Polisi Bongkar Klinik Aborsi Ilegal di Paseban, Tersangkanya Residivis

  Jumat, 14 Februari 2020   Aldi Gultom
Ilustrasi (Media Indonesia)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Klinik aborsi ilegal di wilayah Paseban, Jakarta Pusat digerebek polisi pada 11 Februari 2020. 

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya sudah menangkap tiga orang tersangka yang bekerja di klinik tersebut, yakni MM alias dokter A, RM, dan SI.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, mengungkapkan, setiap tersangka memiliki peran berbeda. Dokter A alias MM merupakan dokter lulusan sebuah universitas di Sumatra Utara. Meski berprofesi dokter, dia belum mempunyai spesialis bidang tertentu. 

MM berperan membantu para pasien untuk menggugurkan janinnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tercatat sudah 1.632 pasien yang mendatangi klinik aborsi ilegal itu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 903 pasien telah menggugurkan janinnya.

"Dia (MM) ini memang dokter, pernah menjadi PNS di Riau tetapi karena desersi enggak pernah masuk, dia dipecat," ungkap Yusri, Jumat (14/2/2020).

MM pun pernah terjerat kasus serupa di Polres Bekasi. Dia sempat divonis tiga bulan penjara terkait kasus praktik aborsi ilegal.

Sementara tersangka RM berprofesi sebagai bidan. Dia bertugas mempromosikan praktik klinik aborsi itu. 

"Dia yang mempromosikan melalui website, dia juga calo," jelas Yusri.

Tersangka SI merupakan karyawan bagian pendaftaran pasien di klinik aborsi ilegal itu. Dia juga residivis kasus praktik aborsi ilegal.

Selama 21 bulan beroperasi, klinik aborsi ilegal itu telah meraup keuntungan hingga Rp 5,5 miliar. 

"Total selama 21 bulan, pengakuan (tersangka) hampir Rp 5,5 miliar keuntungan yang didapat. Padahal, klinik ini tanpa izin," tutur Yusri.

Menurut Yusri, dokter yang membuka praktik aborsi ilegal itu mematok harga yang berbeda terhadap setiap pasien yang datang kepadanya. Tersangka dokter A alias MM mematok harga Rp 1 juta untuk menggugurkan janin usia satu bulan. Harga Rp 4 hingga 15 juta untuk menggugurkan janin berusia di atas empat bulan.

"Tarif ada (untuk janin berusia) satu bulan, dua bulan, tiga bulan, dan seterusnya. Janin usia sebulan tarifnya Rp 1 juta, janin dua bulan tarifnya Rp 2 juta, janin usia tiga bulan tarifnya Rp 3 juta. Di atas usia tiga bulan, tarifnya Rp 4-15 juta," ucap Yusri.

Tiga tersangka itu dikenakan Pasal 83 Juncto Pasal 64 UU 36/2014 tentang Tenaga Kesehatan dan atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran dan atau Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU 36/2009 tentang Kesehatan Juncto Pasal 55, 56 KUHP. Ancaman hukumannya di atas 10 tahun penjara.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar