Yamaha

Jumat Besok, Seniman #SaveTIM Kembali Gelar Silent Movement

  Kamis, 13 Februari 2020   Widya Victoria
(Repro)

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Revitalisasi TIM versi Pemprov DKI Jakarta itu hanyalah sebagai ajang pemberangusan ruang kreatif seniman.

Demikian ditegaskan koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Jhohannes Marbun atau disapa Joe, yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM.

Taman Ismail Marzuki selama setengah abad sangat populer sebagai barometer kesenian di Indonesia. Bahkan, Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta mengusulkan kompleks Taman Ismail Marzuki sebagai situs cagar budaya untuk menjaga kelestarian warisan budaya.

“Namun di saat seluruh kompleks Taman Ismail Marzuki akan direkomendasikan sebagai situs cagar budaya,  Gedung Graha Bhakti Budaya yang sangat bersejarah bagi seniman dan budayawan justru dihancurkan,” tutur Joe.

Hingga saat ini terus berlangsung pembongkaran seluruh area, juga bangunan-bangunan utama di Pusat Kesenian TIM oleh PT Jakpro atas perintah tertulis Gubernur DKI Jakarta.

Pembongkaran atas nama Program Revitalisasi TIM tersebut ditolak oleh publik seni, para seniman, budayawan dan aktivis budaya lainnya, yang telah hidup, berkarya dan turut menciptakan ruh kebudayaan dari soal kreasi hingga prestasi, reputasi seni-budaya Jakarta selama kurang lebih setengah abad belakangan.

Penolakan para seniman yang sudah berlangsung berbulan-bulan itu dilakukan dalam bentuk silent movement. Perlawanan itu didasarkan tidak disertakannya publik seni TIM dalam perencanaan revitalisasi TIM sebagai pemangku kepentingan utama Pusat Kesenian.

“Gagasan tentang revitalisasi dan ekosistem kesenian/kebudayaan yang dilontarkan pihak Pemda bisa jadi bagus maksud dan tujuannya, tapi bagaimana bentuk dan apa dasar atau visi dari yang dimaksud dua istilah itu tidak kami mengerti. Sekali lagi hal itu dikarenakan tidak dibicarakan atau meminta masukan seniman dan budayawan sebagai pemangku kepentingan,” papar Joe. 

PT Jakpro tetap saja melakukan pembongkaran yang diperkirakan akan memakan waktu dua tahun, meski sudah dilakukan pertemuan, diskusi dan mediasi oleh DPRD Provinsi DKI Jakarta. 

Bukan saja waktu dua tahun kesenian dan kebudayaan di TIM dimatikan, menurut dia, sebagian besar bahkan kehilangan pendapatan, proses pengembangan dan pembangunan kebudayaan pun diasasinasi.

“Pemberangusan ruang-ruang kreatif bagi seniman ini kami menyebutnya genosida kebudayaan,” ujarnya.

Hal lain disoroti Forum Seniman Peduli TIM adalah lahirnya Pergub No 63 Tahun 2019 yang memberi wewenang PT Jakpro untuk mengelola TIM, agar kawasan itu bisa seperti kawasan komersial lainnya yang profitable.

“Jadi sumber PAD, dan kerja kebudayaan tidak menjadi beban APBD. Dengan antara lain membangun Hotel bintang lima, tujuh lantai. Yang belakangan mereka gelincirkan terminologinya secara peyoratif sebagai wisma. Tapi esensinya tetap hotel bintang lima,” ujarnya lagi.

Joe mengingatkan, kawasan TIM sebagaimana ide dasarnya adalah pusat pergolakan dan produksi budaya, bukan komersial/finansial. Untuk negara melalui pemerintah wajib membiayai kegiatan kebudayaan itu adalah obligasi konstitusional dan kultural, bukan beban.

“Bahkan lebih tepat adalah investasi pembangunan imaterial atau infrasttukrur non-fisik sebagai sisi lain mata uang pembangunan material atau infrastruktur fisik,” katanya.

Menurut dia, masalah ini menjadi krusial dan emergensial karena Jakarta dan Ibukota yang selama ini menjadi acuan utama bagi pemerintahan daerah lainnya, khususnya dalam pembangunan kebudayaan.

“Itu terbukti pada situasi kritis serupa terjadi di semua daerah di negeri ini. Untuk itulah kami, Forum Seniman Peduli TIM, didukung oleh pekerja seni-budaya dan simpatisan akan terus melakukan silent movement sebagai penegasan kembali atas 3 tuntutan, pertama, menolak pembangunan hotel di TIM. Dua, menolak  PT JakPro untuk mengelola TIM. Dan ketiga, Cabut Pergub Nomer 63 tahun 2019,” tegasnya.

Sebagai upaya mempertahankan marwah Taman Ismail Marzuki, Forum Seniman Peduli TIM pada Jumat (14/2/22020) lusa, kembali menggelar aksi seni secara gerilya di area TIM yang meliputi: 

Diskusi Publik “Pemberangusan Ruang Kreatif Kita”. Pembicara Danton Sihombing (Ketua Plt. Dewan Kesenian Jakarta), Jhohanes Marbun (Koordinator MADYA), Abdullah Wong (Sekjen Lesbumi) dengan moderator Exan Zen. Bertempat di Gedung PDS HB. Jassin, pukul 14.00-16.00 WIB.

Musik Puisi Teaterikal “Pertunjukan Terakhir” durasi 15 menit oleh Cok Ryan Hutagaol (Teater Mandiri), Exan Zen dan Fransiscus Raranta. Bertempat di puing reruntuhan Gedung Graha Bhakti Budaya TIM, pukul 16.00-16.15 WIB.

Konferensi Pers bersama seniman dan budayawan terkemuka Al Radhar Panca Dahana, Noorca M. Massardi, Yudi Latif, Dolorosa Sinaga, Putu Wijaya, dan lain-lain. Bertempat di puing reruntuhan Gedung Graha Bhakti Budaya TIM, pukul 16.15-17.00 WIB.

Silent Action di trotoar depan TIM, pukul 17.00 – 18.00 WIB. #saveTIM Percussion “Bunyi Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Genosida Kebudayaan” di Posko #saveTIM, pukul 18.30-22.30 WIB.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar