Yamaha

PAN Anti Oposisi?

  Kamis, 13 Februari 2020   Editor
Zulkifli Hasan

Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, (Senin, 10/2/2020) yang berjudul "Dianggap Gagal, Siapa Ketua PAN Pasca Zulhas," saya tulis di alenia ke-enam bahwa "di dalam politik varian variabelnya sangat banyak. Maka, tidak ada yang mutlak. Semua kemungkinan tetap terbuka. Apalagi demokrasi di Indonesia, elektabilitas lebih sering dikendalikan oleh uang, bukan oleh integritas dan kapasitas."

Meski Zulhas adalah ketua umum PAN yang dianggap problematis, dalam kongres ia terpilih kembali. Zulhas kembali memenangkan pertarungan. Terpilih untuk kali kedua. Sampai di sini berakhirnya tradisi satu periode dan terhambatnya proses kaderisasi di PAN mulai dibincang banyak pihak.

Apa variabel paling dominan yang membuat Zulhas masih perkasa? Kekuatan uang? Atau adanya pihak ketiga, sebagaimana tuduhan Amien Rais selama ini.

Yang pasti, untuk menjadi ketua partai, termasuk PAN, biaya politiknya gak kecil. Rekonstruksi kasus Hambalang yang membongkar korupsi besar-besaran untuk biaya politik di kongres Partai Demokrat merupakan potret umum peredaran uang yang oleh rakyat dianggap gak masuk akal. Tapi, itulah yang terjadi secara umum di setiap suksesi parpol. Bahkan virus ini sudah menular ke Munas atau Muktamar Ormas. 

Hal yang juga menarik adalah mengapa calonnya Hatta Rajasa, yaitu Asman Abnur harus mundur dan suaranya diberikan kepada Zulhas, bukan kepada Mulfachri, jagonya Amien Rais. Limpahan suara Asman adalah penentu kemenangan. Ke mana suara ini diberikan, calon itu akan menang. Lagi-lagi, sebagaimana artikel saya tanggal 10 Februari lalu  alenia ke-sembilan saya katakan "kongres kali ini akan menjadi duel antara dua tokoh berpengaruh di PAN, yaitu Amien Rais dan Hatta Rajasa." Artinya, kenapa suara Asman tidak ke calonnya Amien Rais, ini semata untuk menghindari mata hari kembar di PAN.

Tulisan di atas saya kutip untuk menegaskan jawaban atas pertanyaan mengapa suara Asman Abnur, calon dari Hatta Rajasa ini diberikan kepada Zulhas, bukan kepada Amien Rais. Karena Hatta tak ingin bernasib seperti Soetrisno Bachir jika di PAN masih ada Amien Rais. Sekalipun Soetrisno Bachir adalah ketua MPP PAN, tetapi eksistensinya gak nampak karena ada nama besar Amien Rais sebagai ketua Dewan Kehormatan yang membayang-bayanginya.

Dengan mendukung Zulhas, Hatta Rajasa menjadi ketua MPP, dan tak ada lagi struktur Dewan Pertimbangan. Artinya, Amien Rais gak lagi punya posisi di PAN. Apakah Amien Rais akan sama nasibnya dengan Gus Dur saat PKB diambil alih oleh Muhaimin? 

Apapun proses yang terjadi dengan dinamika kongres PAN yang sempat berdarah-darah, Zulhas telah terpilih. Sah, karena melalui proses yang demokratis. Secara konstitusional, PAN lima tahun kedepan sepenuhnya ada di tangan Zulhas, minus Amien Rais yang selama ini menjadi bayang-bayang bagi Zulhas. Tanpa Amien Rais, Zulhas lebih bebas untuk menentukan arah kebijakan partai. Termasuk untuk tidak beroposisi. 

Dua hari setelah terpilih Zulhas deklarasi bahwa PAN tidak akan jadi partai oposisi. "PAN menganut prinsip multipartai dalam berpolitik sehingga memiliki banyak teman untuk meraih lebih banyak dukungan dari masyarakat. 

Paling tidak, kita tidak bermusuhan dengan banyak orang. Kita ini multipartai karena itu kita perlu teman banyak agar fleksibel  dalam memilih", jelas Zulhas. (Rebublika, 13/2). Nah, alasan ini yang disoal oleh publik. Apa hubungannya oposisi dengan permusuhan? Bukannya oposisi itu bagian yang substansial dari tugas DPR untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Tanpa oposisi, negara akan menuju ke otoritarianisme. Karena gak ada sparing partner yang mendorong pemerintah bekerja lebih terukur dan terkontrol. Jadi, menjadi oposisi bukan untuk cari musuh bung.

Sebaliknya, PPP dan PBB malah kehilangan banyak kursi dan suara karena salah hitung ketika bergabung dalam koalisi pemerintahan. Berbeda kondisinya dengan PKB yang justru melimpah suaranya ketika mendukung Ma'ruf Amin jadi Cawapres. PAN tentu beda karakter pemilihnya dengan PKB. 

Yang menarik bukan pernyataan Zulhas terkait deklarasinya untuk tidak beroposisi. Zulhas gak mungkin gagal paham. Zulhas sadar ketika menarasikan pilihan politiknya itu. Justru yang menarik: apa sesungguhnya yang terjadi di balik pernyataan Zulhas itu? Spirit dan semangat apa yang melatari lahirnya pernyataan Zulhas itu? Pesan apa yang ingin disampaikan Zulhas melalui pernyataannya itu? Apakah ada kaitannya dengan ucapan "terima kasih" Zulhas kepada Pak Jokowi yang disampaikannya segera setelah selesai kongres? Apakah ini semua ada hubungannya dengan pemanggilan Zulhas oleh KPK akhir-akhir ini? Biarlah publik yang menilai. 

Rakyat hanya berharap PAN kedepan lebih baik dan lebih independen dalam setiap keputusan politiknya. 


Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar