Mentan ke Markas FAO, Serukan Bantuan untuk Negara-negara Afrika dan Pasifik

  Selasa, 21 Januari 2020   Aldi Gultom
Suasana pertemuan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, dengan Deputy Director General FAO, Laurent Thomas, di kantor pusat FAO, Roma, Italia, Selasa (21/1/2020). (Dok. Humas Kementan)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mendorong Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) untuk aktif membantu negara mitra di Afrika dan Pasifik yang masih terbelakang dalam ketahanan pangan.

Permintaan itu diutarakan Syahrul saat bertemu Deputy Director General FAO, Laurent Thomas, di kantor pusat FAO, Roma, Italia, Selasa (21/1/2020).

"Indonesia selama ini telah banyak membantu negara-negara mitra di Afrika," kata Syahrul.

Indonesia, sebut Syahrul, sudah membangun training center di Gambia dan Tanzania, lalu membuat proyek percontohan pengembangan kacang kedelai di Madagaskar dan padi di Sudan. Indonesia juga mengirim bantuan traktor tangan untuk beberapa negara Pasifik seperti Fiji dan Vanuatu. 

"Indonesia memiliki banyak tenaga ahli dalam berbagai bidang yang siap bekerjasama dengan FAO dalam membantu negara-negara mitra di Afrika dan Pasifik," ungkap Syahrul. 

Dalam pertemuan itu, Mentan menyampaikan delapan poin penting sebagai posisi pertanian Indonesia. Pertama, Indonesia sebagai salah satu produsen sumber pangan terbesar di dunia mendorong kerjasama lebih erat dengan FAO untuk memenuhi pangan nasional dan dunia. 

Mentan juga mengajak FAO mengembangkan Agriculture War Room (AWR) di Indonesia. AWR berfungsi sebagai pusat kontrol monitoring dan evaluasi mobilisasi sumber daya pertanian. Mentan mengundang seluruh technical team FAO untuk membantu Indonesia. 

Dirinya ingin memastikan validitas data yang lebih kuat dan pencapaian produksi yang lebih efektif, efisien, dan berstandar Internasional, yang pada implementasinya dikawal secara intensif melalui Kostratani yang baru saja dibentuk. 

FAO diharapkan dapat berperan dalam menyeimbangkan situasi pasar produk pertanian yang cenderung diskriminatif, dan merugikan negara berkembang selaku produsen. Negara-negara importir, yang pada umumnya negara maju, menerapkan standar-standar menyulitkan dan menekan daya tawar negara eksportir. Dalam hal ini khususnya kelapa sawit asal Indonesia. 

Mentan mendukung hand-in-hand initiative yang menjadi program DG FAO yang baru, yang fokus pada program kemitraan antara negara maju dan berkembang untuk dapat maju bersama dalam berbagai aspek rantai nilai usaha pertanian.

Indonesia juga mengajak FAO untuk bersama-sama membantu negara-negara ketiga yang membutuhkan bantuan teknis, khususnya penguatan kapasitas melalui pusat-pusat pelatihan yang telah dibangun Indonesia di beberapa negara Afrika, seperti Tanzania dan Gambia.

Deputy Director General FAO, Laurent Thomas, mengatakan FAO sangat terkesan dengan inisiatif Mentan dalam pengembangan AWR. Inisiatif tersebut dinilai sejalan dengan program FAO. 

FAO berkomitmen penuh untuk mendukung Indonesia dalam pengembangan AWR dan program digitalisasi pertanian modern di Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Menteri Pertanian juga mendapatkan kesempatan untuk meninjau berbagai fasilitas data management system yang dimiliki FAO.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar