Yamaha

Wali Kota Wuhan Siap Mundur untuk Redam Kemarahan Publik

  Selasa, 28 Januari 2020   Widya Victoria
Wali Kota Wuhan, Zhou Xianwang

WUHAN, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah Wuhan dinilai bergerak laman pada hari-hari pertama krisis virus corona sehingga menyebabkan banyaknya korban jiwa.

Tak hanya itu, dampak virus ini membuat Pemerintah Wuhan harus mengisolasi kota mereka untuk waktu yang masih belum diketahui.

Dalam data terbaru dilaporkan sudah ada 2.774 pasien yang positif terkena virus corona dan sebanyak 80 orang menjadi korban tewas.

Wali Kota Wuhan, Zhou Xianwang mengakui gagal mengungkapkan informasi yang relevan di tahap awal epidemi virus corona baru pada waktu yang tepat.

Zhou yang mengenakan masker, melalui siaran televisi milik Pemerintah Tiongkok, Senin (27/1/2020), juga mengakui tidak menggunakan informasi yang valid secara memadai dalam meningkatkan pekerjaannya sebagai pejabat publik. 

Ia pun menyatakan siap mundur dari jabatannya bersama dengan sekretaris Partai Komunis Wuhan, Ma Guoqiang jika itu bisa meredam kemarahan publik atas masalah virus corona.

"Mengenai keterlambatan pengungkapan, saya berharap masyarakat dapat memahami bahwa itu adalah penyakit menular."

"Dan informasi yang relevan harus dirilis sesuai dengan hukum," katanya.

"Sebagai pemerintah daerah, kami hanya dapat mengungkapkan informasi setelah diberi wewenang," tambahnya.

Penguncian virtual telah diberlakukan di Wuhan sejak Kamis, ketika kereta api dan penerbangan dibatalkan, angkutan umum ditangguhkan dan, kemudian, sebagian besar mobil pribadi dilarang dari jalan.

Zhou mengaku siap bertanggung jawab atas krisis yang saat ini tengah terjadi di Wuhan. 

"Nama kami akan hidup dalam keburukan karena menutup pintu kota," tutur Zhou, seperti dilansir The New York Times, Selasa (28/1/2020). 

"Tapi kami percaya bahwa selama itu membantu mengendalikan penyakit, membantu menjaga keselamatan orang, kawan Ma Guoqiang dan saya akan memikul tanggung jawab apapun. 

Pernyaaan Zhou ini muncul di tengah pemberitaan bahwa jumlah kematian akibat virus telah meningkat menjadi 81 korban, termasuk kasus pertama di ibukota negara itu, Beijing. Lebih dari 2.700 telah terinfeksi, di antaranya lebih dari 400 berada dalam kondisi kritis. 

Provinsi Hainan selatan melaporkan kematian pertama pada hari Senin.

Wuhan, rumah bagi 11 juta orang, masih dikunci ketat. Kota ini dikunjungi oleh Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang, orang paling kuat kedua di negara itu, pada Senin pagi, ketika ia difoto di fasilitas medis di kota. 

Dia mengatakan kepada staf di rumah sakit Wuhan: "Saya di sini untuk menghibur Anda".

Kunjungannya menyusul kekhawatiran bahwa rumah sakit di kota itu sangat kewalahan, kehabisan tempat tidur, peralatan pengujian dan peralatan dasar. Menanggapi krisis, para pejabat membangun dua rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani peningkatan kasus tersebut.

Zhou mengatakan kepada CCTV bahwa wabah dalam skala besar tidak mungkin dipersiapkan, bahkan di kota-kota kaya. Pada hari Minggu (26/1/2020), ia memperkirakan 1.000 kasus baru akan muncul, dan 5 juta penduduk telah meninggalkan Wuhan sebelum dikunci. Ini termasuk orang-orang yang melakukan perjalanan untuk festival tahun baru bulan, serta mereka yang melarikan diri untuk menghindari virus dan penutupan yang akan datang.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar