang rakyat, berkesempatan sejenak melipur duka-lara ketika melaras The Godfather of Broken Heart mengalunkan lagu Sewu Kutho.

Yo mung siji dadi panyuwunku/Aku pengen ngelaras Sewu Kutho./Senajan sak kedeping moto/Kanggo tombo kangen jroning dodo! Ambyaaar tenaaaan, Mas Didi!


Jaya Suprana
Penulis adalah pembelajar kebudayaan Jawa

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar