Yamaha

Menerawang Bulan

  Rabu, 12 Februari 2020   Editor
Ilustrasi Bulan

Masyarakat Mesir Kuno dan Jepang masa kini lebih memuja matahari ketimbang bulan. 

Agama Mesir zaman Firaun punya dewa matahari yaitu Ra sementara bendera Jepang masa kini adalah lambang matahari. Maka Jepang kerap pula disebut sebagai Negeri Matahari Terbit.  Dewa utama masyarakat Inka adalah Inti sebagai dewa matahari sebagai sumber cahaya pembawa kehangatan dan pelindung umat manusia.

Bulan

Namun ada kesan yang tentu saja belum tentu benar bahwa masyarakat Indonesia lebih mengutamakan bulan ketimbang matahari. Dalam bahasa Indonesia hadir lebih banyak kata kiasan terkait bulan ketimbang matahari. Lebih banyak lagu romantis dengan judul bulan sehingga tidak ada lagu berjudul “Di Bawah Sinar Matahari Purnama” atau “Bubuy Matahari“.

Teks lagu “Di Wajahmu Kulihat Matahari“ terkesan sama sekali tidak romantis. Bahkan sang mahapujangga musik merangkap kritikus politik nan sakti-mandraguna, Erros Djarot sengaja menggubah lagu indah bukan berjudul “Andai Matahari” tetapi “Andai Bulan” Masa paling bahagia pasca pernikahan juga tidak disebut “Matahari Madu” namun “Bulan Madu”. 

Sama dengan fakta bahwa menstruasi kaum perempuan tidak disebut  sebagai “Datang Matahari”.

Bulan Purnama

Masih sulit saya mengerti kenapa wajah seorang perempuan cantik dikiaskan bak bulan purnama. Pada kenyataan wajah yang benar-benar bunder serrr sambil penuh bercak bopeng seperti bulan purnama sesungguhnya sulit dianggap cantik. Namun sama sekali tidak ada rayuan “wajahmu cantik bak matahari purnama”. 

Palang Merah di Indonesia juga disebut sebagai Bulan Sabit Merah demi menghormati populasi Indonesia yang mayoritas Islam. Sesuatu yang menjadi sasaran juga tidak disebut sebagai “matahari-mataharian” namun “bulan-bulanan”. Mengherankan kenapa ada kalender lunar tetapi tidak ada kalender solar. Atau jangan-jangan ada tapi saya tidak tahu.

Wayang Purwa

Para astronaut Amerika Serikat silih berganti mendarat di bulan demikian pula para robot Rusia beserta yang termutahir tak mau ketinggalan pesawat angkasa luar Chang’e 4 dari Republik Rakyat China. Tetapi sama sekali belum terdengar negara mana pun di planet bumi ini punya ambisi mendarat di matahari. 

Kembali ke Nusantara, legenda Wayang Purwa berkisah tentang gerhana bulan akibat bulan ditelan (sebentar) oleh Batara Kala. Sebenarnya mitologi Wayang Purwa cukup adil dengan menyatakan bahwa ada dewa matahari yaitu Betara Surya namun ada pula dewa bulan yaitu Batara Candra. Namun mohon dimaafkan apabila saya keliru namun menurut saya Batara Surya de facto lebih popular di masyarakat Jawa ketimbang Batara Candra. 

Mungkin akibat tokoh Karna sebagai punggawa Partai Kurawa paling sakti-mandraguna yang jika tidak dicurangi sebenarnya mampu mengalahkan Arjuna adalah putra sulung Kunti Nalibrata dari hubungan gaib memang bukan dengan Batara Candra tetapi Batara Surya.


Jaya Suprana
Penulis adalah pembelajar kebudayaan dunia

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar